Mengenal Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian

Filsafat Bahasa Biasa merupakan aliran yang menentang pemikiran aliran Linguistik-Struktural Saussurian. Filsafat Bahasa Biasa melihat bahasa bukan sekadar alat komunikasi tetapi juga merupakan persoalan penggunaanya yang terkonteks dalam kehidupan masyarakat pemakai bahasa. Oleh karena itu, dalam teori Filsafat Bahasa Biasa terdapat istilah tata permainan bahasa yang dimaknai sebagai upaya penggunaan bahasa oleh komunitas (guyup tutur) tertentu dengan menggunakan kaidah atau gaya yag disepakati dalam komunitas tersebut. Sebagai contoh, bahasa yang dipakai dalam periklanan tentu harus persuatitf sehingga berbeda dengan bahasa dalam karya sastra. Atau, bahasa yang digunakan dalam makalah, karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi memiliki aturannya tersendiri. Penggunaan aturan-aturan yang disepakati dalam lingkup tertentu itulah yang disebut sebagai tata permainan bahasa. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa tata permainan bahasa adalah segala bentuk ungkapan bahasa yang sesuai dengan konteks (ranah) masyarakat penggunanya dan merupakan suatu cerminan nilai dan aturan tertentu (Wibowo, 2018: 12). Di sisi hal itu, Filsafat Bahasa Biasa menfokuskan diri pada bahasa biasa atau bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang terkonteks dengan kehidupan penutunya, sebagai ruang lingkup (scope) pembicaraannya.

Berbeda halnya dengan filsafat bahasa biasa, aliran Linguistik-Struktural Saussurian melihat bahasa sebagai sebuah unsur yang terlepas dari kehidupan penuturnya. Dengan perkataan lain, linguistik struktul sausurian melihat bahasa sebagai hal yang terbalik atau tidak terkonteks dengan kehidupan para penuturnya, sebagaimana dijelaskan dalam Filsafat Bahasa Biasa. Dalam pernyataan lain, lienguistik struktural menganggap bahasa hanya sebagai gejala empiris, yang identik dengan gejala alam biasa, yang memiliki struktur dan sistemnya sendiri, dan karena itu sama sekali tidak terkonteks dengan kehidupan manusia (Wibowo, 2018: 20).

Pencetus aliran filsafat bahasa biasa bernama Ludwig Wittgenstein, seorang profesor (guru besar) Filsafat Bahasa di Universitas Cambrige London, Inggris. Beliau memiliki banyak murid, akan tetapi yang mengikuti jejaknya hanya satu orang, yakni Langshaw Austin. Ia berhasil merumuskan teori-teori tentang ontologi dan epistemologi dari aliran Filsafat Bahasa Biasa yang kemudian diaplikasikan oleh muridnya, Austin. Sehingga, sampai hari ini sering kali yang dikenal sebagai pencetus aliran Filsafat Bahasa adalah Wittgenstein dan Austin. Dari situlah, cikal-bakal Filsafat Bahasa Biasa yang di Indonesia sendiri belum terlalu dibahas secara luas. Akan tetapi, jika melihat dan membaca buah pikiran Dr. Wahyu Wibowo melalui buku-buku yang berhasil ditulisnya, sebenarnya di Indonesia sendiri sudah ada yang mengupas dan mengulas tentang aliran Filsafat Bahasa Biasa. Memang agak sulit diterapkan di sekolah-sekolah, sebab aliran lingusitik-struktural Sausurian sudah lebih dahulu meracuni pikiran-pikiran manusia terdidik Indonesia, sehingga tentu saja sulit untuk dikembangkan.

Sementara itu, aliran Linguistik-Struktural Sausurian, seperti yang dikenal di dunia pendidikan di Indonesia, misalnya tentang “bahasa baku” dan “bahasa nonbaku” atau “kalimat baku” dan “kalimat nonbaku” adalah bentuk hegemoni (dominasi) aliran Linguistik-Struktural Saussurian dalam kehidupan pendidikan kita (Wibowo, 2018: 22). Sesuai dengan namanya, pencetus aliran ini adalah Ferdinan de Saussure, seorang dosen linguistik Universitas Jenewa yang kemudian dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern berkebangsaan Swiss.

Harus kita akui, baik aliran Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian secara ontologis (hakikat) memang tidak dapa dipertentangkan, karena saling berbeda pijakan. Akan tetapi, dari segi epistemologi, kedua lairan ini mengindikasikan pertentangan tajamnya (Wibowo, 2018: 20-21). Oleh karena itu, Saussure dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern, sedangkan Wittgenstein dikenal sebagai Bapak Filsafat Kontemporer (Wibowo, 2018: 21).


Referensi
Wibowo, Wahyu. 2018. Komunikasi Kontekstual: Kontruksi Terapi-Praksis Aliran Filsafat Bahasa Biasa. Jakarta: Bumi Aksara.


==========
Author:
ariesrutung95

Cerita Benteng Ponto - Manggarai Barat

Dahulu kala di sebuah kampung, Wae Wene, hiduplah beberapa warga yang bekerja sebagai nelayan. Pada suatu hari, ada seorang nelayan menyusuri sungai untuk memancing. Ketika ia sedang menunggu ikan memakan umpan pancingannya, tiba-tiba seekor belut pendek (dalam bahasa Manggarai disebut Tuna tompok) menyambar umpannya. Seketika itu juga sang nelayan langsung menarik pancingannya dan menangkap belut tersebut. Betapa kagetnya ia melihat belut yang ditangkapnya itu karena sangat besar (kira-kira seukuran paha orang dewasa). Karena tubuh belut yang licin dan ukurannya yang terlalu berat, sang nelayan mengalami nasib sial, belut itu terlepas dari genggamannya. Karena hari sudah sore, sang nelayan pulang tanpa seekor pun ikan yang berhasil ditangkap.

Sesampainya di rumah, sang nelayan menceritakan belut yang hampir ditanggkapnya kepada beberapa tetangga terdekat. Karena penasaran, mereka bersepakat untuk menangkap belut tersebut. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, sang nelayan bersama dua warga lainnya beranjak menuju kali. Sesampainya di kali, ketiganya langsung menurunkan tali pancing masing-masing. Tiba-tiba belut menyambar pancingan mereka. Tetapi, belut yang tertangkap bukanlah belut seperti yang diceritakan. Karena tidak sesuai, belut yang mereka tangkap dilepaskan kembali.

  “Bukan ini yang kami cari,” kata salah seorang pemancing.

Hari sudah hampir sore, tetapi belut yang diidamkan belum juga tertangkap. Karena sudah mulai lelah, ketiganya memutuskan untuk bermalam di atas perahu kecil alias sampan. Sambil menunggu belut menyambar umpan mereka, mereka bercerita di atas perahu. Beberapa menit kemudian, ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba pancingan salah seorang nelayan disambar-tarik. Rupayanya, itu adalah belut yang mereka cari. Dua orang nelayan lainnya ikut memantu menangkap belut tersebut. Benar saja, belut yang mereka cari berhasil ditangkap. Karena terlalu senang, tanpa pikir panjang mereka menepi ke daratan untuk mencari tempat peristirahatan sekaligus membuat perapian untuk memasak belut itu.

Setelah matahari sudah terbit, mereka bersiap-siap untuk pulang. Belut yang ditangkap kemudian dipotong-potong dan dibagi-bagi, sebagian lainnya dijadikan sarapan pagi. Beberapa menit setelah memakan daging belut tersebut, ketiga orang itu menjadi mabuk. Menurut adat orang Manggarai, belut yang memiliki ciri-ciri fisik pendek dan besar merupakan penjaga sungai. Jadi, belut yang berhasil mereka tangkap tersebut merupakan penjaga sungai tempat mereka memancing. Adalah hal yang sangat pantang jika siapa saja membunuh belut tersebut dan pasti akan menuai karma.

Karena sudah mabuk, mereka memutuskan untuk pulang. Daging-daging belut itu berubah menjadi keris. Di atas perahu, ketiga nelayan tersebut berencana pergi ke Bima, salah satu wilayah yang penghuninya pernah menyerang dan menguasai hampir seluruh wilayah Manggarai. Tujuan mereka ke bima adalah untuk membalas dendam (perang). Sesampainya di Bima, yang menurut pikiran ketiga nelayan tersebut adalah Bima, tertapi ternyata adalah kampung tempat mereka tinnggal.

Karena sudah marah, ketiganya langsung turun dari perahu dan membunuh semua warga yang ada di kampung itu. Anak dan istri mereka ikut terbunuh. Melihat kejadian itu, seorang perempuan hamil melarikan diri dan bersembunyi di bawah rumah kerang yang berukuran sangat besar (cukup untuk menutupi tubuhnya). Setelah semua terbunuh, ketiga nelayan itu baru sadar dan betapa kagetnya mereka melihat anak dan istrinya sudah dibunuh. Karena kecewa, ketiganya memutuskan untuk saling menikam. Begitulah, ketiganya juga ikut mati di kampung itu.

Setelah merasa tak lagi terdengar suara, perempuan hamil yang bersembunyi di dalam kerang pelan-pelan mendorong rumah kerang itu dan melarikan diri. Dalam pelarian itu, perempuan hamil tersebut akhirnya mendiami salah satu wilayah di Manggarai (yang hari ini termasuk ke dalam kabupaten Manggarai Barat) yakni Nangalili. Dari perempuan tersebutlah cikal-bakal manusia-manusia penghuni Nangalili.

Hari ini, kerang yang dijadikan rumah persembunyian perempuan hamil tersebut masih ada dan oleh warga setempat dijadikan bahan baku pembuat kapur untuk sirih-pinang, tetapi oleh warga setempat kemudian dijaga. Mereka membuat akses menuju bukit tempat di mana kerang itu berada dengan membangung tangga menuju bukit.


===========
Author:
ariesrutung95

Bahasa Ibu pada Generasi Milenial

Bahasa ibu merupakan bahas pertama yang dipakai oleh manusia sebagai alat pemersatu (dimaknai: alat komunikasi), baik dalam lingkup keluarga maupun dalam suatu wilyah-sebaran bahasa tersebut. Bahasa ibu yang masing-masing kita kuasai/miliki hari ini mempunyai masa hidup. Ada yang tetap eksis karena penuturnya setia menjaga dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, ada pula yang mulai mengalami erosi dan tergeser. Bahasa yang berpenutur sedikit berpotensi cepat mengalami pergeseran terutama karena pengaruh bahasa kedua, yaitu bahasa nasional. Tuntutan pekerjaan, proses globalisasi, pengalihan fungsi lahan, faktor ekonomi, dan inteferensi suatu bahasa mayoritas cenderung menjadi faktor penyebab bergesernya suatu bahasa. Artinya, terdapat hubungan antara pemakai (penutur) suatu bahasa dengan lingkungannya, bahasa dengan perkembangan dunia terutama teknologi, bahasa dengan bahasa lain, dan bahasa dengan pembangunan. Lingkungan memiliki andil terhadap eksistensi suatu bahasa tertentu.

Di Indonesia, perkembangan bahasa ibu mengalami kompetisi dengan pemakaian bahasa nasional, bahasa Indonesia. Bentuk persaingan yang paling nyata yakni tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang menuntut (terutama dalam dunia pendidikan) agar individu terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kontadiksi dari hal semacam ini adalah bahasa ibu merupakan kekayaan budaya daerah yang harus dijaga. Hal ini memberikan tawaran kepada pemakai bahasa atas pentingya penguasaaan kedua bahasa tersebut. Bahkan lebih ekstrim lagi, masyakat Indonesia yang rata-rata adalah dwibahasawan dituntut bisa berbahasa asing agar dapat bersaing di dunia global, bahasa Inggris misalnya, sehingga menjadi multibahasawan.

Persoalan di atas memberikan saya keyakinan bahwa masyarakat indonesia tidak betul-betul multibahasawan atau dwibahasawan, sebab pengetahuan kita tentang satu bahasa tertentu hanyalah awang-awang. Atas dasar ini pula, saya berkeyakinan bahwa aspek kuantitas tanpa kualitas penutur suatu bahasa tidak menjamin bahasa tersebut bertahan dari pergeseran hingga kepunahan. Konsep dwibahasawan atau multibahasawan merupakan suatu kemampuan, pemahaman, dan keterampilan. Jika pengetahuan kita terhadap suatu bahasa tidak cukup, pemakaian suatu bahasa cenderung melihat konteks dan tidak konsisten, cenderung beralih kode dan bercampur kode, bagaimana mungkin eksistensi bahasa itu terjaga. Sejalan dengan itu, Saussure dan Barker dalam Mbete (2008: 8) mengatakan, bahasa itu harus kukuh berada dalam kognisi penuturnya dan harus digunakan secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Waktu dan usaha manusialah yang menentukan kelestarian sebuah bahasa daerah. Apa pun yang digunakan oleh generasi tua hanya semata-mata untuk mempertahankan bahasa daerahnya agar tetap lestari dari ancaman kepunahan (Rahardjo, 2004: 159). Semakin kita gigih mempertahankan suatu bahasa, semakin kuat pula penyatuan bahasa itu dengan pengetahuan kita. Selain itu, dwibahasa atau multibahasa bukanlah suatu hal yang penting karena pengetahuan kita terhadap masing-masing bahasa itu tidak optimal. Selalu ada interferensi dalam penggunaan masing-masing bahasa itu, terutama dalam pergaulan atau lingkungan di mana kita beraktivitas.

Memahami bahasa bukanlah hal yang mudah, kendati kita mengeklaim diri sebagai dwibahasawan atau multibahasawan. Pemahaman kita terhadap bahasa itu hanyalah sebatas pemahaman sebagai alat komunikasi yang didasarkan pada konteks, misalnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia hanya ketika bertemu dengan orang yang tidak sebahasa ibu dengannya. Akan tetapi, peggunaan bahasa itu secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial-budaya seperti yang dikutip Mbete di atas kiranya hingga hari ini belum bisa dilabeli kepastian.

Kasus seperti di atas sering dialami oleh masyarakat yang bermigrasi, mengenyam pendidikan di luar daerah asalnya, atau dominasi salah satu bahasa tertentu karena lingkungan menuntutnya demikian, misalnya kasus bahasa suku Aborigin. Di perguruan tinggi, komunitas yang terbentuk mempunyai latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi secara sempurna, dipakailah sebuah bahasa yang sama-sama dianggap dapat menyatukan segala kepentingan. Dalam konteks Papua yang beragam bahasa ibu, bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia. Betapa tidak dapat dibayangkan, jika seseorang masuk ke dalam lingkungan yang sama sekali tidak mempunyai penutur sebahasa dengannya, bukan hal mustahil bahasa ibunya (dimaknai: bahasa daerah) mengalami erosi karena tidak pernah dituturkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sangatlah benar pandangan yang dikemukakan oleh Saussure dan Barker di atas. Eksistensi sebuah bahasa tidak ditentukan oleh seberapa banyak penutur, tetapi seberapa sering individu menggunakan bahasa itu dalam komunikasi sehari-hari. Hal yang tidak kalah penting adalah pengetahuan penutur atas bahasa ibunya.


===========
Author:
ariesrutung95

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini belum sepenuhnya efektif. Hal ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap literasi. Kemahiran literasi mengantarkan sesorang untuk mengetahaui dan menyadari kebutuhan informasi bagi dirinya, mengetahui sumber-sumber informasi yang dapat diakses, terampil mengakses informasi yang dibutuhkan, dan terampil memanfaatkan informasi yang telah diperoleh untuk menghasilkan gagasan atau karya baru yang bermanfaat.

Pemanfaatan informasi dapat dilakukan untuk membangun gagasan baru yang lebih utuh atau untuk kepentingan-kepetingan praktis lainnya. Maksud ini dapat diwujudkan jika individu atau masyarakat memiliki kesadaran potensi diri dan pemanfaatannya infrastruktur teknologi modern secara positif. Pribadi ini menghindari pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi sebagai ruang obrolan yang sangat narsis, konsumtif, dan terkesan hura-hura. Teknologi ini seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk berbincang menu sarapan pagi, aktivitas wisata pribadi atau keluarga, dan reuni, tetapi digunakan sebagai ruang-ruang diskusi yang cerdas untuk pemberdayaan diri.

Dalam konteks menulis, setiap tulisan dibuat bukan sekadar ekspresi dari penulis itu sendiri, melainkan bentuk komunikasi penulis agar para pembaca atau penikmat tulisannya juga mampu menginterpretasi (menilai) apa yang dilihatnya. Jika tulisannya itu tidak terkonteks dengan kehidupan nyata atau fakta empirisnya tidak mendukung, maka pembaca diharapkan dapat memberikan penilaian atas sesuatu yang dibacanya. Sehubungan dengan itu, setiap wacana selalu mengandung niat, keteladanan, dan efek dari subjek penyaji wacana terhadap individu atau masyarakat yang menikmatinya. Ketiga hal ini jika dikaitkan dengan konsep tindak tutur komunikasi, maka kita akan menemukan istilah lokusi, ilokusi, dan perlokusi (Wibowo, 2015)

Untuk mendukung kompetensi literasi secara produktif dan kreatif, blog memberikan ruang yang sangat besar bagi setiap individu yang ingin mengaktualisasikan dirinya dalam dunia tulis-menulis. Blog adalah salah satu media yang dapat dijadikan sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan literasi baca-tulis. Lebih dari itu, blog dalam skala yang lebih besar merupakan media yang dapat dipakai untuk mengembangkan literasi teknologi yakni keterampilan menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Lihat saja, hari ini informasi yang kita dapat sebagian besar disebarluaskan melalui blog. Di samping  itu, jika mata kita tidak tertutup terhadap dunia digital, banyak orang yang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan.

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi
Hadirnya media blog akan sangat mempengaruhi kemapuan individu yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam berliterasi. Di dalam blog, setidaknya seseorang akan memahami apa itu literasi baca-tulis, literasi digital, literasi informasi, literasi internet/jaringan, literasi komputer, literasi media, dan literasi teknologi. Ketujuh jenis literasi itu sudah terkandung di dalam blog. Untuk memahaminya, berikut akan dijelaskan secara berturut-turut.

Literasi Baca-Tulis
Secara sederhana, literasi baca-tulis diartikan sebagai melek aksara atau melek huruf. Literasi baca-tulis merupakan kemampuan untuk memahami isi teks tertulis (tersurat maupun tersirat) dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial (KBBI Luring Edisi V).

Bagi seorang blogger-pemula, kesalahan dalam menulis adalah hal yang biasa, bahkan akan diaggap sah-sah saja jika masih belum terlalu memperhatikan aturan-aturan penulisan. Kesalahan selalu mutlak mengambil bagian dalam keberhasilan atau kesuksesan sebuah tulisan pada blog. Dengan memadukan metode feedback (peer feedback, teacher feedback, dan self feedback) diharapkan dapat membantu blogger-pemula dalam meningkatkan kemampuan menuangkan ide atau gagasannya melalui tulisan. Keterbacaan sebuah tulisan bukan sepenuhnya dibebankan kepada penulis pemula, melainkan dibantu oleh kemampuan memahami dari para pembaca. Artinya, kemampuan seorang pembaca untuk memhami maksud yang ingin disampaikan penulis merupakan suatu keharusan, sehingga antara penulis dan pembaca saling membutuhkan. Dengan demikian, feedback adalah cara yang paling efektif dalam meningkatkan mutu tulisan.

Literasi Digital
Literasi digital merupakan suatu keahlian yang bertalian dengan penguasaan atau pemaanfaatan sumber dan perangkat digital. Riel (2012: 3) berpendapat bahwa literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari peranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu, Bawden (2001) mengemukakan bahwa literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Salah satu peranti digital yang dipakai untuk mengakses dan meyebarluaskan informasi adalah blog. Melaui blog yang dipadukan dengan jaringan/internet, seseorang dapat mengakses segala informasi yang dibutuhkannya dengan sangat cepat. Seseorang yang membutuhkan informasi mengenai cara menulis yang baik, blog selalu berandil memberikan alternatif bagi pengakses. Kemampuan seseorang memahami informasi yang dimuat melalui blog, menyadurnya menjadi informasi yang baru, dan menyebarluaskan kembali adalah kemampuan dalam memaknai literasi digital. Literasi digital merupakan gabungan dari beberapa bentuk literasi, yaitu literasi komputer, literasi informasi, literasi teknologi, literasi visual, literasi media, dan literasi komunikasi (Martin, 2008).

Blog memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk mengakses, memilih, dan memahami berbagai jenis informasi yang berguna bagi peningkatan taraf hidup dan kehidupannya. Selain itu, blog juga memberikan ruang bagi seseorang untuk berpartisipasi dalam menyuarakan aspirasi, perspektif, dan opininya kepada khalayak ramai.

Literasi Informasi
Literasi informasi dapat diartikan sebagai keahlian dalam mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan (Verzosa, 2009 dalam Sitti Pattah, Literasi informasi: peningkatan kompetensi informasi dalam proses pembelajaran). Saya menjabarkan apa yang disampaikan oleh Doyle dalam Apriyanti (2010: 11) dengan mengaitkannya dengan aktivitas bloging. Individu yang memiliki kemahiran terhadap literasi informasi, sekurang-kurangnya ia mampu:

Pertama, menyadari kebutuhan informasi. Artinya, seseorang menyadari betapa minimnya pengetahuan yang dimilikinya sehingga ia merasa apa yang diketahuinya belumlah cukup. Orang semacam ini tahu bahwa dirinya tidak mengetahui apa pun. Seorang bloger atau narablog harus memiliki sikap seperti ini. Tulisannya akan mencerminkan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Jika blog yang dibangun bertujuan untuk membagikan pengetahuan tentang komputer, maka pastikan blogernya mempunyai pengetahuan lebih tentang dunia komputer. Jangan sampai artikel yang dihasilkan adalah hasil aktivitas plagiat.

Kedua, menyadari informasi yang akurat dan lengkap merupakan dasar dalam membuat keputusan yang benar. Orang yang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai suatu hal cenderung memberikan pertimbangan terhadap informasi yang diterimanya berkali-kali. Apabila informasi itu tidak sesuai dengan pengetahuannya, mengonfirmasi adalah cara agar kebenaran informasi itu terkuak. Semakin banyak ia mengetahui, semakin baik pula keputusan yang diambilnya. Menulis artikel dengan latar belakang pengetahuan jaringan yang luas merupakan daya dukung bagi seorang bloger dalam membagikan pengetahuanya kepada para pembaca.

Ketiga, mampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial dari suatu informasi. Pada tataran ini, jika seseorang memiliki pengetahuan lebih mengenai informasi yang didapatnya, setidak-tidaknya ia bisa membedakan mana sumber informasi yang terpercaya, informasi yang dibaluti etis, dan mana informasi yang mengandung subjektivitas.

Keempat, mampu membangun strategi pencarian yang tepat. Dalam mencari informasi, individu yang yang mempunyai pemahaman lebih tentang mengakses informasi tertentu akan sangat cepat memperoleh suatu informasi baru, yang viral dan up to date, karena ia tahu dan paham cara memperolehnya. Bahkan bisa jadi informasi itu sebelum viral, ia sudah terlebih dahulu membaca atau melihatnya. Dengan perkataan lain, ia selangkah lebih maju dari orang lain.

Kelima, mampu mengakses berbagai sumber informasi termasuk teknologi dasar lainnya. Dengan pengetahuan yang baik tentang teknologi, informasi apa saja bisa ia peroleh. Seperti yang sudah saya singgung di poin sebelumnya, ia selalu selangkah lebih maju dari orang lain. Sebelum informasi itu dikonsumsi publik, mungkin saja ia adalah orang pertama yang mengetahuinya, bahkan lebih mungkin lagi informasi itu dipublikasikan olehnya.

Keenam, mampu mengevaluasi informasi, mampu mengelola informasi untuk mengaplikasikan/mempraktikkannya. Tingkat pemahaman kita terhadap sesuatu dapat dijadikan parameter dalam mengevaluasi dan megelola sesuatu sehingga dapat diaplikasikan. Misalnya, mencari informasi yang memuat cara membuat blog disertai dengan gambar, tetapi hanya informasi yang dapat dipahami yang bisa kita aplikasikan, yang bisa kita ikuti langkah-langkahnya.

Ketujuh, mampu mengintegrasikan informasi yang baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya. Di era digital, informasi berkembang begitu pesat, teknologi komputer misalnya. Memahami komputer di abad 20 akan berbeda dengan komputer yang eksis di abad 21. Di sinilah kemampuan kita untuk mengintergrasikan pengetahuan lama dengan hal baru yang kita ketahui. Artikel mengenai dasar-dasar komputer yang ditulis berdasarkan perkembangan pada abad 20 perlu kiranya direvisi, disesuaikan dengan pengetahuan yang berkembang hari ini. Pengetahuan baru dalam dunia bloging harus mampu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah pernah kita dapat;

Kedelapan, mampu menggunakan informasi dengan kritis dan untuk menyelesaikan masalah. Jika seseorang mengalami masalah dengan komputer pribadinya, misalnya, berbekal informasi yang pernah ia terima atau informsi yang ia cari, masalah yang dihadapi bisa diatasi.

Literasi Internet/Jaringan
Menurut Doyle,  literasi internet/jaringan merupakan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan teori dan praktik dalam hubungannya dengan internet sebagai medium komunikasi dan pengelolaan informasi. Literasi internet yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas komunikasi, pencarian informasi dan sejenisnya melalui medium internet guna memenuhi kebutuhan yang dimungkinkan terjadi hanya bila seseorang telah memahami literasi komputer (Mudjiyanto, 2012).

Dari pengertian di atas dapat saya katakan bahwa pemahaman kita terhadap literasi teknologi, literasi informasi, dan lain-lain bersumber dari pemahaman kita mengenai literasi komputer dan jaringan/internet. Leksikon download (mengunduh) dan upload (mengunggah) merupakan leksikon yang paling sering kita temuai ketika kita berhubungan dengan jaringan internet. Sebagai contoh, seorang blogger pasti paham dengan kedua leksikon ini, baik itu mendefinisikannya maupun konteks pemakaiannya dalam aktivitas blogging. Memublikasikan tulisan diblog adalah salah satu contoh kegiatan meng-upload, sedangkan mengambil materi yang diunggah ke blog adalah jenis kegiatan men-download. Kemampuan kita mempraktikkan kedua istilah di atas merupakan bentuk pemahaman kita terhadap literasi internet/jaringan.

Lebih luas lagi, literasi jaringan berbicara mengenai intekoneksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia luar, pulau dengan pulau, negara dengan negara, benua dengan benua secara maya. Tentu saja ini dikendalikan oleh manusia.

Literasi Komputer
Literasi komputer merupakan kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pemahaman dasar tentang perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk memecahkan masalah atau mengakses informasi (KBBI, 2015). Dengan demikian, seseorang yang memiliki kemahiran dalam bidang komputerisasi seharusnya menguasai konsep dasar hardware dan software. Sama halnya dengan literasi jaringan, literasi komputer menuntut individu untuk dapat mendiagnosa masalah-masalah komputer, semisal ketika kompuer tidak memiliki tampilan. Ketepatannya dalam memberikan diagnosa merupakan langkah awal bagi individu agar dapat memberikan solusi yang tepat.

Di era digital ini, akan sangat disayangkan jika seseorang hanya mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer. Mestinya, seorang user (pengguna) komputer memiliki kemampuan dasar mengenai komputer, baik itu masakah hardware mauoun masalah software. Langkah yang akan diambil jika komputer yang dipakainya tidak lagi dapat terhubung ke internet atau tidak terkoneksi dengan perangkat tambahan (peripheral), mengerti tantang prosedur mematikan komputer yang baik dan benar atau tips merawat komputer agar bisa bertahan lama adalah kasus-kasus kecil yang mesti seorang user komputer pahami.

Literasi Media
Pemahaman literasi media secara tradisional diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
mengakses, menganalisis, dan menciptakan (Silverblatt, 2007). Sejalan dengan itu, KBBI menjelaskan pengertian literasi media yakni kemampuan mengakses, menganalisis, dan menciptakan informasi untuk tujuan tertentu. Menulis artikel tentang hal-hal yang trendi di masa sekarang merupakan salah satu contoh literasi media. Dengan mengamati, kita dapat membuat gambaran tentang hal yang dilihat dan kemudian memublikasikan apa yang dilihatnya kepada khalayak umum.
Dalam konteks bloging, seorang narablog mesti menguasai literasi media. Hal in penting karena apa yang dituliskannya merupakan hasil dari informasi yang pernah ia akses atau pernah dilihatnya.

Literasi Teknologi
Literasi teknologi secara sederhana dapat dimaknai sebagai keterampilan yang dimiliki seseorang terhadap cara menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Di sini, seseorang dituntut untuk dapat mengomunikasikan informasi, artinya individu tersebut harus memiliki kemampuan dalam menulis. Menguasai literasi teknologi melibatkan literasi informasi yang dua-duanya saling memberi dukungan. Literasi teknologi memungkinkan informasi dapat disebarluaskan dengan cepat dan skop luas. Kemampuan itu dapat dilakukan seseorang melalui blog.


Referensi
Bungin, B. (2006) Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
Bungin, Burhan.(2008). Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Haryati. (2011). Studi Literasi Informasi Pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tenaga Pendidik. Jurnal Penelitian Komunikasi. Bandung: BPPKI. Vol. 14 No. 2. hal. 111-126.

Moedjiono. (2014). Tantangan dan Peluang Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia, jurnal.atmaluhur.ac.id/, diakses 10 Oktober 2018.

Mudjiyanto, Bambang. (2012). Literasi Internet Dan Partisipasi Politik Masyarakat Pemilih dalam Aktivitas Pemanfaatan Media Baru. Jurnal Studi Komunikasi Dan Media. Jakarta: BPPKI. Vol. 16 No. 1. hal. 1-15.

Rahman, A. Harahap. (2010). Literasi Internet Dan Peningkatan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Pikom Penelitian komunikasi dan Pembangunan. Medan Balai besar Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Vol. 11 No. 3. hal. 403 - 426.

Severin, J Werner dan James W. Tankard,, Jr. (2007). Teori Komunikasi, (Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa). Penerjemah, Sugeng Hariyanto. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Triyono, A. (2010). Pendidikan Literasi Media Pada Guru TK Gugus Kasunanan Sebagai Upaya Menanggulangi Dampak Negatif Televisi. Warta, 13(2), 150–159.



===========
Author:
ariesrutung95

Relasi Makna Denotasi dengan Makna Leksikal

Bahasa digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu,  makna bahasa pun menjadi bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai jenis makna telah dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai buku linguistik atau semantik, semisal Gorys Keraf, Abdul Chael, dan lain sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi makna leksikal, makna denotasi, makna konotasi, serta hubungan denotasi dengan leksikal dan konotasi dengan pragmatik.

Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya, atau makna yang ada di dalam kamus. Misalnya, leksem ‘mahasiswa’ memiliki makna leksikal ‘orang yang belajar di perguruan tinggi`, ‘dosen’ bermakna leksikal ‘tenaga pengajar pada perguruan tinggi’.

Makna Denotasi
Makna denotasi adalah makna yang jelas atau makna yang sebenarnya. Dalam ilmu bahasa, makna denotasi merupakan apa yang dijelaskan di dalam kamus (Erdman dalam Janich, 2002: 147). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Denotasi adalah makna asli, makna asal atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata kurus bermakna denotatif yang sama artinya dengan ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal, bukan langsing’.

Makna Konotasi
Konotasi merupakan perubahan nilai arti kata yang terjadi akibat pendengar mengartikan kata dengan memakai perasaannya. Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata bunga seperti contoh di atas, jika dikatakan “Si Ida adalah bunga kampung kami”, ternyata makna bunga tak sama lagi dengan makna semula. Sifat bunga yang indah itu dipindahkan kepada si Ida yang cantik. Dengan kata lain, orang lain melukiskan kecantikan si ida yang bak bunga.

Makna Leksikal dan Makna Denotasi
Berdasarkan definisi masing-masing makna di atas, saya dapat berasumsi bahwa antara makna leksikal dan makna denotatif itu sama. Jika keduanya memiliki arti ‘makna yang sebenarnya atau makna yang didasarkan pada kamus’, maka asumsi saya dapat dianggap benar. Yang membedakan keduanya adalah konteks pemakaiannya seperti yang sudah pernah saya singgung di pembahasan terdahulu. Makna denotasi akan dianggap denotasi apabila konteks pemakaiannya sesuai. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kata rajin ditujukan kepada individu yang benar-benar rajin, maka kata rajin mempunyai makna denotasi, karena penggunaan kata itu sesuai dengan realitas, sesuai dengan yang dilihat atau diamati. Akan berbeda jika kata rajin ditunjukan pada orang yang malas kuliah. Atas dasar itu, maka kata rajin bermakna konotasi karena tidak sesuai dengan konteks situasi dan mengandung nilai rasa di dalamnya.

Makna Konotasi dan Pragmatik
Telaah makna konotasi sama halnya dengan kita mencari tahu tentang pragmatik karena pragmatik berusaha mencari tahu makna dibalik tuturan. Akan tetapi, keduanya tetap saja memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling nampak yakni makna konotasi terdapat di dalam bidang ilmu semantik, sedangkan pragmatik merupakan cabang semiotika yang juga salah satunya adalah semantik. Anda dapat melihat perbedaan semantik dan pragmatik DI SINI.


Referensi
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1986. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Lutfi Ma’luf. 1982. Kamus Al- Munjid. Darul Masyrik. Beirut : Libanon
Djajasudarma, T. Fatimah. 1999. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandumg: PT Refika Aditama.


==========
Author:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA