Manfaat kemampuan berbicara - Public Speaking

Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan langsung jika seseorang mampu atau terampil berbicara. Beberapa manfaat tersebut dapat dikemukakan melalui beberapa butir di bawah ini.

Memperlancar Komunikasi antar Sesama
Komunikasi antar manusia terbanyak dilakukan dengan jalan atau melalui berbicara. Oleh karena itu, secara mendasar bahwa kemampuan berbicara menduduki peranan penting dalam kamunikasi antar sesama. Di mana-mana kita menyaksikan berbicara satu sama lain. Pembicaraan terjadi di pasar, di rumah, di sekolah, di bandara, di forum-forum resmi, pergaulan sehari-hari di kampung atau di masyarakat, dan tempat serta kesempatan lainnya yang sangat beragam. Antar sesama, orang berbicara dengan bahasa tertentu. Mereka saling memahami. Sudah menjadi kesepakatan alami bahwa jika orang berkomunikasi satu sama lain, maka harus menggunakan yang sama, ada yang harus menyesuaikan diri, jika sebelumnya yang terlibat bicara berlatar belakang bahasa yang berbeda.

Seseorang yang pandai berbicara dengan baik, maka dengan sendirinya, ia akan memperoleh kemudahan dan kelancaran dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Satu hambatan dalam berinteraksi sudah teratasi, saluran bahasanya tidak bermasalah. Bisa dibayangkan, jika seseorang berbicara tidak jelas, kurang lancar, tertahan-tahan, dan susunan kata dan kalimatnya sulit dicerna, tentu akan menyulitkan lawan bicaranya dalam menyerap dan menanggapi pembicaraan orang tersebut. Memang, dalam kasus tertentu bisa dipahami adanya ketidakjelasan, ketidaklancaran, dan ketidakteraturan susunan kata dan kalimat yang dialami seseorang. Kasus seperti ini sangat mungkin terjadi misalnya ketika pembelajar bahasa asing (misalnya orang yang baru belajar bahasa Arab) mengadakan pembicaraan dengan penutur aslinya atau antar pembelajar bahasa tersebut. Mereka mengalami kendala untuk saling memahami, tetapi biasanya penutur asing dapat menerima tuturan lawan bicaranya, berusaha memahaminya, atau dengan kata lain memberikan toleransi yang tinggi kepada lawan bicaranya. Yang penting, mereka dapat saling memahami.

Dalam berkomunikasi antar sesama, orang yang terlibat dalam pembicaraan tidak sekadar dapat saling memahami, tetapi komunikasi lewat pembicaraan harus berjalan efektif. Masing-masing yang terlibat dalam pembicaraan tidak mengalami kendala yang berarti, harus ada kemudahan atau kecepatan yang memadai dalam menerima dan memberi sesuatu dalam interaksi saat pembicaraan berlangsung.

Mempermudah Pemberian Berbagai Informasi
Ketepatan dan kecepatan informasi yang diberikan melalui lisan dari seseorang kepada yang lain amat bergantung pada mutu dan kejelasan pembicaraan pemberi informasi. Karena itu, orang yang mampu berbicara dengan baik kemungkinan besar dapat menyampaikan informasi secara tepat dan cepat kepada lawan bicaranya. Betapapun seseorang memiliki kemampuan secara intelektual, jika ia lemah dalam berbicara, maka Ia akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya kepada orang lain. Banyak orang pandai gagal berkomunikasi, terhambat dalam menyampaikan ide atau pemikirannya kepada orang banyak, karena ia tidak memiliki kemampuan dalam berbicara di depan umum (Romli, 2003:64). Bisa dibayangkan akan sangat sulit informasi diserap oleh penerima, jika yang memberikan informasi memiliki kemampuan yang Iemah dalam mengkomunikasikan sesuatu secara lisan (melalui berbicara). Oleh karena itu, orang-orang yang sering bergelut di bidang pemberian informasi, termasuk mereka yang bergerak di bidang hubungan masyarakat atau kehumasan sangat perlu rneningkatkan kemampuan berbicaranya.

Sebenarnya setiap orang tidak bisa melepaskan din dan kegiatan memberi dan menerima informasi. Karena itu, setiap orang juga perlu meningkatkan kemampuannya dalam Iwrbicara, minimal apabila dihadapkan pada tugas-tugas yang herkaitan dengan pemberian informasi, ia akan dapat melakukannya dengan baik. Parajuru bicara yang bekerja untuk kml)aga tertentu atau untuk tokoh tertentu juga sangat berkewntingan dengan kemampuan berbicara. Seorang juru bicara presiden tentu harus mampu memberikan penjelasan kepada milNyarakat tentang sesuatu yang disampaikan presiden, jika priijelasan diwakilkan kepadajuru bicara. Juru bicara harus dapat memahami secara tuntas apa yang dikemukakan atau diinginkan olrh yang diwakilinya, tidak boleh ada pertentangan maksud.

Meningkatkan Kepercayaan Diri
Biasanya pembicara yang balk memiliki kepercayaan din yang tinggi. Ta dengan mantap mengungkapkan gagasan atau hunh pikirannya kepada orang lain, tanpa disertai keraguan. Pembicara yang baik lebih percaya diri dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Pembicara yang baik juga mengandung pengertian bahwa yang bersangkutan memiliki ketegasan dalam menyampaikan sesuatu, tetapi bukan berarti ia menunjukkan kekakuan. Ia menyampaikan sesuatu dengan lapang, tanpa beban saluran komunikasi (melalui lisan) yang digunakannya untuk orang lain. Dengan demikian, orang lain yang menjadi lawan bicara atau mitra tuturnya lebih meyakini apa yang dikemukakan oleh pembicara.

Pembicara yang baik bukan berarti orang yang dianggap pandai bersilat lidah atau dalam pengertian negatif, bukan ‘asbun’ atau asal bunyi. Pembicara yang dimaksudkan bukan pula digambarkan seperti pembicara yang berapi-api atau tampil secara berlebih-lebihan. Pembicara yang baik adalah seseorang yang mampu mengungkapkan sesuatu kepada orang lain dengan jelas dan bisa memahami keadaan lawan bicara atau mitra tuturnya. Dengan kata lain, pembicara yang baik berarti juga dapat menguasai audiensnya.

Meningkatkan Kewibawaan Diri
Pembicara yang baik memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Karena itu, secara langsung akan dapat meningkatkan kewibawaan dirinya pada saat dia tampil sebagai pembicara, sekaligus dimungkinkan kewibawaan itu akan menyatu atau berpengaruh terhadap keberadaan dirinya secara utuh. Pengalaman menunjukkan bagaimana tingginya wibawa Bung Karno sebagai presiden pertama RI. Wibawa Bung Karno antara lain karena kemampuannya dalam berpidato. Kewibawaan yang dimaksud bukan hanya terletak pada kemampuan berbicaranya, tetapi masih banyak faktor yang mempengaruhinya. Seseorang yang berbicara bukan sekadar mampu mengungkapkan sesuatu secara lisan, tetapi kualitas apa yang diungkapkan jauh lebih penting dan wujud pengungkapannya sendiri. Hal ini terkait dengan kualitas pengetahuan atau penguasaan bahan pembicaraan.

Mempertinggi Dukungan Publik atau Masyarakat
Tidak diragukan lagi seseorang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik atau katakanlah seseorang yang disebut sebagai orator akan lebih mudah mendapat simpati dan dukungan dari publik atau masyarakat. Biasanya masyarakat akan lebih mudah atau tertarik untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang dapat berkomunikasi secara efektif dengan mereka. Bagi kalangan masyarakat awam, tampaknya akan lebih mudah mendapat pengaruh atau dipengaruhi oleh seseorang yang tergolong pembicara yang baik. Dalam kegiatan politik, terutama pada saat-saat kampanye, para jurkam yang sudah berpengalaman biasanya akan dapat menarik simpati massa untuk mendukung partai politiknya, bahkan dalam rangka Pemilihan secara langsung (misalnya sebagai calon anggota DPR, DPD, Kepala Daerah, dan Presiden serta Wakil Presiden) kedudukannya sebagai jurkam dari calon kemungkinan besar akan memperoleh suara yang banyak karena kepandaiannya dalam berbicara. Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 memperlihatkan betapa kemampuan berbicara atau kemampuan berkomunikasi cukup mempengaruhi peta pemerolehan suara. Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai calon presiden meraih perolehan suara terbanyak dibanding calon lain. Salah satu keunggulan SBY adalah kemampuannya dalam berbicara, keteraturannya dalam bertutur kata, tentu juga keruntutan dan kejelasannya dalam menjelaskan program dan pandangan politiknya. Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Yusuf Kalla akhirnya terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI. Susiolo Bambang Yudhoyono memang pernah meraih predikat sebagai pengguna bahasa Indonesia terbaik atau mendapat penghargaan sebagai salah satu tokoh yang patut diteladani dalam hal kemampuannya menggunakan bahasa Indonesia. Untuk itu SBY mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa pada saat Kongres Bahasa Indonesia tahun 2000 di Jakarta.

Para aktivis politik sangat pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya dalam meraih dukungan massa. Ia berbicara dengan jelas, tegas, dan disertai dengan penggunaan gaya bahasa yang dapat membuat massa tertarik, bahkan dengan mudah massa dapat diarahkannya untuk bersikap atau meyakini apa yang disampaikannya.

Satu hal yang perlu dicamkan bahwa kemampuan berbicara bukan satu-satunya penentu seseorang untuk memperoleh dukungan yang luas dan masyarakat. Masih banyak hal lainnya yang mempengaruhi besar-kecilnya dukungan masyarakat terhadap seseorang, seperti bagaimana sikap dan perilakunya dalam bergaul di masyarakat serta bagaimana jasa atau pengabdiannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tingkat kemampuan intelektual atau daya pikirnya dalam menyikapi dan memecahkan berbagai persoalan yang ada.

Jika kita amati, para tokoh masyarakat yang kemampuan berbicaranya baik, biasanya banyak menjadi ‘incaran’ para pengurus partai politik untuk dapat direkrut agar mau masuk ke partainya, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai pengumpul dan penarik simpati massa. Tokoh masyarakat yang berpredikat orator biasanya diminta untuk menjadi calon anggota legislatif (DPR) karena diyakini akan dapat menguntungkan masa depan partai dan tentunya diharapkan jika ia terpilih akan dapat menyuarakan kepentingan rakyat. Memang, kenyataan menunjukkan bahwa dalam kegiatan politik peranan para tokoh yang handal bicaranya cukup besar dalam membesarkan suatu partai. Bukankah segala gagasan dan jalan perjuangan partai harus dikomunikasikan ke masyarakat dengan jelas. Di sinilah antara lain betapa pentingnya peran orator partai sebagai ‘corong” politik partai.

Menjadi Penunjang Meraih Profesi dan Pekerjaan
Banyak profesi atau lapangan pekerjaan yang memerlukan kemampuan berbicara. Orang yang ingin menjadi guru atau dosen juga harus dilatarbelakangi kemampuan berbicara yang memadai. Sebab, pekerjaan atau profesi sebagai guru atau dosen, sehari-harinya banyak berhadapan dengan murid atau mahasiswanya. Interaksi antar keduanya tentu lebih banyak disaranai dengan kegiatan berbicara. Guru atau dosen yang berkualitas hendaknya juga mampu berbicara di depan peserta didiknya dengan baik. Ia harus mampu menjelaskan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada murid atau mahasiswanya. Memang, keberhasilan seorang guru atau dosen dalam mengemban tugasnya di kelas tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan berbicara, masih banyak hal lain lagi. Namun, bagaimanapun seorang guru atau dosen harus mampu berbicara atau berkomunikasi lisan dengan peserta didik yang dihadapinya. Seseorang yang bekerja sebagai wartawan juga dituntut untuk mampu berbicara. Wartawan akan banyak berhadapan dengan khlayak. Ia sering mendapat tugas untuk mewawancarai seseorang atau melaporkan suatu kegiatan dengan secara lisan. Wartawan terkadang terlibat dalam diskusi atau dialog. Kegiatan ini juga menuntut kemampuan berbicara para wartawan. Orang yang ingin menjadi penyiar di radio dan televisi juga harus dibekali dengan kemampuan berbicara yang memadai. Bagaimanapun, seorang penyiar setiap harinya bergelut dengan berita dan bicara. Sebagaimana layaknya wartawan, penyiar juga sering terlibat dalam kegiatan wawancara. Karena itu, penyiar juga harus handal dalam mewawancarai narasumber. Pendek kata, penyiar mutlak memiliki kemampuan berbicara yang memadai karena tugas kesehariannya didominasi oleh kegiatan berbicara.

Mereka yang berkecimpung di bidang hukum atau penegakan hukum juga memerlukan kemampuan berbicara yang memadai. Para jaksa dan hakim harus memiliki kemampuan berbicara yang handal. Dalam sidang di pengadilan, tentu saja jaksa dan hakim berperan banyak. Karenanya, para jaksa dan hakim harus betul-betul terlatih dalam mengemukakan sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Bicaranya harus jelas, tegas, dan berdasar pada hukum tertentu. Dalam kaitan ini juga mereka yang berpredikat sebagai pembela atau pengacara juga sangat dituntut untuk mampu berbicara secara efektif. Kenyataan menunjukkan bahwa para pembela atau pengacara umumnya telah memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Mereka sangat berpengalaman. Karena itu, dengan kemampuan berbicara yang mereka miliki, mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan di antara mereka menjadi terkenal dan banyak diminati oleh berbagai kalangan untuk dimintai jasa dalam menyelesaikan banyak kasus.

Meningkatkan Mutu Profesi dan Pekerjaan
Kemampuan berbicara tidak sekadar bermanfaat untuk memperoleh profesi dan pekerjaan, tetapi sekaligus dapat meningkatkan mutu profesi dan pekerjaan yang diemban seseorang. Seorang kepala sekolah akan lebih berwibawa dan lebih berhasil dalam menjalankan tugas-tugasnya jika ia dapat berkomunikasi dengan para guru dan staf sekolah secara efektif. Ia dapat mengarahkan bawahannya secara tepat. Salah satu ‘senjatanya’ adalah dengan kemampuannya dalam menyampaikan segala gagasan atau arahan secara lisan. Para guru dan staf sekolah ditempatkannya sebagai mitra tutur sehari-hari. Ia berbicara dengan lancar, termasuk dapat memahami pola pikir dan tingkah laku bawahannya sebagai mitra tutur. Seorang pimpinan perusahaan juga perlu terampil berbicara. Ia harus dapat melakukan pembinaan terhadap karyawannya. Salah satu cara pembinaan adalah dengan memberikan arahan atau nasihat yang dilakukan secara lisan. Ia selalu menjaga kontak langsung atau tatap muka dengan karyawannya. Ia dituntut untuk mampu melakukan negosiasi (juga secara lisan) dengan karyawan dalam menyelesaikan sutau masalah perusahaannya. Sebagai pimpinan perusahaan (apapun levelnya) Ia banyak berhadapan dengan pihak luar atau rekanan. Ia barus mampu membangun komunikasi dengan segala pihak tersebut agar ia dapat membesarkan dan mengembangkan perusahaannya. Tentu saja, komunikasi tersebut banyak dilakukan dengan pembicaraan, misalnya saat-saat pertemuan khusus dalam rangka membahas atau memperluas jaringan kerjasama.

Seorang psikolog atau ahli jiwa juga dituntut untuk mampu herbicara dengan baik. Ia setiap harinya banyak terlibat dalam menangani orang-orang yang memerlukan bantuan atau bimbingan kejiwaan. Ia biasanya banyak berbicara langsung dengan pasien atau orang yang memerlukannya. Psikolog melakukan pendekatan kejiwaan kepada orang lain, sekaligus ia juga banyak menggunakan tuturan lisan karena sering bertatap muka dengan orang yang dilayaninya. Memang, seorang psikolog tidak harus seorang pembicara handal atau semacam orator, tetapi ia harus secara efektif dapat menggunakan bahasa lisannya untuk keperluan tugas-tugasnya. Bukankah kemampuan berbahasa seseorang (termasuk kemampuan berbicaranya) juga akan dapat mencerminkan suasana kejiwaan seseorang. Bahasa juga sangat erat kaitannya dengan pikiran. Orang yang herbahasa sebenarnya sekaligus berpikir. Lain halnya dengan orang yang sedang mengigau saat tidur, ia tidak berbahasa. Sebab, orang mengigau tentu dalam keadaan tidak sadar.

Seorang pengatur acara atau protokol, baik dalam arti sebatas pembawa acara maupun dalam pekerjaannya secara lebih luas, maka ia harus memiliki kemampuan berbicara secara prima atau handal. Ia betul-betul memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang berkaitan dengan suatu acara, mengatur, atau mengendalikan acara dari awal hingga selesai. Suksesnya suatu acara amat bergantung pada pengatur acara atau dalam istilah yang lebih luas pranata adicara (Pringgawidagda, 2003). Tentang pengatur acara atau protokol atau pranata adicara ini akan dijelaskan secara tersendiri dalam buku ini.

Seorang artis juga harus memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Hampir semua peran artis di film atau sinetron secara langsung berkaitan dengan penerapan kemampuannya dalam berbicara. Bukankah hampir semua interaksi yang ada di film atau sinetron melibatkan kegiatan berbicara. Hal ini berlaku untuk semua jenis film, termasuk film komedi. Kemudian, artis lawak juga sangat banyak melibatkan pembicaraan atau percakapan. Semua pelawak dikenal sebagai orang yang pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya. Tentu saja, kemampuan berbicara para pelawak lebih diarahkan untuk memunculkan percakapan yang dapat melahirkan humor atau percakapan yang menyebabkan audiens atau penikmat lawak tertawa. Salah satu senjata utama pelawak adalah kemampuannya dalam berbicara. Memang, masih ada hal lain yang menentukan kelucuan seorang pelawak. Yang jelas peran ‘bicara’ tetap penting dalam rangkaian lawakan. Ia bisa bercerita lucu. Kita juga dapat membuat kalimat-kalimat yang secara spontan membuat orang tertawa.


Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA