Asal Mula Pulau Mansinam Manokwari- Provinsi Papua Barat

Pulau Mansinam merupakan salah satu pulau kecil di wilayah Kabupaten Manokwari. Pulau iini juga merupakan pulau pariwisata religi umat Kristen Protestan. Untuk mencapai pulau ini hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit menggunakan kapal mesin. Karena keunikannya, saya memilih pulau ini sebagai objek cerita rakyat. Persamaan tokoh dan lokasi bukan merupakan kesalahan penulis, karena dalam menyusun cerita ini tidak mengambil sumber atau referensi dari mana pun.
Dahulu kala di Manokwari, hiduplah seorang pemuda bernama Mambri. Dia adalah pemuda yang sangat tampan dan berbadan kekar. Si mambri mempunyai sebuah perahu kecil yang merupakan perhau yang dipakainya untuk mencari makan di laut dengan memancing ikan dan hampir setiap hari ia memancing.Setiap kali pulang ke rumahnya ia selalu membawa ikan besar.Suatu malam ia bermimpi didatangi seorang gadis cantik bernama insos. Dalam mimpinya insos berkata kepada si Mambri.epat di

“Besok, kamu tidak boleh pergi memancing. Tinggal saja di rumah”
“mengapa?” tanya si Mambri
“Pokoknya kamu tidak boleh pergi memancing” jawab sang gadis cantik itu.
“Tapi saya makan dari hasil pancinganku, mana mungkin saya tidak makan sepanjang hari. Kamu tahu, satu-satunya cara supaya saya bisa bertahan hidup adalah makan ikan.”
Namun seketika itu juga si Mambri terbangun dari tidurnya. Ia duduk dan merenugkan mimpinya.
“Ah....? Itu hanya mimpi!” kata si Mambri dalam hati.
            Keesokan harinya ketika si Mambri bangun, ia langsung bergegas pergi ke laut untuk memancing tanpa memikirkan mimpinya semalam. Sesampainya di tengah laut ia mulai menjatuhkanumpannya. Tidak berapa lama kemudian umpannya langsung disambar, rupanya ikan besar. Si mambri berusaha keras menarik tali pancingnya. Karena kekuatannya lebih besar, ikan tersebut tidak bisa melawan kerasnnya tarikan si Mambri.
“Ha.... ha... ha..., mana bisa kamu mengalahkanku ikan”ketawa Mambri dengan nada angkuh.
            Setelah mendapakan ikan, si Mambri pun pulang. Sesampainya di rumah, ia langsung membakar ikannnya untuk dijadikan santapannya siang itu. Sementara ia asik membakar ikan itu, tiba-tiba ia mendengar suara seperti bisikan di telinganya.
            ”Insoosssssssssssssssss” suara yang tidak jelas sumbernya dari mana.
           
Si Mambri rupanya tidak peduli dengan suara itu. Setelah ikan itu matang ia langsung melahapnya habis.
Malampun tiba, ketika si Mambri tertidur pulas, seorang pemuda paruh baya datang dengan menodongkan sebuah parang emas di leher si Mambri.
“Kamu telah mencuri anak kami, katakan dimana dia sekarang, atau tidak saya cincang kau dengan pedang ini.” Kata pemuda itu.
Si Mambri pun dengan lantang menjawab

“Mana saya tahu anak anda dimana, saya tidak pernah menculiknya. Saya bahkan hidup sendiri di sini.”
“Tidak...! Kamu sudah membunuh anak kami, pakaiannya kamu geletakkan begitu saja di luar” kata orang tua itu sambil menunjukan jarinya ke sisik ikan yang sudah ditangkapnya hari itu. “Kami tidak akan membiarkannmu keluar dari tempat ini” lanjut orang Tua itu.
Tiba-tiba, si Mambri ketakutan dan tubuhnya gemetar sehingga membangunkannya dari tidur. Rupanya ikan yang ditangkapnya hari itu adalah anak dari sang peghuni laut. Si Mambri langsung mengingat mimpinya pada malam sebelunya.

Karena amarah dari bangsa penghuni laut tidak terbendung, maka ditenggelamkan oleh mereka daerah di sekitar tempat tinggal si Mambri dan menghancurkan perahunyasehingga ia tidak bisa kemana-mana bahkan mencari makan untuk melangsungkan kehidupannya. Setiap hari ia hidup tanpa makan, sampai pada akhirnya ia mati dengan sia-sia karena kelaparan di daratan itu. Daratan itu adalah pulau kecil yang kita sebut pulau mansinam sekarang ini.

Konsep Dasar Rapat - Public Speaking

Istilah rapat sangat dikenal di kalangan masyarakat luas, dan masyarakat yang ada di perkotaan hingga masyarakat yang tinggal jauh di pedesaan. Rapat terkadang disebut juga musyawarah. Rapat dimaksudkan untuk membicarakan sesuatu, untuk menyampaikan sesuatu dari pihak tertentu ke pihak lain, untuk memutuskan sesuatu, atau untuk memberikan arah bagi suatu kegiatan atau pekerjaan. Rapat dilaksanakan bisa dalam bentuk yang amat sederhana, peserta rapatnya juga sangat terbatas, dan bahan yang dibicarakan juga sedikit. Rapat bisa juga dalam bentuk atau lingkup yang cukup luas. Rapat yang cakupannya luas, maka perencanaannya harus betul-betul matang, mungkin juga disertai dengan panduan tertentu yang harus ditaati oleh peserta rapat, serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Rapat juga ada yang disebut rapat rutin, rapat dadakan (tanpa rencana, secara tiba-tiba), atau mungkin rapat luar biasa. Rapat rutin, bisa waktunya setiap bulan, persetengah bulan, pertiga bulan, atau rapat pertahun (misalnya rapat operasi yang berupa RAT atau Rapat Anggota Tahunan) yang aekaligus bisa dimanfaatkan sebagai sarana rapat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi atau lembaga. Rapat bisa bertujuan untuk mengefektifkan suatu pekerjaan (termasuk pembahasan dan pembuatan rencana kerja) atau dalam bentuk rapat kerja (raker), juga ada rapat konsultasi, rapat koordinasi, rapat monitoring, dan lain-lainnya.

Ada lagi istilah rapat akbar atau kadang disebut rapat raksasa. Rapat akbar ini biasa digunakan untuk rapat besar yang pesertanya sangat luas, misalnya dalam rangka kampanye pernilu. Karena itu, kampanye sering juga disebut rapat akbar. Walaupun, rapat akbar tidak selalu dikaitkan dan diidentikkan dengan kampanye pemilu.

Apapun namanya, dalam rapat lebih didominasi oleh kegiatan berbicara, saling berbicara satu sama lain, saling mengemukakan pemikiran atau pendapat, dan biasanya ada semacam keputusan atau kesimpulan yang diambil setelah rapat usai. Memang, tidak mutlak bahwa setiap rapat harus ada keputusan, bisa saja keputusan belum diperoleh, justru keputusannya adalah dengan langkah kegiatan untuk melakukan rapat berikutnya atau rapat lanjutan.

Suasana rapat juga berbeda-beda, sesuai dengan sifat, tujuan, dan mereka yang menjadi peserta rapat (termasuk bagaimana pimpinan rapat menjalankan tugasnya sebagai pengendali situasi atau pengarah jalannya rapat). Ada rapat yang suasananya santai, cenderung berjalan biasa-biasa saja, tanpa ‘gejolak’ sedikitpun. Sebaliknya, ada rapat yang suasananya ‘amat panas’, cenderung tak terkendali, dan sesekali ada rapat yang berakhir dengan rusuh atau bubar tanpa membuahkan hasil yang diharapkan. Sebenarnya, rapat apapun harus dijalankan dengan baik, harus ada persiapan dalam segala hal, jangan ‘asal rapat’. Sebab, sebuah rapat merupakan pertemuan pemikiran, karenanya setiap peserta rapat harus dapat menerima atau mendengarkan dengan baik pemikiran orang lain, tidak boleh memaksakan pemikiran atau kemauan sendiri atau katakanlah ‘menonjolkan kelompoknya’. Rapat hendaknya berjalan demokratis, penuh toleransi antar sesama peserta rapat. Yang diutamakan adalah akal sehat atau pemikiran yang jernih, bukan perasaan dan ‘hawa nafsu’ yang hanya mementingkan diri sendiri. Seseorang yang mengikuti rapat bukan untuk ‘mengadili’ orang lain atau ‘menghantam’ saudara sendiri.

Kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipersiapkan untuk melaksanakan suatu rapat. Hal-hal tersebut dapat dibutiri seperti di bawah ini.

Pimpinan Rapat
Pimpinan rapat bisa dipegang oleh satu orang dan bisa pula oleh beberapa orang. Biasanya, pimpinan rapat ada yang langsung berperan sebagai pengendali atau pengatur jalannya rapat, dari awal hingga akhir. Kemudian, di samping pimpinan rapat tersebut, ada lagi sekretaris atau penulis rapat. Sekretaris bertugas mendampingi pimpinan rapat (atau bisa disebut ketua rapat) dan mencatat segala apa yang terjadi, termasuk berbagai masukan dari peserta rapat serta mencatat secara rapi dan sistematis hasil rapat. Pimpinan rapat hendaknya orang yang memiliki kemampuan yang memadai tentang berbagai hal. Di antara kriteria atau persyaratan seseorang untuk menjadi pimpinan rapat adalah sebagal berikut.
  1. Mampu mengendalikan diri, tidak emosional, atau memiliki sikap sabar;
  2. Menerima dengan lapang segala perbedaan pendapat yang berkembang saat rapat,
  3. Memahami dengan baik bahan atau mateni rapat
  4. Mampu mengendalikan jalannya rapat, termasuk dapat memberikan kesempatan berbicara kepada peserta rapat secara adil atau merata, tidak mendominasi dalam mengemukakan pendapat;
  5. Mampu meluruskan penyimpangan yang terjadi saat rapat, dapat memberikan peringatan, termasuk menghentikan peserta yang tampak berbicara tanpa arah dengan cara bijaksana atau penuh kearifan;
  6. Memiliki daya pikir dan daya tangkap memadai, sehingga ia dapat menyerap apa-apa yang dikemukakan oleh peserta rapat, dan;
  7. Mampu merangkum berbagai hal yang berkembang saat rapat.

Peserta Rapat
Secara umum, peserta rapat harus dapat menempatkan dirinya sebaik mungkin. Peserta rapat harus menyadari bahwa ia berkewajiban untuk ikut mensukseskan rapat. Karena itu, peserta rapat hendaknya dapat memenuhi kriteria yang antara lain sebagai berikut.
  1. Memahami bahan atau materi rapat (jika bahan rapat telah diperoleh sebelum rapat, maka hendaknya peserta dapat mempelajarinya dengan baik sebagai bekal untuk mengikuti rapat);
  2. Menghadiri rapat tepat waktu, jangan menduga bahwa setiap rapat pasti terlambat, hindarkan budaya ‘jam karet’;
  3. Memberikan andil secara langsung saat rapat dengan mengemukakan pendapat atau tanggapan yang memang sangat diperlukan;
  4. Mampu bersikap sabar, tidak emosional, tidak mendominasi pembicaraan, siap menerima perbedaan pendapat, dapat mendengarkan pembicaraan orang lain dengan seksama;
  5. Mengikuti rapat secara penuh, kecuali ada halangan yang mendadak atau ada sesuatu yang tak dapat dihindarkan (hendaknya meminta izin kepada pimpinan rapat);
  6. Mengikuti perkembangan rapat dan memahami dengan tuntas setiap keputusan atau hasil rapat, dan
  7. Menerima hasil rapat dengan ikhlas, karenanya jangan ‘menggerutu’ di luar rapat, jangan mementahkan hasil rapat, jangan melakukan tindakan anarkis dalam bentuk apapun.
Pengaturan Tempat Rapat
Tempat rapat juga turut menentukan kesuksesan rapat. Karena itu, usahakan tempat rapat dapat memberikan kenyamanan kepada peserta rapat. Tempat yang baik untuk rapat antara lain hendaklah memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut.
  1. Ruangannya tidak begitu sempit, juga tidak terlalu luas;
  2. mempunyai penerangan yang cukup;
  3. Keadaan udara tidak pengap, tidak panas, jauh dari kebisingan;
  4. Ruangannya cukup bersih;
  5. Ketersediaan pengeras suara atau pelantang (jika diperlukan) yang siap pakai atau dalam keadaan baik;
  6. Ketersediaan kursi (dan meja) yang memadai; dan
  7. Posisi duduk peserta yang lapang, terlihat tidak kaku, antar peserta dapat saling memandang agar interaksi antar peserta (juga dengan pimpinan rapat) berjalan lancar, tidak terhambat.


Itu tadi sekilas tentang konsep mengenai rapat, selamat membaca, semoga bermanfaat...
Salam....

Konsep dasar tentang Seminar - Public Speaking

Istilah seminar sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta. Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.

Istilah seminar juga sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta.

Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.
Sekian....

Konsep tentang sarasehan - Public Speaking

Sarasehan diartikan sebagai pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu atau disebut juga dengan istilah simposium (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:880). Istilah saresehan baru dikenal beberapa tahun terakhir. Karena itu istilah sarasehan tampak belum memasyarakat atau tidak begitu meluas seperti istilah diskusi dan seminar. Jika dicermati pengertian sarasehan yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka sarasehan bisa saja disamakan dengan seminar, bahkan juga dengan diskusi. Karena itu, di dalam sarasehan, terkadang ada penyaji makalah atau pembicara, ada pemandunya, dan ada pula notulisnya, persis layaknya diskusi atau seminar.
Kenyataan menunjukkan bahwa sarasehan dalam pelaksanaannya terasa lebih longgar, dalam suasana agak santai, bahkan terkadang sarasehan dilaksanakan dengan cara yang betul-betul menyenangkan. Sarasehan lebih bersifat kekeluargaan (Siddiq, 1998:28). Tempat sarasehan juga terlihat tidak diatur serapi tempat seminar dan diskusi, tetapi bukan berarti tempatnya menjadi ‘semraut’.

Sarasehan terkadang dilaksanakan dengan posisi duduk santai dengan hanya ‘lesehan’. Memang, ada juga sarasehan yang mengambil tempat yang mewah, dengan posisi duduk sebagaimana layaknya seminar dan diskusi. Namun, tampaknya sarasehan mengandung nuansa tidak begitu terikat.

Di dalam sarasehan, sesuai dengan sifatnya yang lebih santai, lebih longgar, maka terkadang disertakan acara lain, seperti acara pentas seni, tentu sesuai dengan tempat dan topik sarasehannya. Tentu saja, bagaimanapun pelaksanaannya, sarasehan tentu harus dipersiapkan dengan baik. Jangan sampai terjadi, sarasehan akhirnya berlangsung tanpa arah, tanpa kendali, dan tidak mencapai hasil yang diharapkan. Jadi, sarasehan juga harus memiliki tujuan yang jelas, ada fokus pembicaraan, sehingga para peserta dapat memberikan masukan atau tanggapan yang selaras dengan yang dibicarakan.

Sebuah sarasehan seharusnya juga menghasilkan sesuatu atau berupa rumusan yang dapat dijadikan sebagai pegangan atau dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peserta dan bagi semua pihak yang terkait dengan masalah atau topik yang dibicarakan saat sarasehan.
Sekian...

Dasar Microsoft Excel - Pengantar Komputer

Fonologi Bahasa Indonesia - Alat Ucap


Novel Asmara Tiga Hati


Laras gelisah, ia takut Bagas akan datang ke kantin, dan melihatnya bersama Giga. Ya, bagaimanapun Giga adalah sahabat Bagas juga.
 Meski gara-gara ia mengalihkan perhatian dan menyintai Giga, Bagas kemudian menjauh. Bahkan ia menjadi lelaki paling dingin yang pernah dikenalnya. Lelaki pemurung yang beku hatinya.
“Ada yang membuatmu gelisah?”
Tanya Giga yang melihat galau di wajah Laras. Tentu saja ia maklum, tiga tahun mereka tak bertemu. Tiga  tahun tentu telah mengubah banyak hal. Mungkin juga perasaan mantan kekasihnya ini. Giga maklum.
“Laras?”
“Ya?”
“Ada yang membuatmu gelisah?”
“Ya.....”
“Seseorang?”
“Ya.....”
“Pasti sangat berarti bagimu”
“Ya….”
“Baiklah, aku akan bicara sepuluh menit saja.
Setelah itu aku akan pergi dan melupakannmu. Meski selama tiga tahun lebih ini aku tak bisa melupakanmu”

“Dusta, meninggalkan seorang gadis begitu saja tanpa pesan, itukah yang kau sebut tak bisa lupa? Bohong!”
“Sabar Laras, dengar dulu. Aku tak mungkin memberitahumu, tak bisa
“Kenapa?”
“Karena kau tak bisa menerima semua itu. Kau orang tak mudah menerima sesuatu, aku tahu. Tapi ada musibah yang menimpaku. Dan aku baru saja bebas, dua hari lalu, kemudian kesini, menemuimu sebelum semuanya terlambat dan kamu benar-benar melupakanku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku baru saja menjalani hukuman tiga tahun enam bulan. Aku bebas lebih cepat tiap bulan, karena aku mendapatkan remisi tiap tahunnya.”
“Kau omong kosong apalagi?
“Ketika hari raya aku pulang kampung. Ini bukan omong kosong, ini kisah nyata. Aku tak pernah bisa berdusta padamu. Kau mengenalku dengan baik. Kalau kau bilang dusta, kau sudah tak mengenalku lagi, meski aku masih Giga yang dulu.”
“Kisah apa?”
“Mobilku menabrak seorang pengendara sepeda motor hingga tewas. Daripada digebugi massa, aku masuk ke kantor polisi minta perlindungan. Aku tak lagi bisa menjelaskanmu, mengapa aku tak bisa menemuimu, bahkan seperti menghilang. Sementara, kau enggan datang ke kotaku, apalagi menjengukku dalam penjara.”
“Ah, benarkah? Apakah ini bukan dongeng sedih yang sengaja kau buat?”
“Buat apa aku membuat dongeng untukmu, sementara aku tak berharap apapun darimu. Bahkan aku tak berharap kau memaafkan aku. Aku datang dari jauh, hanya untuk menyampaikan bahwa aku mengalami musibah, dan selama aku menderita, kau tak pernah mau menjengukku. Jangankan menjenguk, aku yakin kau bahkan lebih suka memilih pacar baru.”
“Aku tak tahu…..”
“Benarkah? Peristiwa itu masuk berita kurasa. Tapi entahlah, mungkin saja kau tak tahu, daripada kau tahu, kemudian segan menjengukku.”
“Jadi…..”
“Dimanakah kau ketika aku membutuhkan dirimu, ketika aku butuh kau memberikan kekuatan……..?”
“Aku tak tahu, itu persoalannya. Dan selama kau menghilang, aku tak mengerti mengapa kau meninggalkanku begitu saja. Bahkan kabar darimu juga aku tak bisa dapatkan. Setelah itu ada yang dekat denganku. Namun tak ada yang membuatku jatuh cinta, hingga tiga tahun lebih lamanya. Lalu ketika satu bulan terakhir ini aku memutuskan menyintai seseorang, bukan karena aku putus asa, tetapi karena aku memang jatuh cinta pada lelaki itu.”
“Oh, ya?”
“Dan aku tak perlu menutupinya darimu, bahwa lelaki itu ternyata menyintaiku. Puaskah mendengar jawabanmu. Itu berarti sebetulnya tak ada penghianatan apapun. Tapi harus kau tahu, kedatanganmu kini mengacaukan semuanya.”
“Mengapa?”
“Setidaknya aku menjadi bimbang untuk melanjutkan cintaku pada yang lain.”
“Tapi kau sudah tak menyintaiku lagi.”
“Memang.”
“Ya, lupakan saja diriku.”
“Lalu buat apa kau temui aku?”
“Aku hanya rindu saja. Ok, yang penting aku sudah sampaikan kebenaran masa laluku. Aku juga tak berharap kembali padamu. Aku realistis saja. Dengan keadaanku ini tak mungkin kau akan kembali padaku. Selamat berburu cinta Laras.”
“Ah, kau mau kemana?”
“Cari Kerja, baru lanjutkan kuliah lagi.”
Giga meninggalkan Laras dengan gontai. Membawa kelu di hati. Sementara Laras menarik nafas panjang. Menatap lelaki muda itu dengan perasaan sedih. Maafkan aku, Giga. Aku bukannya tak pernah mendengar kau masuk penjara. Tetapi memang dunia kita sudah berbeda. Aku tak mau menikah dengan lelaki mantan Napi. Maafkan aku.
            Laras kemudian gontai melangkah. Hatinya sunyi. Tiba-tiba ia sadar, bahwa ia kehilangan Bagas. O, kemana perginya?
Rasa sunyi itu membuat Laras berlinang. Bagas, jika lelaki sebaik engkau tak bisa kurengkuh, lalu lelaki seperti apa yang harus kucintai? Haruskah aku kembali kepada Giga yang sudah seharusnya aku lupakan?
Angin semilir bertiup. Menggeriapkan rambut Giga yang melintas di taman kampus yang hening. Mentari panas menyengat kulit. Dan kampus mulai terasa sunyi.

****
Senja yang indah. Mobil Bagas sudah menembus kota Temanggung. Lalu meluncur ke arah Secang, setelah melewati Weleri dan Sukorejo. Mereka menuju sebuah kawasan di Bukit Tidar, sebelah selatan terminal.
Sebuah rumah suram tertutup pintunya. Lama Bagas menatap rumah yang seperti tanpa penghuni itu. Lama hatinya kecewa, karena ia tak menemukan sambutan hangat dari kakaknya. Atau dari anak yang dilahirkannya. Kemana gerangan sang kakak?”
Rumah yang jauh dari keramaian itu sendiri, seperti menyimpan kesuraman. Tanpa tetangga, tanpa sentuhan perawatan sehingga semak belukar tumbuh disana.
“Kok sunyi? Kemana kakakmu?” Tanya Rusman yang kebenaran melihat itu dalam keterasingan dan liar serta kumuh.
“Entahlah…..”
Dari jauh, seorang pengendara sepeda motor menghentikan laju kendaraannya tiba-tiba. Pengendara itu membuka helmnya.
“Bagas? Benarkah itu kau?” Cowok itu menatap Bagas terheran-heran. Begitu juga dengan Bagas.
“Jamal?”
“Ya, aku Jamal Subhan, sahabatmu”
“Tahukan kau, mengapa rumah ini seperti tak terawat, Jam?”
“Sebaiknya ke rumahku dulu, yuk, nanti aku ceritakan. Rumah itu sudah dijual oleh suami kakamu.”
“Ha, benarkah?”
“Iya, banyak kejadian yang menimpa keluarga kakakmu. Ayo ke rumahku. Malam ini kau jadi tamuku saja. Besok pagi kita ke Jatiroto…….”
“Jatiroto?”
“Mereka tinggal di sana. Namun berita suram aku dengar, hanya saja aku tak bisa mencampuri urusan rumah tangga mereka. Ayolah ke rumahku. Sebentar lagi maghrib. Besok pagi kita ke Candiroto…….”
“Aku tadi lewat sana.”
“Dari Jakarta?”
“Iya…..”
“Ya, sudah, sholat maghrib di tempatku aja. Bagaimanapun aku tetap teman kamu.”
“Baiklah, yuk……..”
“Rumah itu sudah bukan milikmu lagi. Rencananya akan dibuat kantor, Karena dijual kepada seorang pengusaha.”
“Pantas rumah itu seperti hancur.”
“Bukan hancur lagi, tiga tahun ini sudah menjadi rumah hantu. Banyak yang takut lewat di sana.”
Hati Bagas berdesir. Lima tahun ia tak pulang. Lima tahun ia tak menjenguk kakaknya. Ternyata lima tahun telah mengubah rumah damai menjadi  sebuah rumah hantu yang sunyi, senyap, terasing.
Bagas kemudian masuk ke dalam mobilnya, mengikuti rumah Jamal. Teman di SMU dulu, yang sebetulnya, Bagas pun nyaris lupa dengan teman satu kelas itu.
“Kau tak pernah menjenguk kakakmu?”
Tanya Rusman yang sebetulnya tahu bahwa keluarga Bagas memang sudah tiada. Saat itu jam di tangan Bagas menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah kenangan yang kini menyisakan rasa getir dan pahit di hati Bagas. Rumah kenangan itu menjadi rumah terasing, kumuh dan membiaskan kesuraman.

Potret Pasar Tingkat (Pasting) Sanggeng - Manokwari

Pasar Tingkat Sanggeng atau sering disebut Pasting merupakan pasar milik Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari yang dihuni pedagang-pedagang yang berdomisili di Manokwari yaitu warga masyarakat pendatang dan pribumi yang membuka usaha, menjual barang dan jasa dan mempertahankan hidup dan kehidupannya di tempat ini. Disebut pasar tingkat karena memang desain bangunannya bertingkat. Warna cat bangunannya bervariasi, ada warna biru, kuning, oranye, putih, dan hijau. Dibagian depan pasar terdapat tulisan “PASAR SANGGENG PINTU CENDRAWASIH” yang ditulis pada selebar seng plat dan ditempel pada tembok.  Ketika saya melakukan penelitian, beberapa stan di pasar tingkat ini tidak dibuka karena memang pada hari itu bertepatan dengan hari raya Sabtu Suci bagi umat kristiani.

Adapun jenis usaha yang saya temui di Pasar Tingkat adalah antara lain: jualan pakaian, sepatu dan sandal, jualan perhiasan (kalung, gelang,dan anting), jualan perabot rumah tangga, jualan sembako, jualan sayur-sayuran dan buah-buahan, jualan gorengan, jualan Alat Tulis Kantor (ATK) dan buku; penyewaan jasa (jahit pakaian, pengetikan dan foto copy, pembuatan stempel, bordir, perbaikan alat elektronik, pangkas rambut, jahit sepatu dan sandal).

Dilihat dari bentuk desain bangunan, tampak depan dan kiri Pasar Tingkat, kita hanya bisa melihat lantai pertama dan lantai kedua, sementara jika kita masuk dan melihat isinya, kita akan menemukan satu lantai bawah tanah. Namun berbeda jika kita menelusuri pasar dari bagian kanan atau belakang, akan tampak jelas bahwa Pasar Tingkat memang terdiri dari 3 lantai yang mana tidak ada lantai bawah tanah karena lantai bawah tanah yang terlihat dari bagian kiri dan depan merata dengan tanah bagian kanan dan belakang pasar ini. Pada bagian luar Pasar Tingkat yaitu antara lain bagian depan baik lantai satu maupun dua, kita akan menemukan beberapa tempat penjualan perhiasan, tempat penjualan buku-buku, pos penjagaan dan tempat parkir, tempat penjualan pakaian, tempat penjualan bakso dan minuman jenis sirup dan jus dan tempat pencetakan foto. Pada bagian kiri Pasar Tingkat baik lantai satu dan dua terdapat jenis usaha penyewaan jasa pangkas rambut, penjualan perhiasan, para penjahit sepatu dan sandal, dan tempat parkir kendaraan roda dua dan roda empat, tempat perbaikan alat elektronik yang rusak, beberapa penjahit, tempat penjualan alat elektronik dan tempat foto copy dan penjulan Alat Tulis Kantor (ATK).

Di lantai di bawah tanah dan lantai pertama kita akan banyak menemukan para pedagang pakaian dan barang elektronik, perabotan rumah tangga dan tempat pencucian foto, tempat penjualan perhiasan dan buku-buku. Di bagian kanan pasar terdapat toilet umum dengan tarif Rp. 3.000,- untuk Buang Air Kecil (BAK) dan Rp. 5.000,- untuk Buang Air Besar (BAB), tempat pembuangan sampah umum, para pedagang sayur dan sembako yang berderet di sepanjang jalur samping kanan Pasar Tingkat. “Setiap pengusaha di Pasar Tingkat ini wajib memberikan Retribusi Pasar sebesar Rp. 3.000,- /hari, Retribusi Sampah sebesar Rp. 20.000,-/bulan, Retribusi Daerah sebesar Rp. 50.000,-/bulan, pajak reklame sebesar Rp. 547.500/tahun, iuran keamanan sebesar Rp. 120.000,-/bulan dan pajak bumi dan bangunan sebesar Rp. 50.000/tahun”, ujar Joko Purwanto pemilik rental pengetikan di Pasar Tingkat. “Jika di hitung pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Pemasukan tergantung ramainya para pembeli dan yang ingin menyewakan jasa. Dalam sehari kadang tidak ada penghasilan, namun terkadang juga kalau sedang ramai penghasian bisa sampai ratusan ribu per hari”, lanjut Pria 35 tahun itu.

Saat ini kondisi pasar tingkat sangat memprihatinkan dan jauh dari kata kebersihan. Jika kita telusuri di setiap lantai, terdapat begitu banyak sampah yang berserakan dan tidak ditemukan tempat sampah yang tersedia di setiap lorong dan lantai selain yang terdapat di tempat pembuangan sampah umum. Ketika musim penghujan, di bagian sebelah kanan dan lantai dasar selalu kebanjiran sehingga daerah itu berbecek. Belum ada upaya dari pemerintah daerah terkait perbaikan, penyediaan fasilitas untuk menunjang kebersihan, seperti tempat sampah, dan minimnya kesadaran para warga pasar dalam hal menjaga kebersihan bersama.

Sekian...

===========
Oleh:
ariesrutung95

Potret hutan Gunung Meja Manokwari - Papua Barat

Hutan merupakan tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon yang biasanya tidak dipelihara  orang atau tumbuh secara liar. Hutan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Di Provinsi Papua Barat terdapat banyak hutan yang masih belum disentuh dan masih terasa kealamiannya baik yang dilindungi oleh pemerintah daerah maupun tidak.

Adalah Hutan Gunung Meja yang terletak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Hutan Gunung Meja merupakan jenis hutan lindung juga sebagai habitat dari beberapa makhluk hidup. Hutan ini belum disentuh oleh pembangunan dan kodisi hutannya masih alami serta belum ada aktivitas pembukaan lahan. Di hutan Gunung Meja terdapat begitu banyak poho-pohon besar nan tinggi yang diperkirakan berusia sekitar puluhan tahun, sudah berlumut dan kulit luarnya sudah terkupas. Ketika kita menyusuri hutan Gunung Meja melewati jalan yang disediakn pemerintah, kita akan menemukan beberapa pohon di pinggir jalan yang diberi lebel, berisikan keterangan tentang nama pohon itu dalam indonesia dan bahasa ilmiah, menghirup udara segar dan terasa dingin namun menakutkan. Pohon-pohon yang diberi lebel itu merupakan penanda suku pohon yang sejenis atau satu rumpun yang tingginya mencapai belasan bahkan puluhan meter. Banyak satwa yang hidup di hutan ini seperti burung, moluska dan lain-lain.

Ironisnya, ada masyarakat yang membuang sampah di tempat ini yang berupa logam dan plastik seperti yang terlihat pada gambar diatas. Kesadaran untuk menjaga keadaan hutan tetap bersih dari sampah plastik dan logam dan kehidupan makhluk hidup di hutan ini tetap aman masih sangat minim. Kondisi jalan yang melintasi hutan ini meskipun sudah diaspal namun masih ada bagian tertentu yang sudah rusak akibat kondisi tanah yang kurang padat sehingga mudah dikikis air hujan dan pepohonan yang tumbang menutupi jalan dibiarkan begitu saja, malah membuat jalan baru.

Sekian.....
==========
Oleh:
ariesrutung95

Potret pantai Pasir Putih (Pasput) Manokwari

Masyarakat Manokwari pasti sudah sangat akrab dengan Pantai Pasir Putih atau Pasput. Pantai Pasir Putih (Pasput) Manokwari adalah salah satu tempat wisata milik Pemerintah Kabupaten Manokwari- Papua Barat yang merupakan salah satu destinasi wisata terbaik bagi warga masyarakat mulai dari anak-anak, dewasa dan orang tua dalam menghabiskan waktu akhir pekan mereka, waktu liburan atau bahkan hari di sela-sela kesibukan kerja. Pantai Pasir Putih merupakan salah satu dari beberapa pilihan tempat wisata lainnya seperti Pantai Bakaro, Pulau Mansinam dan lain-lain yang ada di Daerah Manokwari. Keindahan alam dan letaknya yang strategis serta dekat dari pusat kota Manokwari, dipadu dengan indahnya Pulau Mansinam yang berada tepat di hadapan pantai ini, cukup memanjakan mata paara pengunjung.

Jika kita berkunjung kesana, biaya untuk masuk dan menikmati/mengakses fasilitas yang tersedia di area pasir putih ini tidak terlalu mahal, cukup dengan membayar lahan parkir yang berkisar Rp. 5.000,- per kendaraan. Di dalam area pasir putih ini kita akan menemukan banyak pedagang yang menjual dagangannya terutama makanan jadi, diantaranya bakso, lalapan, es kelapa muda, dan lain sebagainya dengan harga yang terjangkau sekitar belasan ribu sampai puluhan ribu.

Air laut yang jernih dan bersih berwarna biru serta terbebas dari sampah. Terlihat batu karang di dasar laut yang berwarna coklat-kehitaman yang dilapisi lumut. Hal inilah yang membuat pegunjung tidak pernah bosan mengunjungi pantai ini untuk mandi, piknik, reunian, atau sekadar menikmati keidahan pantai bersama keluarga atau dengan teman.

Dalam menjaga dan melindungi pantai, warga yang berdomisili di dekat pantai diikutsertakan seperti halnya dalam mengelola tempat parkir, menyewakan barang-barang tertentu kepada para pengunjung pantai seperti ban, dan retribusi dari para pedagang yang menjual dagangannya di tempat ini. Mereka juga bekerja sama dalam membersihkan pinggiran pantai agar tetap bersih dan menjaga jalan agar tidak rusak dan tidak ditutupi pasir akibat terbawa oleh hujan. Pantai ini  sering dikunjungi hampir setiap hari  meskipun tidak seramai akhir pekan (sabtu dan minggu), namun setidaknya setiap hari ada pengunjung dengan tujuan yang bervariasi. Di wilayah pantai pasir putih terdapat beberapa bangunan milik warga dan pemerintah yang didirikan sebelum dan sesudah pantai ini dijadikan tempat wisata.

Sebagai tempat wisata umum, semoga saja pantai ini tetap terjaga kebersihan dan keamanannya, terutama terkait pencurian kendaraan yang sering terjadi. Pengamanan perlu diperketat dan dipandang perlu untuk menyediakan tempat parkir yang lebih luas sehingga kendaraan yang diparkir tidak memakan ruas jalan.


Sekian...

========
Oleh:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA