Prinsip-Prinsip Belajar - Belajar dan Pembelajaran

belajar-dan-belajar
Belajar mempunyai prinsip atau dasar yang menjadi pokok dalam berpikir. Belajar dilakukan secara terstruktur dan teratur serta bersistem dalam pelaksanaanya. Kegiatan ini tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu dan tidak akan pernah berhenti, sebab belajar adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan. Belajar sebagai kegiatan sistematis dan kontinu memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

Belajar berlangsung seumur hidup
Belajar merupakan proses perubahan perilaku peserta didik sepanjang hayat (long life education) dari mulai buaian ibu sampai menjelang masuk ke liang lahat yang berlangsung tanpa henti (never ending), serasi dan selaras dengan periodesisasi tugas perkembangannya (development task) peserta didik.

Proses belajar adalah kompleks, tetapi terorganisir
Proses belajar banyak aspek yang mempengaruhinya, antara lain kualitas dan kuantitas raw input (peserta didik) dengan segala latar belakangnya, Instrumental input, dan environmental input yang kesemuanya diorganisasikan secara terpadu (integrative) dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan belajar.

Belajar berlangsung dari yang sederhana menuju yang kompleks
Proses pembelajaran disesuaikan dengan tugas pekembangan (development task dan tingkat kematangan (maturation) peserta didik, baik secara fisik (fisically) maupun secara kejiwaan (psychological) dari mulai hahan ajar yang sederhana menuju bahan ajar yang kompleks.

Belajar dari mulai yang faktual menuju konseptual
Proses pembelajaran merupakan proses yang sistematis dan integratif di mana penyajian bahan ajar disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik yang dimulai dengan bahan ajar yang bersifat faktual yang mudah diamati oleh panca indera menuju hahan ajar yang membutuhkan imajinasi berpikir tingkat tinggi (konseptual).

Belajar mulai dari yang kongkret menuju abstrak
Proses pembelajaran berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dari mulai bahan ajar yang mudah diamati secara nyata (kongkret) menuju proses pembelajaran yang memenlukan daya nalar yang imajinatif, proyektif, dan prospektif.

Belajar merupakan bagian dari perkembangan
Proses pembelajaran menupakan mata rantai penjalanan kehidupan peserta didik. Episode perkembangan peserta didik harus diisi dengan berbagai pengalaman yang bermakna (meaningfull), paling mendasar (essencial), dan mendesak harus didahulukan (crucial), serasi, selaras, dan seimbang dengan tingkat perkembangan mental (mental age), dan umur kalender (cronological age) peserta didik. Keberhasilan belajar dipenganuhi oleh faktor bawaan (heredity), lingkungan (environment), kamatangan (time or maturation), serta usaha keras peserta didik sendiri (endeavor).

Belajan mencakup semua aspek kehidupan yarg penuh makna, dalam rangka membangun manusia seutuhnya dan bulat, baik dari sisi agama, ideologi, politik, ekonorni, sosial, budaya, dan ketahanan.

Kegiatan belajar benlangsung pada setiap tempat dan waktu, baik dalam lingkungan keluarga (home schooling) sebagai pendidikan awal (tarbiyatul ula) bagi lingkungan masyarakat (non formal eduction), dan di lingkungan sekolahnya (formal education).

Belajar berlangsung dengan guru atapun tanpa guru
Proses pembelajaran di abad modern ini, guru bukan satu-satunya sumber belajan (resourches person), tetapi masih banyak sumber belajar lainnya. Misalnya, teman sebaya (peer group), perpustakaan manual, perpustakaan dunia maya (internet), dan lingkungan sekitar secara konstekstual (contextual reaching and learning).

Belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.
Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan lingkungan internal seperti hambatan psikis dan fisik (psikosomatis), dan ekstennal, seperti lingkungan yang kurang mendukung, baik sosial, budaya, ekonomi, keamanan, dan sebagainya. Kegiatan belajar tententu diperlukan adanya bimbingan dari orang lain, mengingat tidak semua bahan ajar dapat dipelajari sendiri. Dengan bimbingan peserta didik akan mampu berrefleksi untuk berkaca diri (self mirror, instrosfeksi); memahami diri (self understanding) mengenai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman; menenima diri (self acceptance) atau menolak diri (self rejection); mengarahkan diri (self direction); mengembangkan diri (self development); dan menyesuaikan dini (self adjustment)

Ansubel yang dikutip Djadjuri (1980: 9) menyatakan, ada lima prinsip utama belajar yang harus dilaksanakan, yaitu:
  1. Subsumption, yaitu proses penggabungan ide atau pengalaman baru terhadap pola ide-ide yang telah lalu yang telah dimiliki.
  2. Organizer, yaitu ide baru yang telah dicoba digabungkan dengan pola ide-ide lama di atas, dicoba diintegrasikan sehingga menjadi suatu kesatuan pengalaman. Dengan prinsip ini dimaksudkan agar pengalaman yang diperoleh itu bukan sederetan pengalaman yang satu dengan yang lainnya terlepas dan hilang kembali.
  3. Progressive Differentiation, yaitu bahwa dalam belajar suatu keseluruhan secara umum harus terlebih dahulu muncul sebelum sampai kepada suatu bagian yang lebih spesifik.
  4. Concolidation, yaitu sesuatu pelajaran harus terlebih dahulu dikuasai sebelum sampai ke pelajaran berikutnya, jika pelajaran tersebut menjadi dasar atau prasyarat untuk pelajaran berikutnya.
  5. Integrative Reconciliation, yaitu ide atau pelajaran baru yang dipelajari itu harus dihubungkan dengan ide-ide atau pelajaran yang telah dipelajari terdahulu. Prinsip ini hampir sama dengan prinsip subsumption, hanya dalam prinsip integrative reconciliation menyangkut pelajaran yang lebih luas, umpamanya antara unit pelajaran yang satu dengan yang lainnya.

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA