Sejarah Satra periode 1953 sampai 1961 part 3

Para Pengarang

NugrohoNotosusanto (Rembang, 15 Juli 1930)
Nugroho Notosusanto terkenal sebagai penulis prosa, terutama pengarang cerpén. Tetapi sesungguhnya ia pertama-tama menulis sajak-sajak yang sebagian besar dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, Kompas. Tidak merasa mendapat kepuasan dalam menulis sajak, ia lalu mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpén dan ésai. Nugroho telah menerbitkan tiga buah kumpulan cerpén, diantaranya:
  1. Hujan Kepagian (1958), memuat cerpén-cerpén tentang perjuangan kemerdékaan nasional yang dilakukan oléh para pemuda dan pelajar muda usia.
  2. Tiga Kota (1959) memuat cerpén-cerpen yang ditulis karena inspirasi dan tiga kota: Rembang, Yogyakarta dan Jakarta.
  3. Rasa Sayange (1963) yang antara lain memuat cerpénnya yang paling berhasil berjudul ‘Jembatan’.
Setelah menerbitkan ketiga buku itu, Nugroho lebih mencurahkan perhatiannya kepada penulisan ilmiah dan sejarah. Ia menjadi kepala Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata dari sejak 1968 diangkat menjadi kolonél titulér, kemudian brigadir jenderal.

Di antara para pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis ésai. Ketika para pengarang lain hanya menulis cerpen dan sajak, Nugroholah yang banyak menulis ésai yang mencoba menyelami situasi zamannya, terutama tentang sastera dan kebudayaan. Ia merupakan salah seorang pengambil inisiatif untuk mengadakan simposium sastera Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta tahun 1953 yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai dengan tahun 1958. Ia sendiri pada simposium tahun 1957 menjadi pemrasaran yang mengemukakan prasaran tentang cerita péndék.

Ali Akbar Navis (Padangpanjang, 17 November 1924)
Ali Akbar Navis yang kalau menulis menyingkat namanya menjadi A.A. Navis itu baru muncul dalam gelanggang sastera Indonesia pada tahun 1955. Ia merupakan pengarang islam. Beberapa cerpen yang dihasilkannya aantara lain:
  1. Robohnya Surau Kami’ yaitu sindiran terhadap orang yang kelihatannya patuh melakukan syari’at agama tetapi sebenarnya rapuh di dalam, sehingga mudah saja terhasut untuk bunuh diri. Melalui cerpennya yang pertama ini ia menjadi terkenal. Cerpén ini kemudian diterbitkan bersama-sama dengan beberapa buah cerpén lain dengan judul Robohnya Surau Kami (1956). Ketika dicétak ulang beberapa tahun kemudian, buku ini mengalami perubahan isi. Ada cerpén-cerpén baru ditambahkan, tetapi ada juga cerpén lama yang dicabut.
  2. Hujan Panas (1964) dan
  3. Bianglala (1964). Pada umumnya cerpén-cerpén Navis padat dan mempunyai latar belakang sosial psikologis yang luas. Banyak pula yang merupakan sindiran akan tingkah laku dan keimanan tokoh-tokohnya. Navis juga mengkritik orang-orang yang mempraktékkan syariat agama (Islam) secara membuta dan taklid saja, karena menurut dia Islam harus dthayati secara rasional dan penuh perikemanusiaan.
Selain menulis cerpen Navis pun menulis roman  seperti Kemarau (1967) dalam roman ini masalah agama dan pelaksanaannya mendapat sorotan pengarang secara tajam. Tokoh utamanya seorang pemeluk Islam yang dalam menafsirkan takdir dan ayat-ayat kitab sucinya tidak begitu saja mengikuti orang banyak sehingga ia dicurigai oléh orang-orang sekelilingnya. Dengan jelas Navis melukiskan konflik sia-sia yang timbul hanya karena masih berkuasanya kesempitan pandangan dan kefanatikan dalam ber-Islam.

Trisnoyuwono (Yogyakarta 5 Desémber 1929)
Trisnoyuwono sudah mulai menulis cerpén-cerpén picisan pada tahun lima puluhan awal, dimuat dalam majalah-majalah hiburan seperti Terang Bulan. Tetapi baru pada pada tahun 1955 cerpénnya muncul dalam majalah sastera. Ia meninggalkan penulisan cerpén-cerpén picisannya dan mulai menulis secara lebih sungguh-sungguh. Kumpulan cerpénnya adalah sebagai berikut:
  1. Laki-Laki dan Mesiu (1957) mendapat hadiah sastera Nasional dan BMKN tahun 1957-1958. Kumpulan itu memuat kisah-kisah révolusi yang sebagian besar berdasarkan pengalaman-pengalamnnya sendiri. Cerpén-cerpén Trisnoyuwono menarik karena ia melukiskan manusia dalam situasinya lengkap dengan ketakutan, nafsu berahi, kelemahan dan kekuatan.
  2. Angin Laut(1958) tidak begitu meyakinkan.
  3. Di Médan Perang (1961) nilainya lebih baik. Terutama cerpen ‘Di Médan Perang’ yang dijadikan judul kumpulan ini sangat kuat dan mengesankan. Tak kelirulah kalau cerpén ini dianggap sebagai cerpén terbaik yang pernah ditulis oléh Trisnoyuwono. Buku kumpulan cerpénnya yang terakhir ialah Kisah-kisah Révolusi(1965).
Selain itu ia juga menulis roman seperti:
  1. Pagar Kawat Berduri (1962). Merupakan salah satu cerpen yang dimuat dalam “Laki-laki danMesiu” yang dikerjakannya kembali menjadi sebuah roman, judulnya sama dengan judul cerpén asalnya. Roman ini dibuat filem oléh Asrul Sani yang menjadi penulis skénario dan menjadi sutradara dan roman ini telah pula menyebabkan Trisnoyuwono mendapat Hadiah Sastera Yamin.
  2. Bulan Madu (1926),
  3. Petualang (1963) dan lain-lain.
Iwan Simatupang
Iwan Simatupang (lahir di Sibolga pada tanggal 18 Januari 1928) mula-mula menulis sajak, kemudian ésai. Sesudah itu ia menulis cerpén, drama dan roman. Sajak akhirnya kelihatan dia tinggalkan. Mémang pelarian Iwan terpenting di lapangan prosa. Esai-ésainya memberikan gaya dan kaki langit baru. Ia yang merasa tidak puas dengan segala alam pikiran yang sudah karatan, kemudian mencari ufuk-ufuk baru dengan logika dan kebébasan bahasa kata-kata. Cerpén-cerpén, drama-drama dan roman-romanyang ditulisnya, tidaklãh terikat oléh logika, plot dan perwatakan yang biasa, juga yang menonjol dari masing-masing karyanya adalah gayanya yang padat.

Drama-drama yang ditulisnya, banyak yang dibuat dalam majalah-majalah, antara lain:
  1. Bulan Bujur Sangkar
  2. Taman
  3. RT Nol/RW Nol Kebanyakan drama sebabak. ‘Taman’ kemudian diterbitkan sebagai buku kecil berjudul Petang di Taman (1966).
Dalam esai-ésainya terasa vitalitas Iwan yang dengan gigih mempertahankan individualitas dan kebébasan martabat manusia. Sebagai indvidu yang bébas, ia bébas melakukan percobaan-percobaan dalam mencari ufuk-ufuk baru sastera. Di antara cerpén-cerpénnya patut disebut ‘Lebih Hitam dari Hitam’ (Siasat Baru 1959) sebagai cerpén yang baik sekali menyelam ke gua dasar jiwa manusia, mencari kebenaran antara sadar dan tak sadar.

Iwan pun menulis roman, di antaranya:
  1. Ziarah melukiskan kehidupan nisbi mencari nilai-nilai yang nisbi pula, berada dalam daérah takdir yang tak bisa diatasi oléh filsafat. Roman ini unik dalam sastera Indonesia karena dalam mengemukakan persoalanpersoalan yang menjadi témanya, Iwan membuat plot menjadi lepas dan longgar.
  2. Kering dan
  3. Mérahnya Mérah (1968), roman ini pelaku-pelakunya bukanlah manusia-manusia yang berada dalam norma-norma biasa, tetapi merupakan penjelmaan dan gagasan pengarang tentang manusia.
Toha Mohtar
Pengarang yang sejak awal tahun lima puluhan produktif menulis cerpén-cerpén dalam majalah-majalah hiburan (anéhnya tak pernah dia menulis dalam majalah sastera atau kebudayaan) dengan nama samaran yang selalu berganti-ganti ialah Toha Mohtar. Roman yang ditulisnya antara lain:
  1. Pulang (1958) yang mengejutkan dunia sastera Indonesia karena mendapat hadiah sastera nasional BMKN tahun 1958. Roman ini sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa jernih bening. Yamin yang menjadi tokoh utama roman ini bekas Héiho yang tidak segera menemukan kedamaian ketika ia pulang ke désanya. Ia selalu diburu-buru oléh perasaan berdosa, karena sepulangnya dan Birma ia tidak menggabungkan diri berjuang dengan para pemuda Indonesia lain untuk mempertahankan kemerdekaan Tanah Air, melainkan ikut membantu tentara sekutu lantaran tidak tahu. Meskipun tak ada orang yang menggugat hal itu kepadanya, namun nuraninya tak pernah dapat dia bohongi. Konflik psikologis ini dengan meyakinkan dilukiskan pengarangnya secara halus dan teliti. Roman ini sekarang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Cerita ini lebih dahulu pernah dimuatkan sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah hiburan dan pernah dibuat filem oléh Turino Djunardi beberapa tahun sebelumnya dengan judul yang sama.
  2. DaérahtakBertuan (1963), sebuah kisah révolusi yang digali dan pengalaman perjuangan di Surabaya ketika para pemuda mempertahankannya dari serbuan tentara sekutu. Ada pengkhianatan dan ketamakan yang berakhir dengan sia-sia, meskipun cukup menarik, roman ini tidaklah menandingi Pulang yang ditulisnya lebih dahulu.
Subagio SastrowardojoMeskipun Subagio Sastrowardojo belakangan ini lebih terkenal sebagai penyair dan bukunya yang pertama pun merupakan kumpulan sajak, yaitu Simphoni (1957), sesungguhnya ia juga penting dengan prosa-prosanya baik yang berupa cerpén maupun yang berupa ésai. Cerpén-cerpénnya dibukukan antara lain:
  1. Kejantanan di Sumbing (1965). Bahasanya sangat jernih dan bersih. Lukisan-lukisan kejiwaan cerita-ceritanya sangat mengesan. Ia mempunyai keistiméwaan dalam meneliti gerak-gerik batin pelaku-pelaku ceritanya.
  2. Perawan Tua sangat menyaran, melukiskan keadaan jiwa seorang gadis yang karena mau setia kepada kekasihnya yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda lalu menghadapi hidupnya yang sepi. “PerawanTua’ merupakan salah sebuah prosa terindah yang perah ditulis dalam bahasa Indonesia.
Dalam cerpén-cerpén dan sajak-sajaknya banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang nafsunya. Manusia-manusia Subagio ialah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oléh sifat-sifat kedagingannya. Selain yang dimuat dalam Simphoni, masih banyak lagi sajak Subagio yang belum diterbitkan sebagai buku, antara lain yang termuat dalam naskahnya Daérah Perbatasan dan salju. Nada sajak-sajaknya rendah dan muram, diberati oléh pemikiran-pemikiran tentang manusia, nasib, kemerdékaan, mati dan lain-lain. Dalam menghadapi zaman yang penuh penindasan dan penderitaan, ia menganggap dirinya berada di médan perjuangan dan berdo’a: Esai-esainya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam. Dengan bahasanya yang jernih dan dengan analisanya yang cemerlang, esai-ésainya akan merupakan kekayaan penting bagi khazanah sastera Indonesia. Yang menarik ialah uraian-uraiannya tentang sajak-sajaknya sendiri.

Motinggo Boesje (Kupang, Kota Lampung, 21 November 1937)
Motinggo Boesje hingga sekarang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang paling produktif. Dalam tempo kurang dari sepuluh tahun berpuluh-puluh buku yang ditulis dan diterbitkannya. Kebanyakan berupa roman, ada yang agak péndék, tetapi banyak juga yang merupakan trilogi yang masing-masing mencapai 500 halaman lebih tebalnya. Ia pun banyak menulis cerpén dan drama. Drama-drama yang ditulisnya umumnya berbentuk novéla. Drama-drama yang dihasilkannya antara lain:
  1. MalamJahanammerupakan drama yang menarik perhatian orang kepadanya, yaitu ketika ia mendapat hadiah pertama dalam sayémbara penulisan drama yang diadakan tahun 1958. Drama itu sendiri sebenarnya bukan merupakan karya sastera Motinggo yang paling baik. Hadiah pertama yang diberikan kepadanya lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada kepuasan para peminat.
  2. BadaisampaiSore (1962),
  3. NyonyadanNyonya (1963),
  4. Malam Pengantin di Bukit Kera (1963),
  5. MataharidalamKelam (1963)
Selain menulis drama, Motinggo juga menulis roman yang merupakan simbolis perjuangan manusia dalam mempertahankan eksisténsinya dan cara berceritanya yang lancar dan mengikat, hidup pula, ia berhasil membawa para pembaca untuk mengikuti seluk-beluk kehidupan yang dilukiskannya, gaya bahasa yang sederhana dan seperti main-main tetapi sering secara tepat melukiskan suatu situasi, umumnya pula roman-roman itu meninggalkan kesan bahwa beberapa bagian atau beberapa tokoh tidak dilukiskan secara cermat, sehingga menimbulkan kesimpulan bahwa ía telah dikeijakan secara terburu-buru yang adang-kadang kelemahan-kelemahan itu sangat merusak komposisi keseluruhannya tetapi untunglah sering terbayan oléh kemahirannya bercerita, diantaranya:
  1. TidakMenyerah (1962) merupakan cerita menarik yangsecara simbolis melukiskan Palimo pemburu tua yang kesepian pantang menyerah kepada harimau tua yang mengganas di kampungnya.
  2. SejutaMatahari (1963) mengemukakan persoalan sosial: seorang wanita yang hidupnya sudah ternoda sebagai wanita tuna susila ingin kembali menjadi wanita baik-baik, menjadi ibu rumah tangga yang terhormat. 1949 (terbit 1962) merupakan roman révolusi.
  3. BuangTon jam (1963) merupakan cerita rakyat Lampung ditulis kembali dengan baik sekali oléh Motinggo.
  4. Dosa Kita Semua (1963),
  5. Tiada Belas Kasihan (sebuah roman péndek, 1963),
  6. Batu Serampok (juga sebuah legenda, 1963),
  7. Titisan Dosa di Atasnya (1964),
  8. AhimHa, Manusia sejati (1963),
  9. Perempuan itu Bernama Barabah (1963),
  10. Dia Musuh Keluarga (1968).
Selain roman, Motinggo juga menulis beberapa roman trilogi yang sangat megangumkan meskipun terkesan terburu-buru diantaranya:
  1. RetnoLestari (1968) misalnya, mempunyai beberapa bagian yang sesungguhnya masih dapat diperbaikinya. Bagian ketiga (MbakyuRetno) terasa seperti dongéngan di tengah-tengah lukisan-lukisan lain yang naturalistis.
  2. Bibi Marsitti (1967),
  3. Tante Maryati (1967),
  4. Sri Ayati (1968) dan lain-lain.

Sejarah sastra periode 1953 sampai 1961 part 2

Sastera Majalah
Salah satu alasan utama yang dikemukakan oléh meréka yang menuduh ada krisis sastera Indonesia ialah karena kurangnya jumlah buku yang terbit. Roman-roman karangan Pramoedya Ananta Toer yang dalam tahun-tahun 1950-1951-1952-1953 selalu muncul dengan judul-judul baru, tebal-tebal pula, diélakkan oléh para penuduh itu dengan alasan bahwa roman-roman itu ditulis Pram dalam penjara, jadi sebelum tahun 1950.

Sejak tahun 1953, Balai Pustaka yang sejak zaman sebelum perang merupakan penerbit utama buat buku-buku sastera, kedudukannya tidak menentu. Penerbit ini yang bernaung di bawah kementrian PP&K berkali-kali mengalami perubahan status. Perubahan-perubahan status yang dilakukan antara sebentar, ditambah oléh penempatan pimpinan di tangan orang yang bukan ahli, pula kian tak mencukupi anggaran yang tersedia, menyebabkan kemacetan produksinya. Demikian pula penerbit Pustaka Rakyat yang tadinya di samping Balai Pustaka merupakan penerbit nasional yang banyak menerbitkan buku-buku sastera, agaknya terlibatdalam berbagai kesukaran. Begitu juga dengan penerbit-penerbit lain seperti Pembangunan, Tintamas dan lain-lain.

Maka aktivitas sastera terutama hanya dalam majalah-majalah seperti Gelanggang/Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Pudjangga Baru dan lain-lain. Karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpén, dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Sesuai dengan yang dibutuhkan oléh majalah-majalah, maka tak anéhlah kalau para pengarang pun lantas hanya mengarang cerpén, sajak dan karangan-karangan lain yang péndék-péndék.

Keadaan seperti inilah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastera majalah”. Istilah ini pertama kali dilansir oléh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya ‘Situasi 1954’ yang tadi sudah disebut, dimuat dalam majalah Kompas yang dipimpinnya.

Pada masa sekitar persoalan “krisis kesusasteraan Indonesia’ diramaikan orang, ada pula persoalan lain yang menjadi pokok perhatian para peminat sastera, yaitu persoalan lahirnya angkatan sesudah ‘45, atau angkatan sesudah Angkatan Chairil Anwar. Dalam simposium sastera yang diselenggarakan oléh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1955, Harijadi S. Hartowardojo memberikan prasaran yang berjudul ‘Puisi Indonesia Sesudah Chairil Anwar’. Juga dalam simposium-simposium di Yogjakarta, Solo dan kota-kota lain ada kecenderungan pikiran untuk menganggap telah lahir suatu angkatan para pengarang baru yang terasa tidak tepat lagi digolongkan kepada angkatan Chairil Anwar yang populér dengan nama Angkatan ‘45 itu.

Dalam simposium sastera yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan Prasaran tentang ‘Sumbangan Angkatan Terbaru Sasterawan Indonesia kepada Perkembangan Kesusasteraan Indonesia’. Dalam prasaran itu dicoba untuk dicari ciri-ciri yang membédakan Angkatan Terbaru dengan Angkatan‘45.

Lebih lanjut dalam prasaran itu dikemukakan bahwa sikap budaya para sasterawan yang tergolong kepada ‘Angkatan Terbaru’ merupakan sintésis dari dua sikap ekstrim mengenai konsép kebudayaanIndonesia. Yang pertama ialah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan nasional Indonesia itu merupakan persatuan dan puncak-puncak kebudayaan daérah. Yang kedua ialah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia ialah mendunia dan mempersétankan kebudayaan daérah. Maka sikap sintésisnya ialah kebudayaan nasional Indonesia akan berkembang berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia masa kini, yaitu adanya kebudayaan daérah dan adanya pengaruh dari luar.

Dalam seminar kesusasteraan yang diselenggarakan oléh Fakultas Sastera Universitas Indonesia tahun 1963, Nugroho Notosusanto dalam ceramahnya yang berjudul ‘Soal Périodisasi dalam Sastera Indonesia’, mengemukakan bahwa mémang ada période baru sesudah tahun ‘50 yang tidak lagi bisa dimasukkan ke dalam période sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada période 1950 ialah meréka yang telah mempunyai “Sebuah Tradisi Indonesia sebagai titik tolak”. Sifat imitatif dan Belanda atau Eropa berkurang. Pandangan ke luar negeri tidak hanya ke Eropa, melainkan ke seluruh dunia. Ditambah pula oléh penghargaan yang wajar kepada sasterawan-sasterawan Indonesia sendiri.

Dibandingkan dengan para pengarang Angkatan ‘45, para pengarang yang lebih muda-muda itu menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak menguntungkan kehadirannya. Meskipun meréka mendapat tempat di halaman-halaman majalah yang ada ketika itu tetapi kebanyakan majalah itu, bahkan semua majalah itu, redaksinya dipegang oléh para pengarang yang tergolong kepada Angkatan ‘45. Hal ini menyebabkan para pengarang muda ini tidak mendapat kesempatan yang luas untuk mencari identifikasi diri dari kawan-kawannya. Dan agaknya berbéda dengan para pengarang Pujangga Baru dan Angkatan ‘45, para pengarang période ‘50 ini lebih menitikberatkan pada penciptaan. Hal ini berhubungan juga tentu dengan kurangnya pengetahuan meréka pada saat itu. Baru kemudian setelah berkesempatan menambah pengetahuan pula, meréka merumuskan cita-cita dan kehadirannya.

Dalam hal ini peranan majalah Kisah (1953-1956) tidak bisa dibilang kecil, karena banyak pengarang yang muncul dalam période itu mengumumkan tulisan-tulisannya yang mula-mula dalam majalah ini. Juga banyak pengarang yang sudah menulis sebelum tahun 1953, mendapat kesempatan berkembang sebaik-baiknya dalam majalah Kisah. Patut disebutkan bahwa majalah ini, meskipun punya keterangan “bulanan cerita péndék” dan pada mulanya hanya memuatkan cerpén saja, namun kemudian berturut-turut memuatkan kritik, ésai bahkan akhirnya sajak. Karena itu nama-nama yang muncul di sini tidaklah terbatas kepada para pengarang cerpén atau prosa saja, melainkan juga kepada para penyair.

Di samping itu patut juga disebut majalah mahasiswa Kompas yang setelah dipimpin oléh Nugroho Notosusanto sangat banyak memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan dan karya-karya sastera, majalah Prosa pimpinan Ajip Rosidi yang hanya terbit beberapa nomor, ruangan kebudayaan “Genta” dalam majalah Merdeka yang diasuh oléh S.M. Ardan dan kawan-kawan, majalah Seni (terbit hanya setahun genap), majalah Konfrontasi, majalah Tjerita dan majalah Budaya (terbit di Yogjakarta) dan beberapa majalah lain, di samping majalah-majalah yang sudah lama ada seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat dan Indonesia.

Materi Mata Kuliah Menulis Dasar

Sejarah sastra periode 1953 sampai 1961 part 1

Setelah Chafril Anwar meninggal dunia, lingkungan kebudayaan Gelanggang Seniman Merdeka seakan-akan kehilangan vitalitas. Asrul Sam yang beberapa lamanya asyik menulis esai, sudah jarang sekali menulis sajak atau hasil sastera lainnya. Demikian pula Rivai Apin. Padahal kedua orang itu tadinya dianggap sebagai tumpuan harap yang akan melanjutkan kepeloporan Chairil.

Sementara itu dalam kehidupan nasional pun kabut yang suram mulai tampak: mengisi kemerdekaan ternyata tidak semudah yang diangankan ketika masih dijajah dan ketika masih memperjuangkannya. Pemimpin-pemimpin banyak yang bosan berjuang lalu melakukan penyeléwéngan-penyeléwéngan. Bibit-bibit korupsi dan manipulasi mulai merasuk merusak masyarakat dan negara. Pertikaian antara golongan-golongan politik kian nyata membuktikan bahwa bagi meréka yang penting bukanlah kehidupan bangsa dan negara. Apa pula rakyat. Melainkan golongannya sendiri, partainya sendiri; bahkan dirinya sendiri saja.

Pada bulan April 1952 di Jakarta diselenggarakan simposium tentang “Kesulitan-kesulitan zaman peralihan sekarang”. Dalam simposium yang diselenggarakan oléh golongan-golongan kebudayaan Gelanggang, Lékra, Liga Komponis, PEN-Club Indonesia dan Pudjangga Baru itu dibahas kesulitan-kesulitan zaman peralihan, ditinjau dari sudut sosiologi, psikologi dan ékonomi. Di antara para pembicara ialah St. Sjahrir, Moh. Said, Mr. Sjafrudin Prawiranegara, Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, Dr. J. Ismaél, Sutan Takdir Alisjahbana, Boejoeng Saléh dan lain-lain. Dalam simposium itu dilontarkan istilah “krisis akhlak”, “krisis ekonomi” dan berbagai krisis lainnya.

Tahun berikutnya, tahun 1953, di Amsterdam diselenggarakan simposium tentang kesusasteraan Indonesia. Antara lain berbicara dalam simposium itu Asrul Sani, Sutan Takdir Alisjahbana, Prof. Dr. Wertheim dan lain-lain. Di sinilah untuk pertama kali dibicarakan tentang impase (kemacetan) dan “krisis sastera Indonesia sebagai akibat dari gagalnya révolusi Indonesia”. Tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan yang ramai betul ketika terbit majalah Konfrontasi pada pertengahan tahun 1954. Dalam nomor pertama majalah itu dimuat ésai Soedjatmoko (lahir di Sawahlunto tanggal 10 Januari 1922) berjudul ‘Mengapa Konfrontasi’. Dalam karangan itu secara tandas dikatakan bahwa sastera Indonesia mengalami krisis.

Dalam Esainya itu Soedjatmoko melihat adanya krisis sastera sebagai akibat dari krisis kepemimpinan politik. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa sastera Indonesia sedang mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpén-cerpén kecil yang “Berlingkar sekitar psikologisme perseorangan semata-mata”. Roman-roman besar tak ada ditulis.

Karangan Soedjatmoko ini mendapat réaksi hébat. Terutama dari kalangan sasterawan sendiri.

Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, Boejoeng Saléh dan lain-lain secara tandas disertai dengan bukti-bukti yang sukar untuk dibantah, menolak penamaan “krisis sastera”. Menurut meréka, sastera Indonesia sedang hidup dengan subur. H.B. Jassin dalam simposium sastera Universitas Indonesia di Jakarta pada bulan Désémber 1954, mengemukakan prasaran yang dengan tandas diberinya judul: ‘Kesusasteraan Indonesia Modéren Tidak Ada Krisis’. Dengan bukti-bukti dan dokuméntasi yang lengkap, Jassin pun menolak sebutan adanya krisis maupun impase dalam kehidupan sastera Indonesia.

Dalam tulisan berjudul ‘Situasi 1954’ yang ditujukan kepada sahabatnya Ramadhan K.H. yang ketika itu baru pulang dari Spanyol, Nugroho Notosusanto mencoba mencari latar belakang timbulnya penamaan “impase sastera Indonesia” yang bagi dia tidak lebih hanya sebuah “mite” (dongeng) belaka. Menurut Nugroho asal-usul timbulnya “mite” itu ialah pésimisme yang berjangkit di kalangan orang-orang tertentu pada masa sesudah pengakuan kedaulatan. Pésimisme itu berjangkit di kalangan meréka yang pada zaman federal hidup lebih énak dari meréka yang pada masa révolusi punya impian-impian yang muluk indah tentang zaman sesudah perang kemerdékaan. Nugroho pun melihat kemungkinan bahwa golongan “old crack” Angkatan ‘45 yang pada sekitar tahun 1945 mengalami zaman keemasan, pada masa sesudah tahun 1950 mengalami kemunduran lalu meréka berpegang pada zaman keemasan yang sudah lampau sambil menjelék-jelékkan zaman sekarang dengan banyak tokoh-tokoh baru.

Sitor Situmorang dalam tulisannya yang berjudul ‘Krisis H.B. Jassin’ dalam majalah Mimbar Indonesia (1955) mengemukakan pendapatnya bahwa yang ada bukanlah krisis sastera, melainkan krisis ukuran menilai sastera. Dan karena ketika itu sebagai kritikus yang terkemuka bahkan satu-satunya pula ialah HB. Jassin, maka Sitor berkesimpulan bahwa krisis yang teiadi ialah krisis dalam diri Jassin sendirii karena ukurannya tidak matang.

Manfaat kemampuan berbicara - Public Speaking

Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan langsung jika seseorang mampu atau terampil berbicara. Beberapa manfaat tersebut dapat dikemukakan melalui beberapa butir di bawah ini.

Memperlancar Komunikasi antar Sesama
Komunikasi antar manusia terbanyak dilakukan dengan jalan atau melalui berbicara. Oleh karena itu, secara mendasar bahwa kemampuan berbicara menduduki peranan penting dalam kamunikasi antar sesama. Di mana-mana kita menyaksikan berbicara satu sama lain. Pembicaraan terjadi di pasar, di rumah, di sekolah, di bandara, di forum-forum resmi, pergaulan sehari-hari di kampung atau di masyarakat, dan tempat serta kesempatan lainnya yang sangat beragam. Antar sesama, orang berbicara dengan bahasa tertentu. Mereka saling memahami. Sudah menjadi kesepakatan alami bahwa jika orang berkomunikasi satu sama lain, maka harus menggunakan yang sama, ada yang harus menyesuaikan diri, jika sebelumnya yang terlibat bicara berlatar belakang bahasa yang berbeda.

Seseorang yang pandai berbicara dengan baik, maka dengan sendirinya, ia akan memperoleh kemudahan dan kelancaran dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Satu hambatan dalam berinteraksi sudah teratasi, saluran bahasanya tidak bermasalah. Bisa dibayangkan, jika seseorang berbicara tidak jelas, kurang lancar, tertahan-tahan, dan susunan kata dan kalimatnya sulit dicerna, tentu akan menyulitkan lawan bicaranya dalam menyerap dan menanggapi pembicaraan orang tersebut. Memang, dalam kasus tertentu bisa dipahami adanya ketidakjelasan, ketidaklancaran, dan ketidakteraturan susunan kata dan kalimat yang dialami seseorang. Kasus seperti ini sangat mungkin terjadi misalnya ketika pembelajar bahasa asing (misalnya orang yang baru belajar bahasa Arab) mengadakan pembicaraan dengan penutur aslinya atau antar pembelajar bahasa tersebut. Mereka mengalami kendala untuk saling memahami, tetapi biasanya penutur asing dapat menerima tuturan lawan bicaranya, berusaha memahaminya, atau dengan kata lain memberikan toleransi yang tinggi kepada lawan bicaranya. Yang penting, mereka dapat saling memahami.

Dalam berkomunikasi antar sesama, orang yang terlibat dalam pembicaraan tidak sekadar dapat saling memahami, tetapi komunikasi lewat pembicaraan harus berjalan efektif. Masing-masing yang terlibat dalam pembicaraan tidak mengalami kendala yang berarti, harus ada kemudahan atau kecepatan yang memadai dalam menerima dan memberi sesuatu dalam interaksi saat pembicaraan berlangsung.

Mempermudah Pemberian Berbagai Informasi
Ketepatan dan kecepatan informasi yang diberikan melalui lisan dari seseorang kepada yang lain amat bergantung pada mutu dan kejelasan pembicaraan pemberi informasi. Karena itu, orang yang mampu berbicara dengan baik kemungkinan besar dapat menyampaikan informasi secara tepat dan cepat kepada lawan bicaranya. Betapapun seseorang memiliki kemampuan secara intelektual, jika ia lemah dalam berbicara, maka Ia akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya kepada orang lain. Banyak orang pandai gagal berkomunikasi, terhambat dalam menyampaikan ide atau pemikirannya kepada orang banyak, karena ia tidak memiliki kemampuan dalam berbicara di depan umum (Romli, 2003:64). Bisa dibayangkan akan sangat sulit informasi diserap oleh penerima, jika yang memberikan informasi memiliki kemampuan yang Iemah dalam mengkomunikasikan sesuatu secara lisan (melalui berbicara). Oleh karena itu, orang-orang yang sering bergelut di bidang pemberian informasi, termasuk mereka yang bergerak di bidang hubungan masyarakat atau kehumasan sangat perlu rneningkatkan kemampuan berbicaranya.

Sebenarnya setiap orang tidak bisa melepaskan din dan kegiatan memberi dan menerima informasi. Karena itu, setiap orang juga perlu meningkatkan kemampuannya dalam Iwrbicara, minimal apabila dihadapkan pada tugas-tugas yang herkaitan dengan pemberian informasi, ia akan dapat melakukannya dengan baik. Parajuru bicara yang bekerja untuk kml)aga tertentu atau untuk tokoh tertentu juga sangat berkewntingan dengan kemampuan berbicara. Seorang juru bicara presiden tentu harus mampu memberikan penjelasan kepada milNyarakat tentang sesuatu yang disampaikan presiden, jika priijelasan diwakilkan kepadajuru bicara. Juru bicara harus dapat memahami secara tuntas apa yang dikemukakan atau diinginkan olrh yang diwakilinya, tidak boleh ada pertentangan maksud.

Meningkatkan Kepercayaan Diri
Biasanya pembicara yang balk memiliki kepercayaan din yang tinggi. Ta dengan mantap mengungkapkan gagasan atau hunh pikirannya kepada orang lain, tanpa disertai keraguan. Pembicara yang baik lebih percaya diri dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Pembicara yang baik juga mengandung pengertian bahwa yang bersangkutan memiliki ketegasan dalam menyampaikan sesuatu, tetapi bukan berarti ia menunjukkan kekakuan. Ia menyampaikan sesuatu dengan lapang, tanpa beban saluran komunikasi (melalui lisan) yang digunakannya untuk orang lain. Dengan demikian, orang lain yang menjadi lawan bicara atau mitra tuturnya lebih meyakini apa yang dikemukakan oleh pembicara.

Pembicara yang baik bukan berarti orang yang dianggap pandai bersilat lidah atau dalam pengertian negatif, bukan ‘asbun’ atau asal bunyi. Pembicara yang dimaksudkan bukan pula digambarkan seperti pembicara yang berapi-api atau tampil secara berlebih-lebihan. Pembicara yang baik adalah seseorang yang mampu mengungkapkan sesuatu kepada orang lain dengan jelas dan bisa memahami keadaan lawan bicara atau mitra tuturnya. Dengan kata lain, pembicara yang baik berarti juga dapat menguasai audiensnya.

Meningkatkan Kewibawaan Diri
Pembicara yang baik memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Karena itu, secara langsung akan dapat meningkatkan kewibawaan dirinya pada saat dia tampil sebagai pembicara, sekaligus dimungkinkan kewibawaan itu akan menyatu atau berpengaruh terhadap keberadaan dirinya secara utuh. Pengalaman menunjukkan bagaimana tingginya wibawa Bung Karno sebagai presiden pertama RI. Wibawa Bung Karno antara lain karena kemampuannya dalam berpidato. Kewibawaan yang dimaksud bukan hanya terletak pada kemampuan berbicaranya, tetapi masih banyak faktor yang mempengaruhinya. Seseorang yang berbicara bukan sekadar mampu mengungkapkan sesuatu secara lisan, tetapi kualitas apa yang diungkapkan jauh lebih penting dan wujud pengungkapannya sendiri. Hal ini terkait dengan kualitas pengetahuan atau penguasaan bahan pembicaraan.

Mempertinggi Dukungan Publik atau Masyarakat
Tidak diragukan lagi seseorang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik atau katakanlah seseorang yang disebut sebagai orator akan lebih mudah mendapat simpati dan dukungan dari publik atau masyarakat. Biasanya masyarakat akan lebih mudah atau tertarik untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang dapat berkomunikasi secara efektif dengan mereka. Bagi kalangan masyarakat awam, tampaknya akan lebih mudah mendapat pengaruh atau dipengaruhi oleh seseorang yang tergolong pembicara yang baik. Dalam kegiatan politik, terutama pada saat-saat kampanye, para jurkam yang sudah berpengalaman biasanya akan dapat menarik simpati massa untuk mendukung partai politiknya, bahkan dalam rangka Pemilihan secara langsung (misalnya sebagai calon anggota DPR, DPD, Kepala Daerah, dan Presiden serta Wakil Presiden) kedudukannya sebagai jurkam dari calon kemungkinan besar akan memperoleh suara yang banyak karena kepandaiannya dalam berbicara. Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 memperlihatkan betapa kemampuan berbicara atau kemampuan berkomunikasi cukup mempengaruhi peta pemerolehan suara. Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai calon presiden meraih perolehan suara terbanyak dibanding calon lain. Salah satu keunggulan SBY adalah kemampuannya dalam berbicara, keteraturannya dalam bertutur kata, tentu juga keruntutan dan kejelasannya dalam menjelaskan program dan pandangan politiknya. Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Yusuf Kalla akhirnya terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI. Susiolo Bambang Yudhoyono memang pernah meraih predikat sebagai pengguna bahasa Indonesia terbaik atau mendapat penghargaan sebagai salah satu tokoh yang patut diteladani dalam hal kemampuannya menggunakan bahasa Indonesia. Untuk itu SBY mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa pada saat Kongres Bahasa Indonesia tahun 2000 di Jakarta.

Para aktivis politik sangat pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya dalam meraih dukungan massa. Ia berbicara dengan jelas, tegas, dan disertai dengan penggunaan gaya bahasa yang dapat membuat massa tertarik, bahkan dengan mudah massa dapat diarahkannya untuk bersikap atau meyakini apa yang disampaikannya.

Satu hal yang perlu dicamkan bahwa kemampuan berbicara bukan satu-satunya penentu seseorang untuk memperoleh dukungan yang luas dan masyarakat. Masih banyak hal lainnya yang mempengaruhi besar-kecilnya dukungan masyarakat terhadap seseorang, seperti bagaimana sikap dan perilakunya dalam bergaul di masyarakat serta bagaimana jasa atau pengabdiannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tingkat kemampuan intelektual atau daya pikirnya dalam menyikapi dan memecahkan berbagai persoalan yang ada.

Jika kita amati, para tokoh masyarakat yang kemampuan berbicaranya baik, biasanya banyak menjadi ‘incaran’ para pengurus partai politik untuk dapat direkrut agar mau masuk ke partainya, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai pengumpul dan penarik simpati massa. Tokoh masyarakat yang berpredikat orator biasanya diminta untuk menjadi calon anggota legislatif (DPR) karena diyakini akan dapat menguntungkan masa depan partai dan tentunya diharapkan jika ia terpilih akan dapat menyuarakan kepentingan rakyat. Memang, kenyataan menunjukkan bahwa dalam kegiatan politik peranan para tokoh yang handal bicaranya cukup besar dalam membesarkan suatu partai. Bukankah segala gagasan dan jalan perjuangan partai harus dikomunikasikan ke masyarakat dengan jelas. Di sinilah antara lain betapa pentingnya peran orator partai sebagai ‘corong” politik partai.

Menjadi Penunjang Meraih Profesi dan Pekerjaan
Banyak profesi atau lapangan pekerjaan yang memerlukan kemampuan berbicara. Orang yang ingin menjadi guru atau dosen juga harus dilatarbelakangi kemampuan berbicara yang memadai. Sebab, pekerjaan atau profesi sebagai guru atau dosen, sehari-harinya banyak berhadapan dengan murid atau mahasiswanya. Interaksi antar keduanya tentu lebih banyak disaranai dengan kegiatan berbicara. Guru atau dosen yang berkualitas hendaknya juga mampu berbicara di depan peserta didiknya dengan baik. Ia harus mampu menjelaskan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada murid atau mahasiswanya. Memang, keberhasilan seorang guru atau dosen dalam mengemban tugasnya di kelas tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan berbicara, masih banyak hal lain lagi. Namun, bagaimanapun seorang guru atau dosen harus mampu berbicara atau berkomunikasi lisan dengan peserta didik yang dihadapinya. Seseorang yang bekerja sebagai wartawan juga dituntut untuk mampu berbicara. Wartawan akan banyak berhadapan dengan khlayak. Ia sering mendapat tugas untuk mewawancarai seseorang atau melaporkan suatu kegiatan dengan secara lisan. Wartawan terkadang terlibat dalam diskusi atau dialog. Kegiatan ini juga menuntut kemampuan berbicara para wartawan. Orang yang ingin menjadi penyiar di radio dan televisi juga harus dibekali dengan kemampuan berbicara yang memadai. Bagaimanapun, seorang penyiar setiap harinya bergelut dengan berita dan bicara. Sebagaimana layaknya wartawan, penyiar juga sering terlibat dalam kegiatan wawancara. Karena itu, penyiar juga harus handal dalam mewawancarai narasumber. Pendek kata, penyiar mutlak memiliki kemampuan berbicara yang memadai karena tugas kesehariannya didominasi oleh kegiatan berbicara.

Mereka yang berkecimpung di bidang hukum atau penegakan hukum juga memerlukan kemampuan berbicara yang memadai. Para jaksa dan hakim harus memiliki kemampuan berbicara yang handal. Dalam sidang di pengadilan, tentu saja jaksa dan hakim berperan banyak. Karenanya, para jaksa dan hakim harus betul-betul terlatih dalam mengemukakan sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Bicaranya harus jelas, tegas, dan berdasar pada hukum tertentu. Dalam kaitan ini juga mereka yang berpredikat sebagai pembela atau pengacara juga sangat dituntut untuk mampu berbicara secara efektif. Kenyataan menunjukkan bahwa para pembela atau pengacara umumnya telah memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Mereka sangat berpengalaman. Karena itu, dengan kemampuan berbicara yang mereka miliki, mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan di antara mereka menjadi terkenal dan banyak diminati oleh berbagai kalangan untuk dimintai jasa dalam menyelesaikan banyak kasus.

Meningkatkan Mutu Profesi dan Pekerjaan
Kemampuan berbicara tidak sekadar bermanfaat untuk memperoleh profesi dan pekerjaan, tetapi sekaligus dapat meningkatkan mutu profesi dan pekerjaan yang diemban seseorang. Seorang kepala sekolah akan lebih berwibawa dan lebih berhasil dalam menjalankan tugas-tugasnya jika ia dapat berkomunikasi dengan para guru dan staf sekolah secara efektif. Ia dapat mengarahkan bawahannya secara tepat. Salah satu ‘senjatanya’ adalah dengan kemampuannya dalam menyampaikan segala gagasan atau arahan secara lisan. Para guru dan staf sekolah ditempatkannya sebagai mitra tutur sehari-hari. Ia berbicara dengan lancar, termasuk dapat memahami pola pikir dan tingkah laku bawahannya sebagai mitra tutur. Seorang pimpinan perusahaan juga perlu terampil berbicara. Ia harus dapat melakukan pembinaan terhadap karyawannya. Salah satu cara pembinaan adalah dengan memberikan arahan atau nasihat yang dilakukan secara lisan. Ia selalu menjaga kontak langsung atau tatap muka dengan karyawannya. Ia dituntut untuk mampu melakukan negosiasi (juga secara lisan) dengan karyawan dalam menyelesaikan sutau masalah perusahaannya. Sebagai pimpinan perusahaan (apapun levelnya) Ia banyak berhadapan dengan pihak luar atau rekanan. Ia barus mampu membangun komunikasi dengan segala pihak tersebut agar ia dapat membesarkan dan mengembangkan perusahaannya. Tentu saja, komunikasi tersebut banyak dilakukan dengan pembicaraan, misalnya saat-saat pertemuan khusus dalam rangka membahas atau memperluas jaringan kerjasama.

Seorang psikolog atau ahli jiwa juga dituntut untuk mampu herbicara dengan baik. Ia setiap harinya banyak terlibat dalam menangani orang-orang yang memerlukan bantuan atau bimbingan kejiwaan. Ia biasanya banyak berbicara langsung dengan pasien atau orang yang memerlukannya. Psikolog melakukan pendekatan kejiwaan kepada orang lain, sekaligus ia juga banyak menggunakan tuturan lisan karena sering bertatap muka dengan orang yang dilayaninya. Memang, seorang psikolog tidak harus seorang pembicara handal atau semacam orator, tetapi ia harus secara efektif dapat menggunakan bahasa lisannya untuk keperluan tugas-tugasnya. Bukankah kemampuan berbahasa seseorang (termasuk kemampuan berbicaranya) juga akan dapat mencerminkan suasana kejiwaan seseorang. Bahasa juga sangat erat kaitannya dengan pikiran. Orang yang herbahasa sebenarnya sekaligus berpikir. Lain halnya dengan orang yang sedang mengigau saat tidur, ia tidak berbahasa. Sebab, orang mengigau tentu dalam keadaan tidak sadar.

Seorang pengatur acara atau protokol, baik dalam arti sebatas pembawa acara maupun dalam pekerjaannya secara lebih luas, maka ia harus memiliki kemampuan berbicara secara prima atau handal. Ia betul-betul memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang berkaitan dengan suatu acara, mengatur, atau mengendalikan acara dari awal hingga selesai. Suksesnya suatu acara amat bergantung pada pengatur acara atau dalam istilah yang lebih luas pranata adicara (Pringgawidagda, 2003). Tentang pengatur acara atau protokol atau pranata adicara ini akan dijelaskan secara tersendiri dalam buku ini.

Seorang artis juga harus memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Hampir semua peran artis di film atau sinetron secara langsung berkaitan dengan penerapan kemampuannya dalam berbicara. Bukankah hampir semua interaksi yang ada di film atau sinetron melibatkan kegiatan berbicara. Hal ini berlaku untuk semua jenis film, termasuk film komedi. Kemudian, artis lawak juga sangat banyak melibatkan pembicaraan atau percakapan. Semua pelawak dikenal sebagai orang yang pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya. Tentu saja, kemampuan berbicara para pelawak lebih diarahkan untuk memunculkan percakapan yang dapat melahirkan humor atau percakapan yang menyebabkan audiens atau penikmat lawak tertawa. Salah satu senjata utama pelawak adalah kemampuannya dalam berbicara. Memang, masih ada hal lain yang menentukan kelucuan seorang pelawak. Yang jelas peran ‘bicara’ tetap penting dalam rangkaian lawakan. Ia bisa bercerita lucu. Kita juga dapat membuat kalimat-kalimat yang secara spontan membuat orang tertawa.


Masalah dan solusi pengajaran bahasa Indonesia di Papua

Di Papua, pendidikan merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian penuh dari semua pihak, bukan hanya pemerintah dan guru. Masalah menurunya kualitas pendidikan seolah melekat pada guru dan pemerintah sebagai penyebab tidak meningkatnya kinerja dan kesejahteraan seorang guru. Jika dilihat sekilas, hal tersebut dibenarkan karena di tangan merekalah sumber keberhasilan tujuan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, hal tersebut juga tidak seratus persen dibenarkan, karena masih banyak pihak dan unsur-unsur lain yang menjadi penyebab sekaligus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Berikut ini akan dijelskan faktor-faktor utama yang menyebabkan menurunya kualitas pendidikan terutama di di daerah pedalaman Papua.

Guru
Menurut hemat saya, yang memegang peranan terpenting dalam menentukan keberhasilan pengajaran adalah guru. Bagaimanapun baiknya sarana pendidikan yang lain, apabila guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pengajaran pastilah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Banyak guru yang tidak ditempatkan sesuai dengan bidangnya terutama para guru yang yang berasal dari bidang lain namun mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia karena mata pelajaran bahasa Indonesia dianggap mudah dan merupakan bahasa bangsa sendiri atau juga anggapan karena setiap hari sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi atau untuk interaksi antar sesama. Seorang guru yang baik ialah seorang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang yang digelutinya, karena itu ia menguasai semua materi bahan pelajaran yang akan disuguhkannya kepada murid-muridnya.

Seorang guru yang baik haruslah kreatif dan berusaha agar murid-murid anak didiknya juga kreatif. Dia harus selalu mencari cara yang terbaik untuk menyajikan pelajarannya sehingga menarik murid, menimbulkan minat murid, dan membangkitkan kecintaan murid kepada mata pelajaran yang diasuhnya, bahasa Indonesia. Dia tidak puas dengan memberikan bahan pelajaran dari satu sumber saja, tetapi senantiasa mencari bahan-bahan baru yang up to date sehingga dapat memikat perhatian murid-muridnya. Dia selalu akan berusaha agar murid-muridnya tidak hanya pasif mendengarkan “ceramah”-nya, tetapi selalu bersikap kritis sehingga selalu akan mengajukan pertanyaan dengan tidak ragu-ragu dan takut terhadap apa yang diterimanya dari gurunya, tetapi kurang disetujuinya. Dia akan berusaha agar murid-muridnya tidak selalu hanya menerima saja dari gurunya, tetapi dapat “memberikan” sesuatu juga kepada gurunya atau kawan-kawannya dari hasil kreasinya (sajak, cerpen, karangan, dan lain-lain). Guru yang baik akan selalu berusaha agar kelasnya hidup. Kelas boleh saja agak ribut sedikit, tetapi terkendali karena guru dapat menguasai kelasnya itu dengan baik; kehangatan kelas yang timbul karena diskusi yang hidup sangatlah menggembirakan.

Buku
Harus diusahakan mengadakan buku-buku baku: tata bahasa, sastra, dan lain-lain untuk pegangan guru agar semua yang diajarkan di sekolah-sekolah sama. Bagi guru, yang penting dan perlu adalah yang sifatnya normatif. Guru harus selalu mengatakan kepada murid-muridnya, “ini yang betul, itu salah. ” Tidak dapat guru mengatakan bahwa yang berbeda-beda itu semuanya betul, boleh pilih mana saja.

Harus pula ditetapkan buku-buku mana yang boleh digunakan guru sebagai pelengkap, disebutkan judulnya, dan nama pengarangnya. Kalau kita mengharapkan murid-murid kita menjadi orang yang menguasai bahasa Indonesia dan terampil berbahasa Indonesia, kita tentu tidak dapat menyandarkannya hanya pada satu buku, yaitu buku paket untuk seluruh Indonesia.

Kekurangan jam tatap muka dengan murid dapat ditutup dengan bahan yang disusun guru sebagai pelajaran modul, di samping buku-buku pelengkap yang disinggung tadi. Murid dibiasakan untuk dapat belajar sendiri, tetapi guru harus menyediakan waktu untuk tanya jawab dengan murid-muridnya karena selalu ada hal-hal yang kurang jelas, yang memerlukan keterangan untuk memahaminya.

Menyusun buku seperti buku paket jangan selalu hanya dimonopoli oleh orang-orang di Jakarta, seakan-akan para ahli hanyalah orang yang ada di Jakarta. Tenaga-tenaga dari kota lain ada juga yang dapat membantu kalau diminta. Anggota penyusun buku haruslah orang yang ahli dalam bidangnya bukan hanya nama yang terpampang, tetapi mungkin sahamnya dalam penyusunan buku itu tidak ada.

Kurikulum
Kurikulum sebaiknya dibuat terperinci jelas, tidak terlalu sarat materinya, berurut baik materinya dan yang mudah hingga yang sukar, tidak tumpang tindih. Harus jelas untuk materi pokok yang sama, yang mana atau bagian mana yang diberikan di SD, yang mana di SMTP, dan yang mana pula di SMTA agar guru tidak selalu mengulang-ulang materi yang sama, yang sering membuat murid bosan dan tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia.

Hasil penilaian terhadap materi kurikulum berbagai jenis/tingkat sekolah dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah menunjukan adanya kelemahan-kelemahan yang berkenaan dengan aspek keselarasan antara lingkup dan kedalaman bahan yang menyebabkan saratnya materi pelajaran, keselarasan veritikal yang menyangkut tata urutan pokok-pokok bahasan, dan kesesuaian materi dengan perkembangan-perkembangan baru yang terjadi.

Satu masalah pokok yang harus mendapatkan perhatian dalam penyusunan kurikulum ialah ketentuan materi yang tumpang tindih. Ada yang tercantum di kurikulum SMTP, tercantum seperti itu pula di kurikulum SMTA. Perinciannya tidak jelas: apa yang harus diajarkan di SMTP dan apa yang di SMTA sebagai lanjutannya. Kalau batasan itu tidak jelas, besar kemungkinannya bahan yang diberikan di SMTP diulang lagi di SMTA, sehingga pelajaran seolah-olah tidak ada habis-habisnya.

Tujuan Pengajaran dan Metode
Harus jelas apa tujuan atau sasaran yang ingin dicapai oleh pengajaran bahasa Indonesia ini. Akan menjadikan murid-murid kita orang yang banyak pengetahuannya tentang seluk-beluk bahasa Indonesia atau sastra Indonesia, ataukah ingin menjadikan mereka orang-orang yang terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan serta membangkitkan minat murid pada hasil karya sastra Indonesia?

Metode pengajaran tentulah harus sejalan dengan tujuan yang akan dicapai. Jika tujuan pertama yang ingin dicapai, metode ceramah mendapat tempat utama. Bila yang kedua yang ingin dicapai yaitu keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra, tentulah diskusi, latihan, kegiatan sendirilah yang harus banyak diberikan.

Evaluasi
Bahwa pengajaran bahasa indonesia di sekolah-sekolah lebih cenderung kepada pengetahuan bahasa daripada keterampilan berbahasa, dapat kita lihat dari soal-soal tes atau soal-soal ulangan dan ujian. Corak pertanyaan guru lebih bersifat teoretis daripada praktis. Jawaban yang diminta guru dari soal-soal itu kebanyakan jawaban hafalan. Disinilah letak kegagalan itu.

Guru bahasa Indonesia harus selalu ingat akan tujuan pengajaran bahasa indonesia, baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Tujuan umum yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, manusia indonesia yang pancasilais. Tujuan khusus yaitu membentuk manusia Indonesia yang cinta akan bahasa nasionalnya, serta terampil menggunakannya secara lisan maupun tulisan.


Sumber :
Badudu, J.S. 1993. Cakrawala Bahasa Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

=========
Oleh:
ariesrutung95

Songke - Kain Tenun Khas Daerah Manggarai

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Sebagai contoh dalam artikel ini, kita akan mengenal tentang kebudayaan Daerah Manggarai - Nusa Tenggara Timur dari segi kain. Berikut penjelasannya.



SONGKE
KAIN TENUN KHAS DAERAH MANGGARAI



Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia - FKIP - Universitas Papua
Pos-el: ariessipriano@gmail.com  

Sejarah Songke
Pada tahun 1613-1640 kerajaan Gowa Makasar-Sulawesi Selatan pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah Manggarai Raya. Pertemuan dengan berbagai macam kepentingan budaya melahirkan sesuatu yang baru bagi kebuadaayan orang Manggarai termasuk di dalamnya masalah berbusana sehingga kebudayaan dari Makasar sebagiannya dibawa ke Manggarai termasuk juga masalah kain yang dipakai. Orang Makasar menyebut songke dengan sebutan songket, tetapi orang Manggarai lebih mengenalnya dengan sebutan songke (tanpa akhiran huruf t).

Makna Songke
Jika ditelusuri dari sisi sejarah, dahulu songke hanya dipakai oleh orang-orang tertentu saja yang kedudukannya jauh lebih tinggi dari  masyarakat biasa (golongan bangsawan) yang orang Manggarai sebut kraeng (tuan) atau daeng bagi orang Makasar. Kaum bangsawan itu menganggap bahwa songke merupakan wengko weki (kain pelindung tubuh). Dapat dibilang bahwa songke merupakan jejak budaya orang Manggarai.

Jenis dan Ukuran Songke
  1. Sarung: panjang 135 x lebar 170 cm
  2. Selendang atau syal: panjang 200 cm x lebar 20 dan 30 cm
  3. Baju: semua ukuran (M, L, S, XL, XXL)
  4. Rok: semua ukuran (M, L, S, XL, XXL)
  5. Peci: berbagai usia dengan ukuran tinggi 20 cm.
Proses Pembuatan Songke
Ketika saya masih kecil, saya sering melihat kakek dan nenek saya pergi ke hutan mencari kapas hutan (dalam bahasa Manggarai kami menyebutnya kampas). Sepulangnya dari hutan mereka membawa banyak kapas. Kemudian kapas dipisahkan antara kulit buah, biji dan kapas yang akan dipakai. (Ciri pohon kapas hutan yang saya lihat ketika itu: tingginya sedang bahkan ada yang tidak mencapai satu meter, buahnya berbentuk lonjong kecil, daunnya berbentuk jari, dan ketika sudah tua, buahnya akan pecah, sehingga kapasnya mencuat keluar, tapi tidak mudah jatuh bahkan ketika ditiup angin, sehingga dari kejauhan kita bisa mengetahui, kalau di tempat itu ada pohon kapasnya, karena memang warna kapas yang alami putih, sangat jelas terlihat. Ada juga pohon kapas yang sengaja ditanam oleh kakek saya untuk keperluan sehari-hari membuat sumbu pada lampu pelita, untuk dijadikan benang jahit atau benang tenun setelah diproses secara tradisional). Kemudian kapas yang sudah dipisahkan,  dijemur hingga benar-benar kering dan siap untuk dipintal.

Proses pemintalan menggunakan alat pemintal tradisional yang oleh orang Manggarai menyebutnya gasong (Alat yang terbuat dari sebuah papan berukuran kecil bulat yang ditengahnya dipasang kayu sebesar jari kelingking anak-anak). Kapas kemudian dililitkan pada ujung atas kayu kecil, lalu gasong diputarkan sehingga benang seperti dipintal, sambil jari tangan sebelah kiri menyambung kapas-kapas yang terpisah. Proses ini akan mengubah menjadi benang. Saya melihatnya sangat rapi, meskipun warna benang yang dihasilkan tidak seputih kapas ketika baru pertama kali diambil dari hutan, karena memang proses ini membutuhkan waktu yang lama, sehingga kadang kakek dan nenek saya sampai berkeringat.

Benang hasil pintalan kemudian dililitkan pada tubuh gasong sampai alat ini benar-benar tidak kelihatan kayu tengahnya dan sudah dirasa berat. Benang kemudian dipindahkan dari gasong ke alat yang namanya woer, yaitu alat untuk membentuk benang menjadi gumpalan-gumpalan berbentuk bulat seperti bola.

Proses untuk menghasilkan benang yang sudah siap dipakai tak hanya sampai di sini. Benang masih harus diwarnai sesuai kebutuhan (lazimnya warna hitam) menggunakan pewarna alami terbuat dari pohon nila dan arang. Setelah diwarnai, benang dikeringkan. Jika benang hendak dipakai sebagai benang jahit maka benang hasil pintalan harus terlebih dahulu dilicinkan dengan dengan liling (rumah lebah penghasil madu yang sudah dikeringkan kemudian dipadatkan). Caranya, benang ditempelkan atau ditekan dengan jari pada liling kemudian benang ditarik sehingga setiap serat benang menyatu. Akan tetapi, jika benang dipakai untuk menenun sehelai kain, maka langkah tadi dilewatkan.

Setelah benang mencukupi kebutuhan penenunan kain songke, benang kemudian dibuat menjadi mal kain dengan alat tradisional yaitu wenggi. (kayu berukuran 1,5 m sebanyak 2 buah untuk lebar dan 2 m sebnyak 2 buah untuk panjang yang dirangkai menjadi persegi panjang dan diletakan setinggi kurang lebih 30 cm diatas tanah dengan setiap sudut diberi bantu pengalas). Untuk memulai membentuk mal songke dibutuhkan 2 orang perempuan untuk duduk di dalam mal, lalu benang diikatkan pada kayu yang dijadikan lebar, apakah mulainya dari samping kiri atau kanan tergantung kelincahan dari yang mengerjakan. Keduanya berbagi tugas baik memberi maupun menerima benang. Benang yang diterima lalu dikaitkkan pada kayu lalu diberikan lagi kepada si pemberi. Begitu terus, hingga ukuran yang diinginkan terpenuhi. Proses pembuatan ini kita sebut dengan istilah maneng. Setelah maneng selesai, mal kain songke (berang) dipidahkan ke alat tenun tradisional. Ketika proses ini sudah dilakukan, maka aktivitas selanjutnya adalah menenun berang hingga menjadi sehelai kain songke. Proses ini membutuhkan waktu yang lama  sekitar berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada ketersediaan benang, banyaknya motif yang digunakan dan kemahiran si penenun songke.

Alat-alat yang digunakan untuk menenun songke adalah sebagai berikut:
  1. Lihu, kayu yang diletakan di bagian belakang pinggang sebagai penahan beban (berang)
  2. Pesa, kayu yang dipasangkan antara berangdan lihu yang letaknya di bagian perut. Alat ini berpasangan dengan lihu yang dihungkan dengan wase (tali) sebagai pengait. Alat ini dipakai untuk penampung kain yang sudah jadi atau sudah ditenun.
  3. Mbira, sebagai pengancing benang yang dimasukan dari kiri atau kekanan juga untuk mengancing benang sulam motif dengan cara ditarik sebanyak 1 atau 2 kali ke arah perut.
  4. Keropong, bambu berukuran kecil tempat diletakannya keliri atau lebih cocoknya disebut sebagai rumah keliri agar ketika dimasukan diatara celah-celah benang berang, kliri tidak tersangkut. Keliri adalah kayu kecil berukuran sekitar 40 cm yang dililitkan benang yang dipakai sebagai pengunci benang sulam yang dimasukan dari kiri ke kanan.
  5. Jangka, alat yang berbentuk seperti sisir rambut yang berfungsi sebagai pemisah benang 1 helai ke sebelahnya. Jadi setiap ruang antara gigi jangka yang satu ke yang lain diletakan benang diantaranya.
  6. Nggolong, alat dari bambu yang berukuran sekitar ibu hari orang dewasa yang digunakan sebagai pemberi ruang agar kliri bisa masuk dari sebelah kiri ke kanan atau sebaliknya.
  7. Kerempak, kayu persegi yang dipakai sebagai penekan saat akan menggantikan posisi dari mbira dan nggolong.
  8. Donging, kayu bercabang yang membentuk sudut 30 derajat tempat menaruh banggang atau papan yang dilit oleh berang.
  9. Banggang, papan yang digunakan untuk melilitkan berang.
  10. Benang sulam digunakan untuk membentuk motif
  11. Berang, mal kain songke

Di era modern ini, sudah tidak banyak orang di daerah-daerah di Kabupaten Manggaraiyang menggunakan cara tradisional untuk menghasilkan atau membuat benang. Selain karena cara tersebut rumit dan lama, pohon kapas sebagai penghasil bahan baku pembuatan benang juga sudah jarang ditemukan karena orang di daerah saya saat ini, semua sudah bermigrasi kepantai. Kita sama tahu bahwa pohon kapas sulit tumbuh di daerah yang panas. Banyak orang yang saya jumpai saat ini lebih memilih membeli benang yang sudah jadi, yang dijual di pasar-pasar, atau toko-toko.

Meskipun cara menenun kain Songke masih menggunakan cara tradisional, setidaknya untuk mendapatkan benang sudah tidak serumit zaman dulu. Saya juga kasihan dengan ibunda saya tercinta, yang harus mengorbankan banyak waktu untuk menghasilkan sehelai kain songke. Dengan teknologi yang semakin maju, setidaknya juga memberi banyak kemudahan bagi kaum perempuan di daerah saya dalam hal menenun kain Songke. Meski tak dapat dipungkiri juga bahwa, selain teknologi memberikan kemudahan, di sisi lain saya melihatnya justru menghilangkan secara perlahan tradisi turun-temurun nenek moyang orang Manggarai yang seharusnya generasi saat ini tahu akan hal tersebut. Saya sangat yakin, anak-anak Manggarai di daerah yang sudah terkena atau “terinfeksi” Budaya Barat Modern, sudah tidak lagi yang tahu menenunsongke. Jangankan disuruh untuk menenun songke, pegang alatnya saja tidak pernah. Apalagi orang tua yang sudah malas memberikan ilmunya kepada orang lain. Menambah terpuruknya Budaya asli Manggarai.

Meskipun tak luput dari masalah diatas, tetapi saya sangat mengagumi beberapa daerah di Manggarai Tengah (Manggarai) yang hingga saat ini generasi mudanya (perempuan) masih sangat aktif dalam hal menenun songke seperti: Todo, Wae Rebo, Cibal, dan Borik (tempat kelahiran saya). Karena kami memegang teguh falsafah hidup, bahwa sesorang anak perempuan tidak bisa di kawinkan/dinikahkan apabila yang bersangkutan tidak tahu atau mahir dalam menenun songke meskipun sudah masuk dalam zona atau umur pernikahan. Perempuan asli Manggarai wajib hukumnya untuk menenun songke, tanpa terkecuali.

Pemanfaatan Songke
Songke biasa dipakai dalam upacara adat seperti penti (Pesta Kenduri), caci (tarian adat Manggarai), lipa tabing (songke yang diberikan oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan pada saat lamaran), kawing (sebagai Belis/Emas Kawin), lipa rapu (pembungkus mayat), randang (membuka kebun baru), nempung (musyawarah), tombo adak (pembicaraan megenai adat) dan kegunaan sehari-hari seperti untuk sarung, pengganti busana ibadah baik kaum perempuan maupun laki-laki, baju, celana, jas, peci dan syal. Akan sangat terhormat apabila seseorang yang bertamu ke keluarga atau tetangganya mengenakan songke.

Songke banyak digemari bukan hanya oleh orang Manggarai sendiri tetapi juga orang dari luar daerah Manggarai bahkan sampai ke Luar Negeri, karena disamping kain ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari juga yang tak kalah menarik adalah keindahanberbagai motif yang ketika dipadukan menjadi satu membuat semua yang melihat terkagum-kagum. Berikut ini merupakan beberapa gambar kegunaan kain songke.
       
Nilai Songke
Warna dasar benang yang dipakai dalam penenunan songke adalah hitam yang bagi orang manggarai warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange, dan kuning. Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup,kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Berikut beberapa motif yang sering dipakai dalam penenunan kain songke dan maknanya:
  1. Motif wela kawu (bunga kapuk) bermakna keterkaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.
  2. Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras.
  3. Motif ju’i (garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya.
  4. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa “porong langkas haeng ntala” supaya senantiasa tinggi sampai ke bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.
  5. Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini.
Karena nilai estetis dan terapannya sangat tinggi, modal yang dikeluaarkan untuk membeli kain yang satu ini pun sangat fantastis. Kembali lagi pada masalah ukuran, tingkat kesulitan penganyaman motif, dan lamanya proses penenunan. Harga songke yang ditawarkan berkisar antara 400-an sampai pada level jutaan.

Tradisi Songke
Sejauh yang saya amati hingga saat ini, tidak ada kriteria atau syarat yang dituntut bahkan upacara adat dan ritual khusus (tradisi) untuk mengizinkan seseorang memakai atau menggunakan kain songke. Siapa saja dapat memakai songke, selama tidak mengurangi rasa hormat akan kebudayaan orang manggarai, yah sah-sah saja. Dengan kata lain tidak ada tradisi khusus untuk dapat mengenakan kain songke.


REFERENSI
http://krisbheda.wordpress.co.id/2012/05/18/catatan-dari-emperan-tentang-kain-tenun-songke todo-manggarai/
http://chyntia-abbo.blogspot.co.id/2012/03/kain-songke-manggarai.html
http://angelina-febunmer.blogspot.co.id/2016/01/kain-songke-manggarai-ntt.html
http://citraindonesiaku.blogspot.co.id/2013/05/kain-songke-manggarai.html
http://www.yustasuryonoafriteo.blogspot.com
http://www.jambulkuning.blogspot.com
https://yanuirdianto.wordpress.com/2013/03/10/96/


Sekian....

===========
Oleh:
ariesrutung95

Konsep dasar membaca - Mata kuliah Membaca

Membaca adalah proses lengkap antara kegiatan yang mengandung komponen fisik dan mental. Dalam hal ini, arti membaca memiliki kandungan yang menjelaskan tentang hubungan secara fisik dalam menerjemahkan tulisan atau catatan dengan mental yaitu memahami dari hasil terjemaahan teks atau tulisan menjadi maksud-maksud tertentu sesuai dengan catatan yang diterjemaahkan.
Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. Meskipun kita memiliki “keterbatasan waktu”, kita tetap perlu mengasah kemampuan kita.
Membaca merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan, yakni mengamati, memahami, dan memikirkan (Jazir Burhan, 1971:90).

Konsep Membaca Menurut Para Ahli
Menurut Harjasujana dan Mulyati (2003:5-25), membaca merupkn perkembangan ketrampilan yang bermula dari kata dan berlannjut kepada membaca kritis. (Rusyana, 1984:190) mengartikan membaca sebagi suatu kegiatan memahami pola-pola bahasa dalam penampilannya secar tertulis untuk memperoleh informasi.

Menurut Tarigan (2008:7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Dalam hal ini, membaca suatu usaha untuk menelusuri makna yang ada dalam tulisan.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses perubahan bentuk lambang/tanda/tulisan menjadi wujud bunyi yang bermakna. Membaca itu bersifat reseptif.

Tujuan Membaca
Pada dasarnya kegiatan membaca bertujuan untuk mencari dan memperoleh pesan/memahami makna melalui bacaan. Tujuan membaca tersebut akan berpengaruh kepada jenis bacaan yang dipilih. Menurut Anderson (2003:11), ada tujuh macam tujuan dari kegiatan membaca, yaitu:
  1. Reading for details or fact (Membaca untuk memperoleh fakta dan perincian)
  2. Reading for main ideas (membaca untuk memperoleh ide-ide utama)
  3. Reading for sequence or organization (Membaca untuk mengatahui urutan/susunan struktur karangan).
  4. Reading for inferens (Membaca untuk menyimpulkan).
  5. Reading to classify (Membaca untuk mengelompokan/mengklasifikasikan).
  6. Reading to evaluate (Membaca untuk menilai/mengevaluasi).
  7. Reading to compare or contrast (Membaca untuk membandingkan/mempertentangkan)
Tujuan membaca tertentu menuntut teknik membaca tertentu. Ada beberapa macam variasi tujuan membaca yaitu:
  1. Membaca untuk tujuan studi (telaah ilmiah);
  2. Membaca untuk bertujuan menangkap garis besar bacaan;
  3. Membaca untuk menikmati karya sastra;
  4. Membaca untuk mengisi waktu luang;
  5. Membaca untuk mencri keterangan tentang suatu istilah (Nurhadi, 2004:12).
Jelaslah bahwa tujuan membaca seseorang itu didasari atas kebutuhan seseorang atas informasi dan hiburan yang dirasakan penting baginya.

Manfaat Membaca
  1. Memperoleh banyak pengalaman hidup
  2. Memperoleh pengetahuan umum dan berbagai infomasi tertentu yang sangat berguna bagi kehidupan
  3. Mengetahui berbagai peristiwa besar dalam peradaban dan kebudayaan suatu bangsa
  4. Dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia
  5. Dapat memperkaya batin, memperluas cakrawala pandang dan pola pikir, meningkatkan taraf hidup dan budaya keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa
  6. Dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan, dapat mengantarkan seseorang menjadi cerdik pandai.
  7. Dapat memperkaya perbendaharaan kata, ungkapan, istilah, dan lain-lain yang sangat menunjang keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis.
  8. Mempertinggi potensialitas setiap pribadi dan mempermantap eksistensi dll.
Fungsi Membaca
Kegiatan  membaca yang sangat bermanfaat itu bahkan ada yang menyatakan sebagai jantungnya pendidikan, memiliki banyak fungsi, antara lain:
  1. Fungsi intelektual;
  2. Fungsi pemacu kreativitas;
  3. Fungsi praktis;
  4. Fungsi rekreatif;
  5. Fungsi informatif;
  6. Pembunuh sepi;
  7. Fungsi religius; dan
  8. Fungsi sosial.
Teknik Membaca
Untuk menemukan informasi secara efesien, ada beberapa teknik membaca yang digunakan, (Tampubolon,1990) yaitu:
  1. Baca pilih (selecting) ialah bahwa pembaca memilih bahan bacaan dan/bagian-bagian bacaan yang dianggapnya relevan/berisi informasi fokus yang ditemukannya.
  2. Baca lompat (skipping) ialah bahwa pembaca dalam menemukan bagian yang melampaui bagian-bagian lain. 
  3. Baca layap (skimming), yaitu membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum suatu bacaan/bagiannya. 
  4. Baca tatap (scanning), yaitu membaca dengan cepat dan dengan memusatkan perhatian untuk menemukan bagian bacaan yang berisi informasi fokus yang telah ditentukan.

Jenis Membaca
Membaca Nyaring

Membaca nyaring adalah kegiatan membca dengan mengeluarkan suara/kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. Membaca nyaring bertujuan agar seseorang mampu mempergunakan ucapan yang tepat, membaca dengan jelas dan tidak terbata-bata, membaca dengan tidak terus-menerus melihat pada bahan bacaan, membaca dengan menggunakan intonasi dan lagu yang tepat dan jelas.

Membaca nyaring adalah suatu aktivitas/kegiatan yang merupakan alat bagi  guru, murid ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain/pendengar untuk menangkap/memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang penngarang (Tarigan, 1982:23)

Membca nyaring adalah kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara/kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras (Dalman, 2014:63). Beberapa faktor yang perlu diperhatikn pembaca dalam membaca nyaring:
  1. Pembaca harus mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bahan bacaan.
  2. Pembaca harus mempelajari kesimpulan penafsiran/lambang-lambang tertulis sehingga penysunan kata-kata serta penekanan sesuai dengan tujuan.
  3. Pembaca harus memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh.
  4. Pembaca harus mengelompokan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi para pendengar (Tarigan,1982:23)
Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, di antaranya adalah:
  1. Menggunakan ucapan yang tepat;
  2. Menggunakan frasa yang tepat;
  3. Menguasai tanda-tanda baca;
  4. Membca dengan terang dan jelas;
  5. Membaca dengan tidak terbata-bata;
  6. Menggunakan intonasi suara yang wajar;
  7. Membaca dengan penuh perasaan, ekspresi;
  8. Mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya;
  9. Kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya;
  10. Membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan;
  11. Membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendari.
Tujuan membaca nyaring yaitu agar seseorang mampu mempergunakan ucapan yang tepat, membaca dengan jelas dan tidak terbata-bata, membaca dengan terus-menerus melihat pada bacaan, membaca dengan intonasi tepat dan jelas (Dalman, 2010:23). Adapun manfaat membca nyaring itu sendiri, yaitu sebagai brikut: (1) Dapat memuaskan dan memenuhi berbagai ragam tujuan serta mengembangkan sejumlah keterampilan dan minat dan (2) Dapat menyampaikn informasi yang penting kepada para pendengarnya (Tarigan, 1994:23).
Membaca Senyap (Dalam Hati)
Membaca senyap/membaca dalam hati adalah membaca tidak bersuara, tanpa gerakan bibir, tanpa gerakan kepala, tanpa berbisik, memahami bahan bacaan yang dibaca secara diam/dalam hati, kecepatan mata dalam membaca tiga kata per detik, menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati, dan dapat menyesuaikn kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bahan bacaan itu.

Membaca senyap adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya. Keterampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:
  1. Membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergrk, tanpa ad desis apa pun;
  2. Membaca tanpa ada gerakan-gerakn kepala;
  3. Membca lebih cepat dibandingkn dengan membaca nyaring;
  4. Tanpa mengguntukan jari/alt lain sebagai penunjuk;
  5. Mengerti dan memahami bahan bacaan;
  6. Membaca dengan pemahaman yang baik;
  7. Dituntut kecepatan mata dalam membca.
Membaca dalam hati atau membaca senyap dapat dibagi atas:
Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Membaca ekstensif meliputi membaca membaca survei, membaca sekilas, dan membaca dangkal. Ada tiga tujuan utama dalam membaca sekilas, yaitu:
a)      Untuk memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku/artikel, tulisan singkat.
b)      Untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan.
c)      Untuk menemukan/menempatkn bahan yang diperlukan.
Membaca Intensif
Membaca intensif adalah studi saksama, telaah, teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakn di dalam kelas terhdap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari. Membaca intensif dibedakan atas membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa.

Membaca telaah isi
  1. Membaca Teliti, membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
  2. Membaca Pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang standar-standar/norma-norma kesastraan (literary standards), resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).
  3. Membaca Kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris.
  4. Membaca Ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkn ide-ide yang terdapat pada bacaan.
  5. Membaca kreatif, adalah kegiatan membca yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi mampu jg secara kreatif menerapkn hsil membacanya untuk kehidpn sehari-hari.
Membaca telaah bahasa
  1. Membaca Bahasa (Foreign Language Reading), tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata (increasing word power) dan mengembangkan kosakata ( developing vocabulary).
  2. Membaca Sastra (Literary Reading), dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Membagi membaca berdasarkan tingkatannya menjadi empat jenis, yaitu membaca permulaan, membaca inspeksional, membaca analitis, dan membaca sintopikal.
  3. Membca Kilat (Skimming) yaitu membaca yang mengutamakan esensi materi bacaan, tanpa membaca keseluruhan isi bacaan tersbut. Tujuan membaca ini ialah menangkap seperangkat ide pokok, mendapatkan informasi yang penting dalam waktu singkat dan terbatas, dan menemukan pandangan/sikap penulis.
  4. Membca cepat (Speed Reading), ialah membaca dengan kecepatan tinggi, hanya membaca kalimat demi kalimat dan paragaraf bukan per kata. Tujuannya memperoleh informasi, gagasan utama, dan penjelasan dari suatu bacaan dalam waktu yang singkat.
  5. Membaca studi (Careful Reading), yakni membaca yang dilakukan untuk memahami, mempelajari, dan meneliti suatu persoalan.
  6. Membca refleksi (Reflektive Reading), yakni  membaca untuk mendapatkan informasi yang terperinci lalu mengaplikasiknnya. Contohanyaa membaca menu masakan.

REFERENSI
Dalman. 2010. Membaca. Bandar Lampung: Universitas Muhammadiyah Lampung Press.
Dalman. 2014. Keterampilan Membaca. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tarigan, H. G. 1982. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: IKIP- STIA.
Aderson, N. “Reading” dalam Practical Language Teaching Reading. New
Harjasujana, dan Mulyati. 2003. Membaca dalam Teori dan Praktek. Bandung: Mutiara.
Nurhadi. 2004. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca: Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 
Rusyana, Y. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV Diponegoro.
Tarigan. H. G. 2008. Membaca. Bandung: Angkasa.

=========
Oleh:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA