2018 | Anak Pantai

Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia

Masalah bahasa Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan dinamis. Terlihat dari terus berkembangnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang hingga hari ini sudah berada pada versinya yang ke lima. Perubahan itu bukan tanpa alasan. Beberapa penyebab perubahan diantaranya pengaruh arus globalisasi dan perkembangan teknologi, hegemoni bahasa asing dan ibu (dibaca: bahasa pertama yang dikenal oleh seseorang). Perkembangan teknologi melahirkan kosakata baru sebagai bentuk pemberian identitas terhadap produk yang dihasilkan. Dominasi bahasa ibu berpengaruh pada struktur bahasa sehingga pemahaman seseorang mengenai bahasa Indonesia terpengaruh, semisal konstruksi kalimat, telaah makna, dan pelafalan dan intonasi.

Implikasi dari persoalan di atas, KBBI terus diubah oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tak hanya itu, beberapa kata yang sudah ada dalam KBBI pun ditambah maknanya sehingga berkembang dan luas pengertiannya. Tentu saja sebagai bahasa yang sedang berkembang, masalah seperti di atas adalah hal yang wajar.

Dalam upaya pengaplikasian kosakata baru, masyarakat Indonesia cenderung salah mengadaptasikannya sesuai konteks kehidupan setiap hari. Akibatnya, tak jarang ditemukan kesalahan-kesalahan, baik dalam tataran penulisan maupun dalam tataran pelafalannya. Semakin sering digunakan, kesalahan-sesalahan yang terjadi tidak lagi dirasakan kesalahannya alias dianggap biasa karena dalam kehidupan sehari-hari bentuk seperti itu yang sering kita simak dan bahkan sering diucapkan dalam setiap kepentingan. Kebiasaan itu yang kemudian dianggap sebagai salah kaprah. Oleh karena itu, masalah bahasa Indonesia merupakan masalah yang sering diperbincangkan hingga hari ini terutama penggunaanya yang selalu salah dan keliru oleh pemakainya. Di sisi hal itu, bahasa Indonesia pun tampkanya belum menjadi bahasa yang betul-betul mantap.







Special thanks for Mr. Quin D. Tulalessy because of him, i can publish this article. I hope, it can be usefull for anyone who read this.


===========
Author:
ariesrutung95

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

KURIKULUM adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.1

Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan rangkuman materi tentang KTSP. Poin-poin yang dibahas pada rangkuman ini antara lain dasar hukum KTSP, konsep dan karakteristik KTSP, orientasi KTSP, model penilaian KTSP, dan kekurangan dan kelebihan KTSP.

Dasar Hukum KTSP
Secara yuridis (hukum), KTSP diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006, dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Pengembangan, pelaksanaan, dan pemberlakuan KTSP masing-masing mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ketetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pelaksanaanya mengacu pada peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulus, dan pemberlakuan KTSP  ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulus.

Konsep dan Karakteristik KTSP
Konsep KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006 adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia dengan mengacu pada standar isi yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, diantaranya kerangka dasar dan struktur kurikulum, standar kompetensi, kompetensi dasar (dalam Kepmendiknas nomor 22 tahun 2006). Standar isi memberikan arahan bagi pengembangan silabus di tingkat sekolah yang selanjutnya diharapkan dapat mencapai standar kompetensi lulusan.

KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntunan, dan kebutuhan masing-masing. Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang pendidikan yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya terhadap program-program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

Pertanyaannya, kenapa kemudian pemerintah (dalam hal ini BSNP) menyuruh sekolah sendiri yang menyusun kurikulum, bukankah itu tugas mereka? Berikut ini beberapa alasannya.
  1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.
  2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
  4. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat sekitar.
  5. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP.
  6. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
  7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.
Dalam Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa, daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.

Karakteristik (Kekhasan) KTSP
KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan daerah. Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru harus mandiri dan kreatif. Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran.

Muatan lokal menjadi salah satu isi KTSP, ia tidak saja dalam wujud pokok bahasan tetapi sampai pada mata pelajaran baru. Ini dalam rangka menciptakan pendidikan berbasis keunggulan lokal.
KTSP memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengurus sendiri rumah tanggahnya (dalam hal ini penyusunan kurikulum) didasarkan pada standar isi yang ditetapkan oleh BSNP.

Tujuan KTSP
Tujuan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah meningkatkan kinerja pendidikan dan mengurangi beban pusat, karena dikhawatirkan jika pemerintah pusat terus-terusan dibebani tanggung jawab pengelolaan pendidikan, maka mutu pendidikan akan terus merosot.
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum, sedangkan secara khusus, tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia; meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama; meningkatkan kompetensi yang sehat antarsatuan pendidikan yang akan dicapai.

Orientasi KTSP
Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP nomor 19 tahun 2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:
  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal (secara bersama-sama di dalam kelas).
  2. Berorientasi pada hasil belajar (Learning Outcomes) dan keberagaman bukan keseragama.
  3. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Menurut Majid (2004), orientasi KTSP dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya yaitu:
  1. Aspek tujuan; lebih menitikberatkan pada pencapaian target kompetensi, berupa pengetahuan dengan memperhatikan keragaman potensi rohani agar dapat memaksimalkan kompetensi religiusnya.
  2. Aspek isi; menekankan pada hal-hal yang bersifat tematik dan menggali sumber-sumber belajar yang bersifat kenyataan di lingkungan siswa. Materi disusun secara sistematis, mudah dipahami, dan terhindar dari pengulangan materi atau tumpang tindih.
  3. Aspek metode; mentransmisikan nilai-nilai ke dalam bentuk kompetensi secara utuh. Kurikulum bertujuan membekali peserta didik memiliki kesadaran baik secara normatif maupun historis empiris.
  4. Aspek guru; tenaga pendidik lebih berperan sebagai fasilitator (guru tidak dominan) dan memanfaatkan banyak sumber belajar serta mengadakan kerjasama yang terpadu dengan lingkungan sekitarnya.
  5. Aspek siswa; peserta didik lebih ditempatkan sebagai subjek, berperan aktif menggali potensi rohaninya sendiri untuk lebih menyadari fungsi dan kedudukannya.
  6. Aspek penilaian; kegiatan pembelajaran dinilai secara komprehensif, tidak hanya pada satu aspek saja dari suatu materi tetapi juga dengan materi-materi yang berhubungan dengan kegiatan religiusnya. 
Model Penilaian KTSP
Secara umum, penilaian adalah proses sistematis pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi informasi untuk memberikan keputusan terhadap kadar hasil kerja. Penilaian yang diterapkan dalam KTSP adalah Penilaian Berbasis Kelas (PBK). PBK memiliki pengertian penilaian sebagai assessment, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar. Data/informasi dari PBK merupakan salah satu bukti yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan.

Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun jawabannya). Dalam menjawab soal siswa tidak selalu harus merespon dalam bentuk menulis kalimat jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk mewarnai, memberi tanda, menggambar grafik, diagram dan sebagainya. Contoh tes tertuli misalnya, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, isian singkat, jawaban singkat atau isian singkat, uraian obyektif (esai berstruktur), uraian bebas (esai bebas), dan pertanyaan lisan.

Penilaian Kinerja (Performance Asessment)
Performance Asessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi di mana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Contoh-contoh alat penilaian kinerja: permainan, drama, demonstrasi, olahraga, bermain musik, bernyanyi, pantomim, berdoa, membaca puisi, berpidato, diskusi, wawancara, dan sebagainya.

Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan atas berkas pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian. Tujuan penilian portofolio adalah menghargai perkembangan yang dialami siswa, mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung, memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik. Contoh alat penilaian portofolio: puisi, karangan, gambar/tulisan, peta/denah, makalah, laporan observasi, sinopsis, naskah pidato, naskah drama, dan sebagainya.

Penilaian Proyek
Yang dimaksud proyek adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode/ waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Hasil belajar dapat dinilai ketika siswa sedang melakukan proyek, misalnya pada saat merencanakan dan mengorganisasikan investigasi, bekerja dalam tim, arahan diri.

Penilaian Hasil Kerja (Product Asessment)
Penilaian hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap keterampilan siswa dalam membuat suatu produk/benda tertentu dan kualitas produk tersebut. Terdapat dua tahapan penilaian yaitu penilaian tentang pemilihan dan cara penggunaan alat serta prosedur kerja siswa dan penilaian tentang kualitas teknik maupun estetika hasil karya/kerja siswa.

Hasil kerja dapat berupa produk kerja siswa yang bisa saja terbuat dari kain, kertas, metal, kayu, plastik, keramik, dan hasil karya seni seperti lukisan, gambar, dan patung. Hasil kerja yang berupa aransemen musik, koreografi, karya sastra tidak termasuk hasil kerja yang dimaksud di sini.

Penilaian sikap
Penilaian sikap merupakan penilaian terhadap perilaku dan keyakinan siswa terhadap suatu objek, fenomena/masalah. Secara umum, penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek sikap, diantaranya sikap terhadap mata pelajaran, sikap guru terhadap mata pelajaran, sikap terhadap proses pembelajaran, dan lain-lain.

Penilaian ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain observasi perilaku, misalnya tentang kerja sama, inisiatif, perhatian; pertanyaan langsung, misalnya tanggapan terhadap tata tertib sekolah yang baru; laporan pribadi, misalnya menulis tentang “tawuran antar pelajar”

Penilaian Diri (Self Assessment)
Penilaian diri di tingkat kelas (PDK) atau Classroom Self Assessment (CSA) adalah penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang bersangkutan untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di tingkat kelas. Penerapan konsep PDK adalah sejalan dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang menerapkan penilaian berbasis kelas atau Classroom Based Assessment. Hasil PDK merupakan masukan bagi guru di kelas dan bagi pimpinan sekolah untuk meningkatkan kinerja semua staf dan guru-guru di sekolah di masa datang.

Kelebihan dan Kekurangan KTSP
KTSP memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan rumah tangganya. Kekuatan KTSP adalah sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas sekolah dan sarana mengembangkan keunggulan lokal. KTSP memiliki potensi integrasi bangsa yang sangat besar, sebab hanya melalui  KTSP, tema-tema menyangkut keanekaragaman sosial-budaya dan toleransi dimuat ke dalam materi, seperti pemilihan contoh-contoh, studi kasus, dan bahasa.
Akan tetapi, selain beberapa keunggulan di atas, dalam pelaksanaanya, KTSP menggunakan Ujian Nasional (UN) sebagai satu-satunya alat untuk mengukur kompetensi lulusan. Padahal mekanisme ini sendiri masih belum sesuai dengan aturan. Sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan hanya menggunakan UN sebagai patokan dalam menentukan kelulusan siswa, padahal kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri sebagaimana tercantum dalam PP 19/2005 pasal 72 ayat (1) yakni “Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran; memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan lulus Ujian Nasional”. Di sini tampak belum konsistennya pemerintah, pada satu sisi menyerahkan tanggung jawab kepada pihak sekolah, tetapi pada sisi lain pemerintah ikut menentukan kelulusan.
Secara substansial dalam KTSP tidak dikenal UN, sebab pengembangan standar isi oleh sekolah-sekolah menurut karakteristik, potensi daerah, dan kebutuhan-kebutuhan daerah, bukan diarahkan kepada pencapaian standar kompetensi lulusan, sebagaimana yang diukur hanya melalui UN.


Referensi

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum


Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wardani, I. G. A. K. 2014. Materi Pokok Perspektif Pendidikan SD. Tangerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. hlm. 8.25 – 8.26. ISBN 978 979 011 319 0.

Syaodih., Sukmadinata, Nana (2000). Pengembangan kurikulum : Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. ISBN 9795146017. OCLC 1027855577.


===========
Author:
ariesrutung95

Perihal Kesalahan dan Kekeliruan Berbahasa

Kesalahan dalam berbahasa Indonesia tak pelak dari seluruh sendi kehidupan bermasyarakat kita. Setiap orang mempunyai potensi membuat kesalahan, baik sengaja (jika si pengguna bahasa sama sekali tidak mengetahui kaidah berbahasa yang baik dan benar) maupun yang tidak sengaja (pemakai bahasa keliru dalam menggunakan bahasa yang tepat).

Agar tidak salah menafsirkan, dalam tulisan ini secara lebih gampang saya memaknai kesalahan berbahasa sebagai suatu tindakan yang melawan arah aturan atau kaidah umum berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dalam hal ini pedoman umum ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan (EYD) dan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang disepakati dan ditetapkan dalam membangun tulisan.

Seperti yang telah disinggung di atas, berbahasa Indonesia harus baik dan benar. Baik artinya, bahasa yang kita gunakan sesuai dengan etika atau memiliki nilai etis sehingga tidak menyinggung dan/atau merugikan individu tertentu. Benar berhubungan dengan aturan-aturan penulisan, pelafalan, dan konstruksi kalimat secara sintaktik. Bahasa yang baik misalnya, ketika menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Kendati kita jengkel dengan perilaku orang tersebut, tetap saja kita harus menegurnya dengan cara yang lebih etis, adab, dan tidak dibenarkan menggunakan kata-kata kotor. Dari sejengkal contoh di atas dapat kita katakan, bahwa bahasa yang baik erat kaitannya dengan nilai moral (susila).

Bahasa yang benar sering kita temukan dalam bahasa-bahasa pidato, surat resmi, dan bentuk situasi resmi lainnya yang mendukung penggunaan bahasa yang benar. Sebagai contoh, seorang penulis atau tim penyusun sebuah buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia mestinya memperhatikan penggunaan bahasa yang benar yakni bahasa yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat konvensional mengenai apakah suatu kata yang digunakan sudah sesuai dengan Kamus Bahasa Indonesia (semisal KBBI), atau apakah penulisan tanda baca dan susunan kalimat sesuai dengan aturan yang mengikatnya.

Kegunaan kedua jenis (bentuk) bahasa tersebut tidak lain dan tidak bukan yakni agar para penikmat (pembaca atau pendengar) tidak memunculkan tanda tanya dalam benaknya sehingga dahinya mengkerut. Artinya, apa yang ingin kita sampaikan kepada orang lain tersampaikan. Hal semacam inilah yang sering diistilahkan dengan bahasa yang komunikatif. Kesalahan dalam menggunakan dan memilih diksi dapat berakibat pada macetnya pesan yang ingin kita tujukan kepada penikmat bahasa kita.

Pertanyaan yang mesti kita jawab, yakni 1) apakah masyarakat kita telah memahami secara sempurna tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar? 2) samakah kesalahan berbahasa dengan kekeliruan berbahasa? 3) bagaimana suatu bahasa dikategorikan ke dalam bahasa yang baik dan benar? dan 4) apa yang menyebabkan masyarakat kita salah dalam berbahasa? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaa ini membutuhkan penjelasan yang panjang dan waktu yang tak hanya sebentar.

Perihal Pengguna Bahasa
Pengguna bahasa indonesia adalah orang yang dilabeli dengan istilah bilingual dan multilingual. Tak dapat dibayangkan jika yang dikuasai terlebih dahulu adalah bahas ibu, tentu akan mengalami kesulitan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar karena adanya interferensi bahasa ibu. Atas dasar hal tersebut, seperti yang pernah saya katakan sebelumnya dalam sebuah artikel, bahwa kita sebagai pemakai bahasa (bahasa ibu, bahasa Indonesia, dan bahasa asing) tidak benar-benar menguasai masing-masing bahasa tersebut atau dengan perkataan, pengetahuan kita hanya mengawang. Sebagai contoh, kita yang mengaku diri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang berbahasa Indonesia tidaklah menguasai semua kosakata yang termuat dalam Kamus Bahasa Indonesia (seperti KBBI). Di sisi hal ini, kita mengenal istilah bahasa aktif dan bahasa pasif.
Bahasa aktif adalah bahasa yang sering dipakai atau dituturkan dalam segala konteks kehidupan, sedangkan bahasa pasif yakni bahasa yang tidak pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau kendati digunakan pasti mengerutkan dahi si pendengar atau pembaca sebab tidak memahami maknanya. Bahasa pasif berbeda dengan istilah-istilah keilmuan pada bidang-bidang tertentu, semisal kata amnesti dan grasi dalam bidang politik dan hukum, kata farmasi dalam bidang kesehatan, kata debug dan desktop dalam bidang komputer, kata akronim dan aksentuasi dalam bidang linguistik.


Bahasa-bahasa seperti yang dicontohkan di atas digunakan sesuai dengan konteksnya, sedangkan bahasa pasif bahasa yang sama sekali tidak digunakan, semisal ada kata ganjak sebelum beranjak. Kata ganjak di sini sebagian besar pengguna bahasa Indonesia tidak memahami maknanya. Contoh lain, ketika kita mendengar kata canggih. Yang ada dalam pikiran kita tentang kata canggih adalah sesuatu yang berhubungan dengan teknologi yakni persoalan perkembangannya dan kegunaannya yang di luar akal manusia. Sementara itu, jika individu tertentu banyak cakap atau bawel, kita hanya menyebutnya cerewet. Padahal makna leksikal dari kata canggih itu sendiri adalah bawel dan cerewet (lihat KBBI versi V).

Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan nomor satu di atas, masyarakat kita mesti mengusai dan memahami terlebih dahulu persoalan kosakata. Semakin banyak kata yang dikuasai, semakin banyak pula perbendaharaan kata kita. Dengan demikian, ketika hendak mengatakan atau menyampaikan sesuatu, diksi kita berlebih-lebih bahkan samapai bingung menentukan kira-kira mana yang sedap dan indah didengar atau dibaca orang lain.

Salah dan Keliru Berbahasa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI versi V), kata keliru secara leksikal berarti salah, khilaf, silap, sesat, dan tertukar, sehingga keliru memiliki makna yang sama dengan salah. Dalam konteks ini, saya ingin membangun pemahaman tentang kata keliru sebagai hal yang tidak sama (berseberangan) dengan salah, kendati kata keliru itu sendiri bermakna salah. Oleh karena itu, saya hanya melirik kata khilaf, silap, dan tertukar yang disodorkan oleh KBBI mengenai makna kata keliru.

Khilaf dimaknai sebagai keliru dan atau salah yang tidak disengaja. Silap adalah salah penglihatan (penglihatan atau perasaannya berlainan dengan keadaan sebenarnya). Dengan perkataan lain, silap artinya bimbang atau ragu, pada tataran yang lebih tinggi dinamai dilema dalam memilih sesuatu sebagai pilihan. Tertukar artinya ditukar dengan tidak sengaja.

Dari beberapa definisi tentang keliru di atas, dapat saya simpulkan bahwa keliru berkelindan dengan persoalan bimbang, bukan karena tidak mengetahui, melainkan si pengguna bahasa merasa dilematis sehingga berdampak pada kemungkinan benar dan salah terhadap apa yang dibahasakannya. Jika seorang pengguna bahasa keliru, ia akan tahu bahwa apa yang diucapkannya memiliki kuantitas yang sama antara benar dan salah. Dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia, individu yang keliru tidak berarti salah. Oleh karena itu, pengguna bahasa yang keliru dalam menggunakan bahasa tertentu sebenarnya tahu tentang apa yang diucapkannya.

Akan sangat berbeda jika ada individu yang salah dalam berbahasa. Salah berarti tidak paham tentang makna bahasa yang dipakainya, tidak paham dalam konteks apa bahasa itu digunakan, dan ikut-ikutan karena sesuatu itu trendi. Itulah sebabnya, kita sebagai pengguna bahasa jangan menelan sesuatu secara mentah-mentah. Ada baiknya jika sesuatu itu dipahami terlebih dahulu baru digunakan jika itu baik dan benar. Sebab akan memalukan jika diketawai orang karena penggunaan istilah itu tak sesuai dengan konteksnya.

Bahasa yang baik dan benar
Seperti yang sudah sempat dibahas di atas, bahasa yang baik selalu berkaitan dengan etis, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan, baik itu aturan ejaan dan struktur kalimat yang baik dan benar. Hal ini tentu akan berdampak pada siapa penikmat bahasa (lisan dan tulisan) kita. Bahasa yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku (Arifin & Matanggui, 2014: 13). Sementara itu, bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia meliputi kaidah ejaan, pembentukan kata, penyusunan kalimat, penyusunan paragraf, dan penataan penalaran (Arifin & Matanggui, 2014: 14). Semua kaidah itu hendaknya digunakan dengan cermat, saksama, dan ditaati dengan konsisten.

Sebagai contoh, bahasa Indonesia yang baik dan benar selalu dikaitkan dengan konteks yakni kapan, dimana, dalam situasi, dan dengan siapa pembicaraan itu dilakukan. jika dalam situasi santai (semisal ngobrol dengan sahabat), maka bahasa yang dipakai adalah bahasa yang baik, tidak terpaku pada aturan-aturan. Akan tetapi, berbeda halnya jika pembicaraan itu dilakukan dalam situasi resmi dan dihadiri atau didengar oleh orang-orang terdidik. Tentu saja bahasa yang digunakan adalah bahasa yang benar. Oleh karena itu, sesuatu yang baik belum tentu benar, tetapi suatu yang benar sudah pasti baik.

Jadi, bahasa yang baik adalah bahasa yang layak, tidak cela, dan elok ketika didengar atau dibaca, sedangkan bahasa yang benar artinya tidak menyimpang dari aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang bersifat konvensional. Baik berkaitan dengan persoalan etis dan benar berkelindan dengan kaidah.

Penyebab Kesalahan Berbahasa
Pengguna bahasa yang betah menggunakan bahasa yang amburadul atau menyimpang dari bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

Pengetahuan Berbahasa
Pengetahuan tentang bahasa mencerminkan kemampuan kita dalam menggunakan bahasa. Semakin banyak pengetahuan berbahasa seseorang, semakin baik pula kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Pengetahuan berbahasa berkelindan dengan pemahaman mengenai keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan penguasaan konten linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana).
Yang paling penting dikuasai adalah kemampuan membaca-menulis dibandingkan dengan menyimak-berbicara. Saya tidak mengatakan keterampilan menyimak-berbicara tidak penting, hanya saja membaca-menulis harus memiliki porsi lebih banyak. Sebab, saya sangat percaya bahwa sejauh mana orang membaca, sejauh itu pula kemampuan mendengarnya, dan sejauh mana orang menulis, sejauh itu pula kemampuan berbicaranya.

Sikap Negatif Terhadap Bahasa Indonesia
Ketika kita menggunakan bahasa asing, semisal bahasa Inggris, seluruh kemampuan dan rasa malu kita dikerahkan agar mendapatkan bahasa yang baik dan benar serta memperoleh pujian. Kita tidak ingin ada cacat-cela terhadap bahasa Inggris yang kita gunakan, sebab jika tidak demikian, pasti akan ditertawai orang. Merasa sangat malu jika bahasa Inggrisnya jelek dan tidak sesuai aturan.

Sikap di atas justru berlainan jika individu yang sama menggunakan bahasa Indonesia. Pasalnya, jika seseorang melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia, kesalahan itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar, sesuatu yang biasa-biasa saja. Rupanya, tidak ada rasa bersalah yang dimiliki oleh individu tersebut. Kendati demikian, ada yang menganggap bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang mudah karena dituturkan dalam setiap sendi kehidupan manusia Indonesia. Konyolnya lagi, bahasa yang dianggap mudah itu justru yang paling banyak dilecehkan (dibaca: tidak diperlakukan sesuai dengan kaidah dan norma berbahasa yang berlaku).

Jika kita merasa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara, maka sudah sepatutnya kita sebagai warga negara agar dapat memperhatikan bahasa Indonesia dalam pemakaiannya. Tugas menjaga bahasa Indonesia merupakan tugas kita bersama. Jika kita yang hanya sebagai pemakai bahasa Indonesia dapat menjaga eksistensi bahasa Indonesia, maka mereka yang adalah orang-orang atau lembaga-lembaga yang bertugas mengembangkan bahasa Indonesia (seperti guru bahasa Indonesia, dosen bahasa Indonesia, Balai Bahasa, dan lain-lain) mestinya bekerja dua kali lebih keras dari mereka yang hanya menggunakan bahasa Indonesia. Artinya, orang-orang dan/atau lembaga-lembaga seperti yang tersebut di atas harus dapat menjadi model atau panutan bagi masyarakat umum.

Nilai Ekonomis
Pernahkan kita membaca koran yang headline-nya ditulis tidak sesuai dengan yang seharusnya. Misalnya, Basarnas Cari Korban Kapal Karam di Selat Sunda yang seharusnya Basarnas Mencari Korban Kapal Karam di Selat Sunda. Leksikon mencari ditulis cari bukan karena si author atau penulis berita tidak paham dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan  benar melainkan suatu cara agar judul berita tidak terlalu panjang, sebab akan berdampak pada biaya pencetakan. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin hemat pula pengeluaran. Seperti itulah dunia pemberitaan (pers) Indonesia.

Hal semacam ini perlu ditiadakan atau dicicil untuk dikurangi, sebab jika tidak, lambat laun masyarakat akan menganggap bahwa hal tersebut atau apa yang diucapkan dalam berita itu secara sintaktik benar adanya.


=========
Oleh:
ariesrutung

Mengenal Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian

Filsafat Bahasa Biasa merupakan aliran yang menentang pemikiran aliran Linguistik-Struktural Saussurian. Filsafat Bahasa Biasa melihat bahasa bukan sekadar alat komunikasi tetapi juga merupakan persoalan penggunaanya yang terkonteks dalam kehidupan masyarakat pemakai bahasa. Oleh karena itu, dalam teori Filsafat Bahasa Biasa terdapat istilah tata permainan bahasa yang dimaknai sebagai upaya penggunaan bahasa oleh komunitas (guyup tutur) tertentu dengan menggunakan kaidah atau gaya yag disepakati dalam komunitas tersebut. Sebagai contoh, bahasa yang dipakai dalam periklanan tentu harus persuatitf sehingga berbeda dengan bahasa dalam karya sastra. Atau, bahasa yang digunakan dalam makalah, karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi memiliki aturannya tersendiri. Penggunaan aturan-aturan yang disepakati dalam lingkup tertentu itulah yang disebut sebagai tata permainan bahasa. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa tata permainan bahasa adalah segala bentuk ungkapan bahasa yang sesuai dengan konteks (ranah) masyarakat penggunanya dan merupakan suatu cerminan nilai dan aturan tertentu (Wibowo, 2018: 12). Di sisi hal itu, Filsafat Bahasa Biasa menfokuskan diri pada bahasa biasa atau bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang terkonteks dengan kehidupan penutunya, sebagai ruang lingkup (scope) pembicaraannya.

Berbeda halnya dengan filsafat bahasa biasa, aliran Linguistik-Struktural Saussurian melihat bahasa sebagai sebuah unsur yang terlepas dari kehidupan penuturnya. Dengan perkataan lain, linguistik struktul sausurian melihat bahasa sebagai hal yang terbalik atau tidak terkonteks dengan kehidupan para penuturnya, sebagaimana dijelaskan dalam Filsafat Bahasa Biasa. Dalam pernyataan lain, lienguistik struktural menganggap bahasa hanya sebagai gejala empiris, yang identik dengan gejala alam biasa, yang memiliki struktur dan sistemnya sendiri, dan karena itu sama sekali tidak terkonteks dengan kehidupan manusia (Wibowo, 2018: 20).

Pencetus aliran filsafat bahasa biasa bernama Ludwig Wittgenstein, seorang profesor (guru besar) Filsafat Bahasa di Universitas Cambrige London, Inggris. Beliau memiliki banyak murid, akan tetapi yang mengikuti jejaknya hanya satu orang, yakni Langshaw Austin. Ia berhasil merumuskan teori-teori tentang ontologi dan epistemologi dari aliran Filsafat Bahasa Biasa yang kemudian diaplikasikan oleh muridnya, Austin. Sehingga, sampai hari ini sering kali yang dikenal sebagai pencetus aliran Filsafat Bahasa adalah Wittgenstein dan Austin. Dari situlah, cikal-bakal Filsafat Bahasa Biasa yang di Indonesia sendiri belum terlalu dibahas secara luas. Akan tetapi, jika melihat dan membaca buah pikiran Dr. Wahyu Wibowo melalui buku-buku yang berhasil ditulisnya, sebenarnya di Indonesia sendiri sudah ada yang mengupas dan mengulas tentang aliran Filsafat Bahasa Biasa. Memang agak sulit diterapkan di sekolah-sekolah, sebab aliran lingusitik-struktural Sausurian sudah lebih dahulu meracuni pikiran-pikiran manusia terdidik Indonesia, sehingga tentu saja sulit untuk dikembangkan.

Sementara itu, aliran Linguistik-Struktural Sausurian, seperti yang dikenal di dunia pendidikan di Indonesia, misalnya tentang “bahasa baku” dan “bahasa nonbaku” atau “kalimat baku” dan “kalimat nonbaku” adalah bentuk hegemoni (dominasi) aliran Linguistik-Struktural Saussurian dalam kehidupan pendidikan kita (Wibowo, 2018: 22). Sesuai dengan namanya, pencetus aliran ini adalah Ferdinan de Saussure, seorang dosen linguistik Universitas Jenewa yang kemudian dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern berkebangsaan Swiss.

Harus kita akui, baik aliran Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian secara ontologis (hakikat) memang tidak dapa dipertentangkan, karena saling berbeda pijakan. Akan tetapi, dari segi epistemologi, kedua lairan ini mengindikasikan pertentangan tajamnya (Wibowo, 2018: 20-21). Oleh karena itu, Saussure dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern, sedangkan Wittgenstein dikenal sebagai Bapak Filsafat Kontemporer (Wibowo, 2018: 21).


Referensi
Wibowo, Wahyu. 2018. Komunikasi Kontekstual: Kontruksi Terapi-Praksis Aliran Filsafat Bahasa Biasa. Jakarta: Bumi Aksara.


==========
Author:
ariesrutung95

Cerita Benteng Ponto - Manggarai Barat

Dahulu kala di sebuah kampung, Wae Wene, hiduplah beberapa warga yang bekerja sebagai nelayan. Pada suatu hari, ada seorang nelayan menyusuri sungai untuk memancing. Ketika ia sedang menunggu ikan memakan umpan pancingannya, tiba-tiba seekor belut pendek (dalam bahasa Manggarai disebut Tuna tompok) menyambar umpannya. Seketika itu juga sang nelayan langsung menarik pancingannya dan menangkap belut tersebut. Betapa kagetnya ia melihat belut yang ditangkapnya itu karena sangat besar (kira-kira seukuran paha orang dewasa). Karena tubuh belut yang licin dan ukurannya yang terlalu berat, sang nelayan mengalami nasib sial, belut itu terlepas dari genggamannya. Karena hari sudah sore, sang nelayan pulang tanpa seekor pun ikan yang berhasil ditangkap.

Sesampainya di rumah, sang nelayan menceritakan belut yang hampir ditanggkapnya kepada beberapa tetangga terdekat. Karena penasaran, mereka bersepakat untuk menangkap belut tersebut. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, sang nelayan bersama dua warga lainnya beranjak menuju kali. Sesampainya di kali, ketiganya langsung menurunkan tali pancing masing-masing. Tiba-tiba belut menyambar pancingan mereka. Tetapi, belut yang tertangkap bukanlah belut seperti yang diceritakan. Karena tidak sesuai, belut yang mereka tangkap dilepaskan kembali.

  “Bukan ini yang kami cari,” kata salah seorang pemancing.

Hari sudah hampir sore, tetapi belut yang diidamkan belum juga tertangkap. Karena sudah mulai lelah, ketiganya memutuskan untuk bermalam di atas perahu kecil alias sampan. Sambil menunggu belut menyambar umpan mereka, mereka bercerita di atas perahu. Beberapa menit kemudian, ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba pancingan salah seorang nelayan disambar-tarik. Rupayanya, itu adalah belut yang mereka cari. Dua orang nelayan lainnya ikut memantu menangkap belut tersebut. Benar saja, belut yang mereka cari berhasil ditangkap. Karena terlalu senang, tanpa pikir panjang mereka menepi ke daratan untuk mencari tempat peristirahatan sekaligus membuat perapian untuk memasak belut itu.

Setelah matahari sudah terbit, mereka bersiap-siap untuk pulang. Belut yang ditangkap kemudian dipotong-potong dan dibagi-bagi, sebagian lainnya dijadikan sarapan pagi. Beberapa menit setelah memakan daging belut tersebut, ketiga orang itu menjadi mabuk. Menurut adat orang Manggarai, belut yang memiliki ciri-ciri fisik pendek dan besar merupakan penjaga sungai. Jadi, belut yang berhasil mereka tangkap tersebut merupakan penjaga sungai tempat mereka memancing. Adalah hal yang sangat pantang jika siapa saja membunuh belut tersebut dan pasti akan menuai karma.

Karena sudah mabuk, mereka memutuskan untuk pulang. Daging-daging belut itu berubah menjadi keris. Di atas perahu, ketiga nelayan tersebut berencana pergi ke Bima, salah satu wilayah yang penghuninya pernah menyerang dan menguasai hampir seluruh wilayah Manggarai. Tujuan mereka ke bima adalah untuk membalas dendam (perang). Sesampainya di Bima, yang menurut pikiran ketiga nelayan tersebut adalah Bima, tertapi ternyata adalah kampung tempat mereka tinnggal.

Karena sudah marah, ketiganya langsung turun dari perahu dan membunuh semua warga yang ada di kampung itu. Anak dan istri mereka ikut terbunuh. Melihat kejadian itu, seorang perempuan hamil melarikan diri dan bersembunyi di bawah rumah kerang yang berukuran sangat besar (cukup untuk menutupi tubuhnya). Setelah semua terbunuh, ketiga nelayan itu baru sadar dan betapa kagetnya mereka melihat anak dan istrinya sudah dibunuh. Karena kecewa, ketiganya memutuskan untuk saling menikam. Begitulah, ketiganya juga ikut mati di kampung itu.

Setelah merasa tak lagi terdengar suara, perempuan hamil yang bersembunyi di dalam kerang pelan-pelan mendorong rumah kerang itu dan melarikan diri. Dalam pelarian itu, perempuan hamil tersebut akhirnya mendiami salah satu wilayah di Manggarai (yang hari ini termasuk ke dalam kabupaten Manggarai Barat) yakni Nangalili. Dari perempuan tersebutlah cikal-bakal manusia-manusia penghuni Nangalili.

Hari ini, kerang yang dijadikan rumah persembunyian perempuan hamil tersebut masih ada dan oleh warga setempat dijadikan bahan baku pembuat kapur untuk sirih-pinang, tetapi oleh warga setempat kemudian dijaga. Mereka membuat akses menuju bukit tempat di mana kerang itu berada dengan membangung tangga menuju bukit.


===========
Author:
ariesrutung95

Bahasa Ibu pada Generasi Milenial

Bahasa ibu merupakan bahas pertama yang dipakai oleh manusia sebagai alat pemersatu (dimaknai: alat komunikasi), baik dalam lingkup keluarga maupun dalam suatu wilyah-sebaran bahasa tersebut. Bahasa ibu yang masing-masing kita kuasai/miliki hari ini mempunyai masa hidup. Ada yang tetap eksis karena penuturnya setia menjaga dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, ada pula yang mulai mengalami erosi dan tergeser. Bahasa yang berpenutur sedikit berpotensi cepat mengalami pergeseran terutama karena pengaruh bahasa kedua, yaitu bahasa nasional. Tuntutan pekerjaan, proses globalisasi, pengalihan fungsi lahan, faktor ekonomi, dan inteferensi suatu bahasa mayoritas cenderung menjadi faktor penyebab bergesernya suatu bahasa. Artinya, terdapat hubungan antara pemakai (penutur) suatu bahasa dengan lingkungannya, bahasa dengan perkembangan dunia terutama teknologi, bahasa dengan bahasa lain, dan bahasa dengan pembangunan. Lingkungan memiliki andil terhadap eksistensi suatu bahasa tertentu.

Di Indonesia, perkembangan bahasa ibu mengalami kompetisi dengan pemakaian bahasa nasional, bahasa Indonesia. Bentuk persaingan yang paling nyata yakni tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang menuntut (terutama dalam dunia pendidikan) agar individu terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kontadiksi dari hal semacam ini adalah bahasa ibu merupakan kekayaan budaya daerah yang harus dijaga. Hal ini memberikan tawaran kepada pemakai bahasa atas pentingya penguasaaan kedua bahasa tersebut. Bahkan lebih ekstrim lagi, masyakat Indonesia yang rata-rata adalah dwibahasawan dituntut bisa berbahasa asing agar dapat bersaing di dunia global, bahasa Inggris misalnya, sehingga menjadi multibahasawan.

Persoalan di atas memberikan saya keyakinan bahwa masyarakat indonesia tidak betul-betul multibahasawan atau dwibahasawan, sebab pengetahuan kita tentang satu bahasa tertentu hanyalah awang-awang. Atas dasar ini pula, saya berkeyakinan bahwa aspek kuantitas tanpa kualitas penutur suatu bahasa tidak menjamin bahasa tersebut bertahan dari pergeseran hingga kepunahan. Konsep dwibahasawan atau multibahasawan merupakan suatu kemampuan, pemahaman, dan keterampilan. Jika pengetahuan kita terhadap suatu bahasa tidak cukup, pemakaian suatu bahasa cenderung melihat konteks dan tidak konsisten, cenderung beralih kode dan bercampur kode, bagaimana mungkin eksistensi bahasa itu terjaga. Sejalan dengan itu, Saussure dan Barker dalam Mbete (2008: 8) mengatakan, bahasa itu harus kukuh berada dalam kognisi penuturnya dan harus digunakan secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Waktu dan usaha manusialah yang menentukan kelestarian sebuah bahasa daerah. Apa pun yang digunakan oleh generasi tua hanya semata-mata untuk mempertahankan bahasa daerahnya agar tetap lestari dari ancaman kepunahan (Rahardjo, 2004: 159). Semakin kita gigih mempertahankan suatu bahasa, semakin kuat pula penyatuan bahasa itu dengan pengetahuan kita. Selain itu, dwibahasa atau multibahasa bukanlah suatu hal yang penting karena pengetahuan kita terhadap masing-masing bahasa itu tidak optimal. Selalu ada interferensi dalam penggunaan masing-masing bahasa itu, terutama dalam pergaulan atau lingkungan di mana kita beraktivitas.

Memahami bahasa bukanlah hal yang mudah, kendati kita mengeklaim diri sebagai dwibahasawan atau multibahasawan. Pemahaman kita terhadap bahasa itu hanyalah sebatas pemahaman sebagai alat komunikasi yang didasarkan pada konteks, misalnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia hanya ketika bertemu dengan orang yang tidak sebahasa ibu dengannya. Akan tetapi, peggunaan bahasa itu secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial-budaya seperti yang dikutip Mbete di atas kiranya hingga hari ini belum bisa dilabeli kepastian.

Kasus seperti di atas sering dialami oleh masyarakat yang bermigrasi, mengenyam pendidikan di luar daerah asalnya, atau dominasi salah satu bahasa tertentu karena lingkungan menuntutnya demikian, misalnya kasus bahasa suku Aborigin. Di perguruan tinggi, komunitas yang terbentuk mempunyai latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi secara sempurna, dipakailah sebuah bahasa yang sama-sama dianggap dapat menyatukan segala kepentingan. Dalam konteks Papua yang beragam bahasa ibu, bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia. Betapa tidak dapat dibayangkan, jika seseorang masuk ke dalam lingkungan yang sama sekali tidak mempunyai penutur sebahasa dengannya, bukan hal mustahil bahasa ibunya (dimaknai: bahasa daerah) mengalami erosi karena tidak pernah dituturkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sangatlah benar pandangan yang dikemukakan oleh Saussure dan Barker di atas. Eksistensi sebuah bahasa tidak ditentukan oleh seberapa banyak penutur, tetapi seberapa sering individu menggunakan bahasa itu dalam komunikasi sehari-hari. Hal yang tidak kalah penting adalah pengetahuan penutur atas bahasa ibunya.


===========
Author:
ariesrutung95

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini belum sepenuhnya efektif. Hal ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap literasi. Kemahiran literasi mengantarkan sesorang untuk mengetahaui dan menyadari kebutuhan informasi bagi dirinya, mengetahui sumber-sumber informasi yang dapat diakses, terampil mengakses informasi yang dibutuhkan, dan terampil memanfaatkan informasi yang telah diperoleh untuk menghasilkan gagasan atau karya baru yang bermanfaat.

Pemanfaatan informasi dapat dilakukan untuk membangun gagasan baru yang lebih utuh atau untuk kepentingan-kepetingan praktis lainnya. Maksud ini dapat diwujudkan jika individu atau masyarakat memiliki kesadaran potensi diri dan pemanfaatannya infrastruktur teknologi modern secara positif. Pribadi ini menghindari pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi sebagai ruang obrolan yang sangat narsis, konsumtif, dan terkesan hura-hura. Teknologi ini seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk berbincang menu sarapan pagi, aktivitas wisata pribadi atau keluarga, dan reuni, tetapi digunakan sebagai ruang-ruang diskusi yang cerdas untuk pemberdayaan diri.

Dalam konteks menulis, setiap tulisan dibuat bukan sekadar ekspresi dari penulis itu sendiri, melainkan bentuk komunikasi penulis agar para pembaca atau penikmat tulisannya juga mampu menginterpretasi (menilai) apa yang dilihatnya. Jika tulisannya itu tidak terkonteks dengan kehidupan nyata atau fakta empirisnya tidak mendukung, maka pembaca diharapkan dapat memberikan penilaian atas sesuatu yang dibacanya. Sehubungan dengan itu, setiap wacana selalu mengandung niat, keteladanan, dan efek dari subjek penyaji wacana terhadap individu atau masyarakat yang menikmatinya. Ketiga hal ini jika dikaitkan dengan konsep tindak tutur komunikasi, maka kita akan menemukan istilah lokusi, ilokusi, dan perlokusi (Wibowo, 2015)

Untuk mendukung kompetensi literasi secara produktif dan kreatif, blog memberikan ruang yang sangat besar bagi setiap individu yang ingin mengaktualisasikan dirinya dalam dunia tulis-menulis. Blog adalah salah satu media yang dapat dijadikan sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan literasi baca-tulis. Lebih dari itu, blog dalam skala yang lebih besar merupakan media yang dapat dipakai untuk mengembangkan literasi teknologi yakni keterampilan menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Lihat saja, hari ini informasi yang kita dapat sebagian besar disebarluaskan melalui blog. Di samping  itu, jika mata kita tidak tertutup terhadap dunia digital, banyak orang yang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan.

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi
Hadirnya media blog akan sangat mempengaruhi kemapuan individu yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam berliterasi. Di dalam blog, setidaknya seseorang akan memahami apa itu literasi baca-tulis, literasi digital, literasi informasi, literasi internet/jaringan, literasi komputer, literasi media, dan literasi teknologi. Ketujuh jenis literasi itu sudah terkandung di dalam blog. Untuk memahaminya, berikut akan dijelaskan secara berturut-turut.

Literasi Baca-Tulis
Secara sederhana, literasi baca-tulis diartikan sebagai melek aksara atau melek huruf. Literasi baca-tulis merupakan kemampuan untuk memahami isi teks tertulis (tersurat maupun tersirat) dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial (KBBI Luring Edisi V).

Bagi seorang blogger-pemula, kesalahan dalam menulis adalah hal yang biasa, bahkan akan diaggap sah-sah saja jika masih belum terlalu memperhatikan aturan-aturan penulisan. Kesalahan selalu mutlak mengambil bagian dalam keberhasilan atau kesuksesan sebuah tulisan pada blog. Dengan memadukan metode feedback (peer feedback, teacher feedback, dan self feedback) diharapkan dapat membantu blogger-pemula dalam meningkatkan kemampuan menuangkan ide atau gagasannya melalui tulisan. Keterbacaan sebuah tulisan bukan sepenuhnya dibebankan kepada penulis pemula, melainkan dibantu oleh kemampuan memahami dari para pembaca. Artinya, kemampuan seorang pembaca untuk memhami maksud yang ingin disampaikan penulis merupakan suatu keharusan, sehingga antara penulis dan pembaca saling membutuhkan. Dengan demikian, feedback adalah cara yang paling efektif dalam meningkatkan mutu tulisan.

Literasi Digital
Literasi digital merupakan suatu keahlian yang bertalian dengan penguasaan atau pemaanfaatan sumber dan perangkat digital. Riel (2012: 3) berpendapat bahwa literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari peranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu, Bawden (2001) mengemukakan bahwa literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Salah satu peranti digital yang dipakai untuk mengakses dan meyebarluaskan informasi adalah blog. Melaui blog yang dipadukan dengan jaringan/internet, seseorang dapat mengakses segala informasi yang dibutuhkannya dengan sangat cepat. Seseorang yang membutuhkan informasi mengenai cara menulis yang baik, blog selalu berandil memberikan alternatif bagi pengakses. Kemampuan seseorang memahami informasi yang dimuat melalui blog, menyadurnya menjadi informasi yang baru, dan menyebarluaskan kembali adalah kemampuan dalam memaknai literasi digital. Literasi digital merupakan gabungan dari beberapa bentuk literasi, yaitu literasi komputer, literasi informasi, literasi teknologi, literasi visual, literasi media, dan literasi komunikasi (Martin, 2008).

Blog memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk mengakses, memilih, dan memahami berbagai jenis informasi yang berguna bagi peningkatan taraf hidup dan kehidupannya. Selain itu, blog juga memberikan ruang bagi seseorang untuk berpartisipasi dalam menyuarakan aspirasi, perspektif, dan opininya kepada khalayak ramai.

Literasi Informasi
Literasi informasi dapat diartikan sebagai keahlian dalam mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan (Verzosa, 2009 dalam Sitti Pattah, Literasi informasi: peningkatan kompetensi informasi dalam proses pembelajaran). Saya menjabarkan apa yang disampaikan oleh Doyle dalam Apriyanti (2010: 11) dengan mengaitkannya dengan aktivitas bloging. Individu yang memiliki kemahiran terhadap literasi informasi, sekurang-kurangnya ia mampu:

Pertama, menyadari kebutuhan informasi. Artinya, seseorang menyadari betapa minimnya pengetahuan yang dimilikinya sehingga ia merasa apa yang diketahuinya belumlah cukup. Orang semacam ini tahu bahwa dirinya tidak mengetahui apa pun. Seorang bloger atau narablog harus memiliki sikap seperti ini. Tulisannya akan mencerminkan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Jika blog yang dibangun bertujuan untuk membagikan pengetahuan tentang komputer, maka pastikan blogernya mempunyai pengetahuan lebih tentang dunia komputer. Jangan sampai artikel yang dihasilkan adalah hasil aktivitas plagiat.

Kedua, menyadari informasi yang akurat dan lengkap merupakan dasar dalam membuat keputusan yang benar. Orang yang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai suatu hal cenderung memberikan pertimbangan terhadap informasi yang diterimanya berkali-kali. Apabila informasi itu tidak sesuai dengan pengetahuannya, mengonfirmasi adalah cara agar kebenaran informasi itu terkuak. Semakin banyak ia mengetahui, semakin baik pula keputusan yang diambilnya. Menulis artikel dengan latar belakang pengetahuan jaringan yang luas merupakan daya dukung bagi seorang bloger dalam membagikan pengetahuanya kepada para pembaca.

Ketiga, mampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial dari suatu informasi. Pada tataran ini, jika seseorang memiliki pengetahuan lebih mengenai informasi yang didapatnya, setidak-tidaknya ia bisa membedakan mana sumber informasi yang terpercaya, informasi yang dibaluti etis, dan mana informasi yang mengandung subjektivitas.

Keempat, mampu membangun strategi pencarian yang tepat. Dalam mencari informasi, individu yang yang mempunyai pemahaman lebih tentang mengakses informasi tertentu akan sangat cepat memperoleh suatu informasi baru, yang viral dan up to date, karena ia tahu dan paham cara memperolehnya. Bahkan bisa jadi informasi itu sebelum viral, ia sudah terlebih dahulu membaca atau melihatnya. Dengan perkataan lain, ia selangkah lebih maju dari orang lain.

Kelima, mampu mengakses berbagai sumber informasi termasuk teknologi dasar lainnya. Dengan pengetahuan yang baik tentang teknologi, informasi apa saja bisa ia peroleh. Seperti yang sudah saya singgung di poin sebelumnya, ia selalu selangkah lebih maju dari orang lain. Sebelum informasi itu dikonsumsi publik, mungkin saja ia adalah orang pertama yang mengetahuinya, bahkan lebih mungkin lagi informasi itu dipublikasikan olehnya.

Keenam, mampu mengevaluasi informasi, mampu mengelola informasi untuk mengaplikasikan/mempraktikkannya. Tingkat pemahaman kita terhadap sesuatu dapat dijadikan parameter dalam mengevaluasi dan megelola sesuatu sehingga dapat diaplikasikan. Misalnya, mencari informasi yang memuat cara membuat blog disertai dengan gambar, tetapi hanya informasi yang dapat dipahami yang bisa kita aplikasikan, yang bisa kita ikuti langkah-langkahnya.

Ketujuh, mampu mengintegrasikan informasi yang baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya. Di era digital, informasi berkembang begitu pesat, teknologi komputer misalnya. Memahami komputer di abad 20 akan berbeda dengan komputer yang eksis di abad 21. Di sinilah kemampuan kita untuk mengintergrasikan pengetahuan lama dengan hal baru yang kita ketahui. Artikel mengenai dasar-dasar komputer yang ditulis berdasarkan perkembangan pada abad 20 perlu kiranya direvisi, disesuaikan dengan pengetahuan yang berkembang hari ini. Pengetahuan baru dalam dunia bloging harus mampu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah pernah kita dapat;

Kedelapan, mampu menggunakan informasi dengan kritis dan untuk menyelesaikan masalah. Jika seseorang mengalami masalah dengan komputer pribadinya, misalnya, berbekal informasi yang pernah ia terima atau informsi yang ia cari, masalah yang dihadapi bisa diatasi.

Literasi Internet/Jaringan
Menurut Doyle,  literasi internet/jaringan merupakan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan teori dan praktik dalam hubungannya dengan internet sebagai medium komunikasi dan pengelolaan informasi. Literasi internet yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas komunikasi, pencarian informasi dan sejenisnya melalui medium internet guna memenuhi kebutuhan yang dimungkinkan terjadi hanya bila seseorang telah memahami literasi komputer (Mudjiyanto, 2012).

Dari pengertian di atas dapat saya katakan bahwa pemahaman kita terhadap literasi teknologi, literasi informasi, dan lain-lain bersumber dari pemahaman kita mengenai literasi komputer dan jaringan/internet. Leksikon download (mengunduh) dan upload (mengunggah) merupakan leksikon yang paling sering kita temuai ketika kita berhubungan dengan jaringan internet. Sebagai contoh, seorang blogger pasti paham dengan kedua leksikon ini, baik itu mendefinisikannya maupun konteks pemakaiannya dalam aktivitas blogging. Memublikasikan tulisan diblog adalah salah satu contoh kegiatan meng-upload, sedangkan mengambil materi yang diunggah ke blog adalah jenis kegiatan men-download. Kemampuan kita mempraktikkan kedua istilah di atas merupakan bentuk pemahaman kita terhadap literasi internet/jaringan.

Lebih luas lagi, literasi jaringan berbicara mengenai intekoneksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia luar, pulau dengan pulau, negara dengan negara, benua dengan benua secara maya. Tentu saja ini dikendalikan oleh manusia.

Literasi Komputer
Literasi komputer merupakan kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pemahaman dasar tentang perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk memecahkan masalah atau mengakses informasi (KBBI, 2015). Dengan demikian, seseorang yang memiliki kemahiran dalam bidang komputerisasi seharusnya menguasai konsep dasar hardware dan software. Sama halnya dengan literasi jaringan, literasi komputer menuntut individu untuk dapat mendiagnosa masalah-masalah komputer, semisal ketika kompuer tidak memiliki tampilan. Ketepatannya dalam memberikan diagnosa merupakan langkah awal bagi individu agar dapat memberikan solusi yang tepat.

Di era digital ini, akan sangat disayangkan jika seseorang hanya mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer. Mestinya, seorang user (pengguna) komputer memiliki kemampuan dasar mengenai komputer, baik itu masakah hardware mauoun masalah software. Langkah yang akan diambil jika komputer yang dipakainya tidak lagi dapat terhubung ke internet atau tidak terkoneksi dengan perangkat tambahan (peripheral), mengerti tantang prosedur mematikan komputer yang baik dan benar atau tips merawat komputer agar bisa bertahan lama adalah kasus-kasus kecil yang mesti seorang user komputer pahami.

Literasi Media
Pemahaman literasi media secara tradisional diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
mengakses, menganalisis, dan menciptakan (Silverblatt, 2007). Sejalan dengan itu, KBBI menjelaskan pengertian literasi media yakni kemampuan mengakses, menganalisis, dan menciptakan informasi untuk tujuan tertentu. Menulis artikel tentang hal-hal yang trendi di masa sekarang merupakan salah satu contoh literasi media. Dengan mengamati, kita dapat membuat gambaran tentang hal yang dilihat dan kemudian memublikasikan apa yang dilihatnya kepada khalayak umum.
Dalam konteks bloging, seorang narablog mesti menguasai literasi media. Hal in penting karena apa yang dituliskannya merupakan hasil dari informasi yang pernah ia akses atau pernah dilihatnya.

Literasi Teknologi
Literasi teknologi secara sederhana dapat dimaknai sebagai keterampilan yang dimiliki seseorang terhadap cara menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Di sini, seseorang dituntut untuk dapat mengomunikasikan informasi, artinya individu tersebut harus memiliki kemampuan dalam menulis. Menguasai literasi teknologi melibatkan literasi informasi yang dua-duanya saling memberi dukungan. Literasi teknologi memungkinkan informasi dapat disebarluaskan dengan cepat dan skop luas. Kemampuan itu dapat dilakukan seseorang melalui blog.


Referensi
Bungin, B. (2006) Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
Bungin, Burhan.(2008). Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Haryati. (2011). Studi Literasi Informasi Pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tenaga Pendidik. Jurnal Penelitian Komunikasi. Bandung: BPPKI. Vol. 14 No. 2. hal. 111-126.

Moedjiono. (2014). Tantangan dan Peluang Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia, jurnal.atmaluhur.ac.id/, diakses 10 Oktober 2018.

Mudjiyanto, Bambang. (2012). Literasi Internet Dan Partisipasi Politik Masyarakat Pemilih dalam Aktivitas Pemanfaatan Media Baru. Jurnal Studi Komunikasi Dan Media. Jakarta: BPPKI. Vol. 16 No. 1. hal. 1-15.

Rahman, A. Harahap. (2010). Literasi Internet Dan Peningkatan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Pikom Penelitian komunikasi dan Pembangunan. Medan Balai besar Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Vol. 11 No. 3. hal. 403 - 426.

Severin, J Werner dan James W. Tankard,, Jr. (2007). Teori Komunikasi, (Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa). Penerjemah, Sugeng Hariyanto. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Triyono, A. (2010). Pendidikan Literasi Media Pada Guru TK Gugus Kasunanan Sebagai Upaya Menanggulangi Dampak Negatif Televisi. Warta, 13(2), 150–159.



===========
Author:
ariesrutung95

Relasi Makna Denotasi dengan Makna Leksikal

Bahasa digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu,  makna bahasa pun menjadi bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai jenis makna telah dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai buku linguistik atau semantik, semisal Gorys Keraf, Abdul Chael, dan lain sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi makna leksikal, makna denotasi, makna konotasi, serta hubungan denotasi dengan leksikal dan konotasi dengan pragmatik.

Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya, atau makna yang ada di dalam kamus. Misalnya, leksem ‘mahasiswa’ memiliki makna leksikal ‘orang yang belajar di perguruan tinggi`, ‘dosen’ bermakna leksikal ‘tenaga pengajar pada perguruan tinggi’.

Makna Denotasi
Makna denotasi adalah makna yang jelas atau makna yang sebenarnya. Dalam ilmu bahasa, makna denotasi merupakan apa yang dijelaskan di dalam kamus (Erdman dalam Janich, 2002: 147). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Denotasi adalah makna asli, makna asal atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata kurus bermakna denotatif yang sama artinya dengan ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal, bukan langsing’.

Makna Konotasi
Konotasi merupakan perubahan nilai arti kata yang terjadi akibat pendengar mengartikan kata dengan memakai perasaannya. Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata bunga seperti contoh di atas, jika dikatakan “Si Ida adalah bunga kampung kami”, ternyata makna bunga tak sama lagi dengan makna semula. Sifat bunga yang indah itu dipindahkan kepada si Ida yang cantik. Dengan kata lain, orang lain melukiskan kecantikan si ida yang bak bunga.

Makna Leksikal dan Makna Denotasi
Berdasarkan definisi masing-masing makna di atas, saya dapat berasumsi bahwa antara makna leksikal dan makna denotatif itu sama. Jika keduanya memiliki arti ‘makna yang sebenarnya atau makna yang didasarkan pada kamus’, maka asumsi saya dapat dianggap benar. Yang membedakan keduanya adalah konteks pemakaiannya seperti yang sudah pernah saya singgung di pembahasan terdahulu. Makna denotasi akan dianggap denotasi apabila konteks pemakaiannya sesuai. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kata rajin ditujukan kepada individu yang benar-benar rajin, maka kata rajin mempunyai makna denotasi, karena penggunaan kata itu sesuai dengan realitas, sesuai dengan yang dilihat atau diamati. Akan berbeda jika kata rajin ditunjukan pada orang yang malas kuliah. Atas dasar itu, maka kata rajin bermakna konotasi karena tidak sesuai dengan konteks situasi dan mengandung nilai rasa di dalamnya.

Makna Konotasi dan Pragmatik
Telaah makna konotasi sama halnya dengan kita mencari tahu tentang pragmatik karena pragmatik berusaha mencari tahu makna dibalik tuturan. Akan tetapi, keduanya tetap saja memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling nampak yakni makna konotasi terdapat di dalam bidang ilmu semantik, sedangkan pragmatik merupakan cabang semiotika yang juga salah satunya adalah semantik. Anda dapat melihat perbedaan semantik dan pragmatik DI SINI.


Referensi
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1986. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Lutfi Ma’luf. 1982. Kamus Al- Munjid. Darul Masyrik. Beirut : Libanon
Djajasudarma, T. Fatimah. 1999. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandumg: PT Refika Aditama.


==========
Author:
ariesrutung95

Resensi Artikel: Erosi Leksikon Bidang Persawahan di Bali

Erosi Leksikon Bidang Persawahan Di Bali: Suatu Kajian Ekolinguistik merupakan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang mahasiswi Program Studi Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana, Ni Ketut Ratna Erawati. Artikel ini menarik untuk dibahas karena berisi penelitian tentang pengaruh lingkungan terhadap eksistensi bahasa. Artikel ini merupakan kajian ekolinguistik. Secara garis besar, artikel ini menjelaskan tentang terjadinya erosi leksikon bidang persawahan di Bali. Erosi leksikon terjadi akibat lingkungan tempat di mana bahasa ini hidup (dipakai) dialihfungsikan ke manfaat lain, sehingga menyebabkan bahasa ini tidak lagi dapat digunakan oleh para penuturnya. Akibatnya, generasi muda dari penutur yang dulunya bekerja di areal persawahan tidak lagi mengetahui bahkan tidak pernah mendengarkan leksikon-leksikon yang hidup dan berkembang pada areal persawahan. Hal inilah yang menjadi penyebab utama mengapa erosi leksikon pada bidang persawahan di Bali ini terjadi. Selain itu, perkembangan teknologi di bidang persawahan juga ikut berandil dan menjadi faktor yang menyebabkan erosinya leksikon.

Artikel ini berusaha menggali faktor penyebab terjadinya erosi leksikon dan meneliti persentase pengetahuan penutur asli (native speaker) terhadap data leksikon yang “eksis” di bidang persawahan di Bali. Selain itu, peneliti mengelompokkan leksikon-leksikon itu berdasarkan kategori sintaksis. Penutur yang diikutsertakan dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam tiga rentang usia, yakni penutur berusia kurang dari (<) 30 tahun, penutur berusia 30 sampai 50 tahun, dan penutur di atas (>) 50 tahun.

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang artikel ini, pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah apakah yang dimaksud dengan erosi leksikon? Apakah 2 faktor yang sudah disebutkan di atas merupakan faktor tunggal yang menyebabkan leksikon pada areal persawahan ini tidak lagi eksis?

Erosi Leksikon
Pada artikel Erosi Leksikon Bidang Persawahan Di Bali: Suatu Kajian Ekolinguistik, pengertian erosi leksikon tidak dibahas begitu jelas. Akan tetapi, dilihat dari latar belakang penulisan artikel, saya dapat memberikan kesimpulan bahwa erosi leksikon adalah gejala memudarnya atau terkikisnya pengetahuan tentang leksikon dari kehidupan penutur sehingga bahasa yang dipakai oleh kelompok penutur bahasa tersebut berpotensi mengalami pergeseran. Belum banyak ahli yang menggunakan istilah ini (erosi), tetapi mereka cenderung menggunakan istilah pergeseran yang dimaknai sebagai suatu keadaan di mana bahasa lokal setempat mengalami perubahan baik pada tataran leksikal maupun gramatikal. Perubahan lingkungan kebahasaan disebabkan oleh dominasi hegemoni sejumlah faktor, yaitu faktor sosiolinguistis, psikologis, demografis, dan ekonomik (Gunarwan, 2006: 102).
Faktor sosiolinguistis adalah adanya bilingualisme (atau multilingualisme jika lebih dari dua bahasa terlibat), faktor psikologis dipengaruhi pandangan para anggota masyarakat bahasa yang bersangkutan mengenai bahasa mereka di dalam konstelasi (tatanan) bahasa-bahasa yang ada di dalam masyarakat (kebanggaan dan kesetiaan yang tinggi terhadap bahasa), faktor demografis berhubungan dengan jumlah penutur yang kecil, dan faktor ekonomik dikaitkan dengan pemilihan bahasa menuju pekerjaan yang lebih menguntungkan.

Faktor-Faktor Penyebab Erosi Bahasa
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya erosi terhadap bahasa pada bidang persawahan di Bali, antara lain sebagai berikut.

Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan mengubah fungsi suatu lahan yang aktif dipakai untuk kegiatan bercocok tanam, misalnya, menjadi lahan pembangunan pemukiman (rumah-rumah/atau gedung-gedung). Pengalihfungsian lahan semacam ini cenderung membawa akibat tererosinya leksikon-leksikon yang tumbuh dan berkembang serta diapaki pada lahan yang difungsikan untuk bercocok tanam karena tempat leksikon itu tumbuh telah berubah (Erawati, dalam Lingua: Jurnal Penelitian Linguistik volume 2, nomor 2, Agustus 2013).
Terjadinya erosi leksikon bukan karena faktor ketiadaan penutur, tetapi semata karena perubahan lingkungan, sawah sebagai tempat bertumbuhnya leksikon-leksikon dialihfungsikan. Perubahan perilaku masyarakat di Bali dalam bertani dan beralih pekerjaan, misalnya pengalihan lahan sawah menjadi perumahan, perkebunan menjadi vila, dan lain sebagainya menjadi faktor penting terjadinya erosi leksikon.

Kemajuan Bidang Ekonomi
Faktor ekonomi dikaitkan dengan pemilihan bahasa menuju pekerjaan yang lebih menguntungkan. Misalnya, tuntutan dunia kerja saat ini yang selalu menjadi syarat dalam merekrut tenaga kerja adalah kemampuan berkomunikasi yang baik. Sebagai orang Indonesia, kita dituntut terampil menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi secara baik dan benar. Kemampuan kita dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia merupakan peluang untuk dapat memperoleh pekerjaan yang menjanjikan. Dengan demikian, kemajuan bidang ekonomi membawa implikasi langsung terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Perkembangan Teknologi
Perkembanagan teknologi juga berandil dalam masalah tererosinya bahasa di bidang persawahan di Bali terutama teknologi untuk bidang perswahan itu sendiri. Perkembangan teknologi memberikan perubahan pola panen dan alat yang digunakan untuk mengolah sawah. Misalnya, kehadiran mesin potong padi sampai menghasilkan gabah. Akibanya, alat tradisional yang dipakai sebelumnya tidak lagi digunakan sehingga leksikon untuk alat tradisional yang dipakai memotong padi makin terkikis dan cenderung hilang sehingga muncul leksikon baru untuk menggantikannya.

Ekosistem Sawah
Hilangnya beberapa populasi binatang dari eksosistem sawah. Punahnya binatang ini disebabkan oleh perubahan pola tanam padi dan penggunaan zat kimia pembasmi serangga yang mengganggu pertumbuhan padi. Selain itu, dengan dialihfungsikannya lahan persawahan menjadi pemukiman, maka segala jenis binatang (tikus, ular sawah, belut, keong, katak, dan lain sebagainya) yang menjadikan sawah sebabai habitat perlahan mengalamai kepunahan. Kepunahan binatang-binatang ini berdampak pada hilangnya leksikon yang dipakai untuk menyebut nama binatang-binatang tersebut.

Hasil penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Erawati ini menghasilkan pengelompokkan kata berdasarkan kategori sintaksis. Pengelompokan itu terdiri atas nominal (nomina kongkret, nomina yang bersifat magis, dan nomina bilangan) dan verbal. Di samping itu, akan dilengkapi dengan beberapa leksikon metafora. Sampel dari penelitian ini adalah 30 orang responden berdasarkan kriteria umur. Hasil penelitian menunjukan data pengetahuan penutur mengenai leksikon persawahan berdasarkan kategori-kategori yang ditetapkan peneliti terhadap penutur asli (native speaker) berusia kurang dari 30 tahun, 84% tidak pernah mengetahui leksikon yang menjadi data, usia 30 sampai 50 tahun, 50% pernah mendengar, dan penutur bersuia di atas 50 tahun, 86% pernah mendengar dan mengetahui.

Simpulan
Berdasarkan analisis di atas dapat dikatakan bahwa bahasa mengalami perubahan apabila ekologi yang menunjangnya berubah pula. Banyak ditemukan leksikon-leksikon yang berkaitan dengan persawahan cenderung tidak pernah digunakan dan akhirnya hilang. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat dikatakan, bahwa kadar ketidaktahuan generasi muda terhadap leksikon-leksikon bidang persawahan berada pada 80% ke atas tidak mengetahuinya dan kecenderungan punah. Demikian pula dengan adanya kemajuan zaman dan kemajuan teknologi bahasa Bali banyak yang tergantikan oleh leksikon-leksikon baru. Di satu sisi, ada kata-kata/leksikon yang tererosi, kemudian menghilang dan di sisi lain tumbuh leksikon pengganti.

Daftar Pustaka
Al-Gayoni, Yusradi Usman. 2010. "Campur Alih Bahasa Gayo". www.theglobejournal.com (2 April 2010).

--------------------------------------- "Pengajaran Bahasa Berbasis Budaya". www.theglobejournal.com (20 Pebruari 2010).

--------------------------------------- "Serial Petatah-Petitih Gayo".
http://kenigayo.wordpress.com/2010/02/22/serial-petatah-petitih-gayo/ (22 Februari 2010).

--------------------------------------- "Penyusutan Tutur dalam Masyarakat Gayo: Pendekatan Ekolinguistik (tesis). Medan: Sekolah Pascasarjana USU.

Haugen, Einar. 1972. The Ecology of Language. California: Sanford University Press.

Mbete, Aron Meko. 2009. "Selayang Pandang Tentang Ekolinguistik: Perspektif Kelinguistikan Yang Prospektif". Bahan Untuk Berbagi Pengalaman Kelinguistikan Dalam Matrikulasi Program Magister Linguistik Program Pasacasarjana Universitas Udayana, 12 Agustus 2009.

Mufwene, Salikoko S. 2001. The Ecology of Language Evolution. Cambridge: Cambridge University Press.

Odum, Eugene P. 1996.Dasar-Dasar Ekologi. (edisi terjemahan oleh Ir. Tjahjono Samingan, M. Sc.dari buku asli berjudul Fundamentals of EcologythirdEdition. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Susilo, Rachmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.



===========
Author:
ariesrutung95

Cara Mengonfigurasi Access Point TPLINK TL-WA901ND

Pada tutorial ini kita akan sama-sama belajar (mengenal dan mengonfigurasi) perangkat access point (selanjutnya disingkat AP). Manfaat dari AP adalah untuk menyebarkan dan/atau menerima sinyal wireless, sehingga perangkat-perangkat yang mendukung wireless dapat saling terhubung dalam satu jaringan. Dengan menggunakan perangkat ini kita dimungkinkan untuk memperluas/memperkuat jangkauan pancaran sinyal wireless, dapat menangkap jaringan wireless yang disebarkan oleh perangkat lain, atau hanya menyebarkan sinyal wireless, dan lain-lain.
Pada dasarnya, untuk mengonfigurasi setiap perangkat AP, langkah-langkah awal yang dilakukan hampir sama, tergantung tujuan dikonfigurasikannya perangkat tersebut. Bagi pemula, kehadiran artikel ini diharapkan dapat membantu memberikan pencerahan, pemahaman atau mungkin dapat mempraktikkannya sendiri. Berikut ini akan dijelaskan langkah demi-langkah Cara Mengonfigurasi Access Point TPLINK TL-WA901ND dengan berbagai mode.
  1. Hubungkan PC atau laptop dengan access point menggunakan kabel LAN yang sudah disediakan dalam produk access point (biasanya straight)
  2. Buka salah satu browser (semisal google chrome) dan akses alamat IP default AP TPLINK 192.168.0.254 sehingga terbuka jendela login. Username dan password defaultnya adalah admin/admin.
  3. Setelah terbuka/berhasil login, kita akan diarahkan pada langkap selanjutnya yaitu Quick Setup. Pada jendela yang muncul, klik next.
  4. Jika kita ingin mengubah akun yang dipakai untuk login, pada pilihan change the login account pilih Yes. Kolom old user name dan old password diisi dengan nama pengguna dan kata sandi lama, sedangkan kolom new user name, new password, dan comfirm new password diisi dengan user name dan password baru. Jika selesai, klik next atau selanjutnya. Tetapi jika kita tidak mengubah akun masuknya, langsung klik next saja
  5. Selanjutnya, kita masuk pada pilihan mode. Lihat gambar di bawah ini!
    Terdapat beberapa pilihan pada pilihan mode diantaranya (1) Access Point. Mode ini digunakan apabila kita akan mengubah jaringan kabel ke jaringan WiFi. Misalnya, di ruangan A terdapat modem indihome, maka kita menggunakan fitur accsess point  ini semata-mata sebagai titik untuk memancarkan sinyal WiFi;
    (2) Repeater (Range Extender), digunakan apabila kita ingin memperluas atau memperpanjang area jangkauan sebaran sinyal WiFi yang tidak mampu dijangkau oleh AP lain. Jadi topologinya adalah, AP ruangan A jika tidak dapat diakses dari ruangan B, maka kita akan menambahkan satu AP lagi sebagai penguat signal agar jangkauannya mampu diakses oleh ruangan B;
    (3) Bridge with AP, digunakan apabila satu perangkat menyebarkan sinyal WiFi dan kita ingin menangkap signal WiFi tersebut lalu menyebarkannya kembali dengan nama berbeda;
    (4) Client, digunakan hampir sama dengan mode Bridge with AP, tetapi pada mode ini sinyal tidak disebarkan lagi. Mode ini dipakai hanya untuk menangkap signal. Jika sebuah perangkat AP menggunakan mode ini, maka ia hendak memfungsikan port LAN AP untuk disambungkan ke perangkat lain, seperti komputer yang tidak memiliki WiFi card;
     
    (5) Multi SSID, digunakan untuk menjadikan AP sebagai penyebar banyak signal WiFi dengan nama dan jenis keamanan yang berbeda. Jadi, pada satu perangkat dimungkinkan untuk menyebarkan sinyal WiFi lebih dari satu.
  6. Pada artikel ini, kita hanya akan berfokus pada satu mode saja yaitu mode Bridge with AP, maka langkah selanjutnya adalah memilih mode Bridge with AP. Jika sudah selesai, klik next.
  7. Pada langkah 7, perangkat akan mendeteksi sinyal-sinyal WiFi yang tersebar disekitarnya, sehingga hasilnya akan seperti gambar di bawah ini. 
  8. Jaringan WiFi yang akan digunakan adalah wicom_opis. Selanjutnya, klik connect sehingga terbuka jendela seperti di bawah ini.
    Pada pilihan Bridge with AP mode Settings: SSID, MAC address, WDS Mode akan secara otomatis terisi. Yang perlu kita ubah adalah kolom wireless Security Mode menjadi WPA=PSK/WPA2-PSK(Recommended). Selanjutnya, pada pilihan Local Wireless Setting, isikan SSID, pilih wireless security mode-nya, dan isikan password sesuai dengan kebutuhan. Jika sudah selesai, jangan lupa klik next.
  9. Langkah selanjutnya adalah mengatur pengaturan jaringan perangkat, bagaiman perangkat akan mendapatkann IP (manual (static) atau otomatis (DHCP). Jika kita memilih static IP, maka IP-nya kita tentukan sendiri pada kolom IP Address dan Subnet mask. Kita juga dapat mengaktifkan DHCP server pada perangkat agar semua perangkat yang terhubung dengan AP ini nantyinya memperoleh IP secara otomatis. Sedangkan Smart IP (DHCP) dipilih apabila kita ingin mendapatkan IP address secara otomatis dari perangkat yang terhubung di atasnya. Jika sudah selesai, klik next untuk melanjutkan.
  10. Sampai di sini, tahap konfigurasi AP telah selesai. Lihat gambar di bawah ini. Untuk menyimpan konfigurasi, klik finish. Anda juga dapat mem-backup pengaturan yang sudah anda lakukan agar jika ada pernagkat yang sama hendak dikonfigurasi, anda cukup meng-import file yang sudah kita simpan tadi melalui menu System tools – backup & Restore.



==========
Author:
ariesrutung95

Perbedaan semantik dengan pragmatik

Pragmatik adalah studi tentang makna dalam kaitannya dengan konteks ujaran. Pragmatik muncul sebagai usaha mengatasi kebuntuan semantik dalam menginterpretasikan makna kalimat. Kempson (1997) mengemukakan bahwa teori semantik, baik semantik kondisi kebenaran maupun semantik tindak tutur, masih terbatas kemampuannya untuk menjelaskan fenomena kebahasaan. Kelancaran dalam berkomunikasi ditunjang banyak hal, salah satunya adalah dengan ditaatinya prinsip-prinsip percakapan. Apabila antara penutur dan petutur telah memahami tujuan percakapan maka tujuan percakapan itu akan tercapai dengan lancar.
Istilah pragmatik dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan pemahaman makna kata-kata dalam situasi tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang makna yang dikehendaki oleh penutur disebut pragmatik. Pragmatik juga mengupas makna tuturan dan makna terikat konteks, serta pendekatan analitis dalam linguistik berupa pertimbangan konteks dalam studi bahasa. Konteks mempunyai pengaruh yang cukup kuat pada penafsiran makna kata-kata yang diucapkan oleh penutur. Stubs (Cahyono 1995: 215) mengemukakan bahwa unsur-unsur konteks itu ialah pembicara, pendengar, pesan, latar, atau situasi, saluran, dan kode.

Pragmatik lahir sebagai usaha untuk mengatasi kebutuhan samntik dalam menafsirkan sebuah makna ujaran dalam kalimat. Pada dasarnya antara semantik dan pragmatik sama saja karena berhubungan dengan makna. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup di dalam teori semantik, makna yang ditelaah pragmatik adalah makna setelah dikaji oleh semantik. Semantik adalah telaah makna kalimat (sentences) sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Perbedaan pragmatik dan semantik juga dapat dilihat dari bidang pengkajiannya. Bidang kajian pragmatik adalah tentang makna dalam situasi ujar antara penutur dan petutur, sedangkan kajian semantik adalah makna-makna yang berkenaan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur, dan petuturnya.

Dalam pragmatik ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Dalam pemakaian bahasa, orang perlu mempertimbangkan adanya prinsip-prinsip pragmatik seperti prinsip kerjasama dan prinsip sopan santun. Prinsip kerjasama mempunyai 4 maksim yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Maksim kuantitas mengatur agar penutur memberikan informasi seperlunya dalam berbicara, yakni tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari yang diperlukan. Maksim kualitas mengatur agar si penutur mengungkapkan atau mengemukakan hal-hal yang benar. Maksim hubungan mengatur agar mengemukakan hal-hal yang relevan dengan topik dan tujuan pembicaraan. Maksim cara mengemukakan aturan agar penutur menyampaikan sesuatu secara jelas dan tidak membingungkan.


Referensi:
Aliah, Yoce. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif. Bandung: Reflika Aditama

Contoh Kajian Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X #1

Buku teks Bahasa Indonesia untuk SMA dan MA kelas X  merupakan buku sekolah elektronik (BSE) yang berisi 10 pelajaran. Dua  dari sepuluh pelajaran yang tersedia akan saya kaji kesesuaian isi antara tema/bab dengan pokok bahasan, pokok bahasan dengan subpokok bahasan, serta akan dikaji berdasarkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Tujuan mengkaji konten buku ini adalah untuk mencari tahu kekurangan yang menjadi kelemahan dan kelebihan yang menjadi keunggulan buku. Hasil kegiatan ini akan mengarah pada simpulan layak dan tidaknya buku dipakai sebagai referensi belajar peserta didik.

Kedua bab itu antara lain “Pelajaran 1: Budaya Nusantara” dan “Pelajaran 2 Kesehatan Kita”. Dari dua pelajaran yang dikaji, empat aspek kebahasaan (mendengar, berbicara, membaca, menulis) dan bidang sastra dan linguistik sudah terintegrasi ke dalamnya. Oleh krena itu, pada pembahasan berikut ini, saya hanya akan mencari tahu kesesuaian topik, pokok bahasan, dan subpokok bahasan, serta memilah topik, pokok bahasan, dan subpokok bahasan itu ke dalam dua kelompok besar yaitu sastra dan linguistik secara berturut-turut.

Pelajaran 1: Budaya Nusantara
Tema tentang “Budaya Nusantara” ini berisi/memuat 4 aspek kebahasaan, diantaranya mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Kemudian 4 aspek kebahasaan itu diuraikan ke dalam beberapa pokok bahasan yang meliputi:
A. Mendengarkan siaran radio/televisi;
B. Memperkenalkan diri dan orang lain dalam forum resmi;
C. Membaca cepat teks non sastra; dan
D. Menulis Paragraf Naratif.

Berikut ini akan diuraikan mengenai pokok bahasan ke dalam sub-subpokok bahasan.

Mendengarkan Siaran Radio/Televisi
Untuk pokok bahasan A, yakni “Mendengarkan Siaran Radio”, di dalamnya hanya memuat/berbicara mengenai linguistik, sedangkan sastranya tidak dibahas.  Selanjutnya, pokok bahasa ini diuraikan menjadi  beberapa subpokok bahasan yang memaparkan pokok bahasan, yaitu (1) teknik mendengarkan siaran radio. Bagian ini (teknik mendengarkan siaran radio) menjelaskan tentang hal-hal yang perlu dilakukan dalam mendengarkan radio, misalnya berkosentrasi, mendengar dengan sekasama dan utuh, menulis kata kunci dan pokok isi berita, dan lain-lain; (2) menanggapi isi dari siaran berita memeberikan kesempatan sekaligus tugas bagi peserta didik untuk dapat menilai berita yang didengarkan dengan cara yang santun; dan (3) berlatih menanggapi berita. Pada bagian ini peserta didik diberikan tugas untuk berlatih memberikan tanggapan terhadap berita. Terdapat contoh berita dan tabel yang memberikan arahan bagi siswa untuk dapat mengerjakannya.

Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi
Pokok bahasan “Memperkenalkan Diri dan Orang Lain dalam Forum Resmi” berisi/membahas tentang: (1) cara memperkenalkan orang lain. Pada bagian ini diberikan contoh pada saat diskusi atau rapat; (2) memperkenalkan diri sendiri yaitu cara menyampaikan identitas kepada orang lain atau khalyak ramai.
Kedua subpokok bahasan di atas masuk ke dalam ranah linguistik dan juga tidak mengandung unsur sastra seperti pada pokok bahasan A. Untuk menguji pemahaman peserta didik tentang pokok bahasan ini, pada akhir materi diberikan tugas mengerjakan latihan dalam bentuk kelompok.

Membaca Cepat Teks Nonsastra
Berbeda dengan 2 pokok bahasan sebelumnya, pada bagian C ini tidak hanya menjelaskan tentang tentang unsur linguistik tetapi juga sastra. Pada subpokok bahasan C, peserta didik diharapkan dapat menemukan ide pokok dari teks nonsastra yang dibaca dengan teknik membaca cepat (250 kata per menit) yang diuraikan ke dalam beberapa sub pokok bahasan, meliputi (1) teknik membcara cepat, menjelaskan mengenai langkah-langkah membaca cepat, (2) bagaimana rumus kecepatan membaca dan pemahaman.
Pada bagian akhir dari kedua subpokok bahasan diberikan contoh dan latihan untuk menguatkan pemahaman peserta didik mengenai pokok bahasan.

Menulis Paragraf Naratif
Pokok bahasan D secara umum diuraikan ke dalam 3 sub pokok bahasan. Subpokok bahasan pertama menjelaskan  tentang pengertian paragraf naratif; subpokok bahasan kedua menguraikan tentang jenis paragraf naratif (naratif fiksi dan nonfiksi); dan subpokok bahasan terakhir menjelaskan mengenai langkah-langkah menyusun paragraf naratif (pokok masalah, pelaku, alur, merangkai, menyusun kerangka, mengembangkan kerangka). Seperti ketiga pokok bahasan sebelumnya, pada akhir pokok bahasan D juga disertai dengan contoh dan tugas latihan kepada peserta didik.

Secara keseluruhan, materi yang menguraikan pelajaran 1 sangat dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik karena diuraikan secara jelas (dimulai dari kegiatan refresing, menjelaskan pengertian pokok bahasan, dan memberikan contoh serta tugas akhir yang seyogyanya dapat membantu siswa memperoleh petunjuk dan pemahaman).
Jika boleh memberikan sedikit sanggahan terhadapat tema Budaya Nusantara, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, diantaranya relevansi tema dengan kesempatan yang diperoleh oleh setiap manusia indonesia umumnya dalam kaitannya dengan pokok bahasan. Kita berbicara mengenai budaya yang erat kaitannya dengan adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Dari definisi sekilas itu dapat dikatakan bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama dalam mengaktualisasikan diri. Menulis tidak selamanya budaya, misalnya. Tetapi, kita dapat membudayakan kebiasaan menulis.

Pelajaran 2: Kesehatan Kita
Pelajaran 2 dengan tema “Kesehatan Kita” berisi empat aspek kebahasaan (mendengar, berbicara, membaca, menulis) dan berisi konten-konten sastra dan linguistik. Aspek kebahasaan dalam pelajaran 2 diuraikan ke dalam 4 pokok bahasan berikut ini:
A. Mengidentifikasi unsur-unsur puisi
B. Menceritakan pengalaman
C. Membaca ektensif teks nonsastra
D. Menulis paragraf deskriptif

Keempat pokok bahasan di atas akan diuraikan dalam uraian berikut ini.

Mengidentifiasi Unsur-Unsur Puisi
Pokok bahasan ini menguraikan tentang sastra yakni tentang unsur-unsur pembangun puisi, diantaranya tema, pesan, makna, sajak/rima, diksi/pilihan kata, majas (perbandingan, pertentangan, dan penegasan). Sedikit memberi koreksi terhadap pembahasan mengenai majas. Dalam subpokok bahasan mengenai majas, majas diartikan sama dengan gaya bahasa. Padahal, gaya bahasa memiliki pengertian lain dari majas, dan majas itu sendiri adalah bagian dari gaya bahasa. Majas bukan gaya bahasa, melainkan bagian gaya bahasa. Anton M. Muliono dalam siaran pembinaan bahasa melalui TVRI mengatakan bahwa istilah gaya bahasa yang secara salah kaprah itu berasal dari penerjemahan yang keliru dari kata belanda stylfiguur (Pusat Bahasa, 2003: 174). Oleh karena itu, pada subpokok bahasan ini saya berani mengambil resiko, berseberangan dan berselisih paham denga teori yang dikemukakan.

Selanjutnya, contoh puisi sering menggunakan puisi lama yaitu puisi yang masih terikat dengan aturan/konvensi, sehingga unsur-unsur puisi juga dilihat berdasarkan puisi lama tersebut. Dewasa ini, puisi sudah berkembang, sehingga materi tentang puisi yang dimuat dalam buku juga perlu di-update agar tidak ketinggalan zaman. Dari segi pembahasan, pokok bahasan ini sudah cukup jelas untuk dipahami karena sudah diserta contoh dan peserta didik seharusnya mampu mengerjakan tugas/latihan yang diberikan.

Menceritakan Pengalaman
Pokok bahasan kedua dalam tema “Kesehatan Kita” adalah melatih peserta didik untuk dapat menceritakan berbagai pengalaman dengan menggunakan pilihan kata (diksi) dan ekspresi yang tepat. Pokok bahasan ini termasuk ke dalam kelompok linguistik karena menjelaskan tentang cara menceritakan pengalaman pribadi.

Pada bagian ini, peserta didik diberi kesempatan untuk menilai penampilan temannya yang menceritakan pengalaman di depan kelas berdasarkan format penilaian yang disediakan dalam sub pokok bahasan. Dalam menceritakan pengalaman, yang dituntut adaah skill individu. Oleh karena itu, tugas yang diberikan dalam pokok bahasan ini adalah tugas mandiri. Untuk memudahkan peserta didik dalam mengerjakan tugas mandiri, sub pokok bahasan juga menyertakan contoh.

Membaca Ektensif Teks Nonsastra
Pokok bahasan ini mengharuskan peserta didik mengidentifikasi ide teks nonsastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif. Untuk memudahkan peserta didik dalam memahami pokok bahasan, disediakan 2 buah contoh teks bacaan non sastra. Pada bagian akhir, siswa ditugasi secara mandiri untuk menemukan ide pokok, informasi, hal-hal menarik, teknik penyajian, dan karakteristik bahasa yang digunakan dalam teks.
Kekurangan pada bagian ini adalah, konsep tentang membaca ekstensif tidak dipaparkan secara mendetail dan contoh sehingga peserta didik dipastikan agak kesulitan mengerjakan tugas mandiri dan tugas kelompok yang diberikan.

Menulis Paragraf Deskriptif
Pokok bahasan ini diuraikan menjadi beberapa subpokok bahasan, diantaranya pengertian paragraf deskriptif, jenis-jenis paragraf deskriptif (pola spacial (tempat), pola deskripsi sudut pandang (peristiwa), pola deskripsi objek (orang, benda, binatang)). Ketiga jenis paragraf deskriptif itu disertai masing-masing contoh. Untuk menguji pemahaman peserta didik pada akhir materi ditugasi secara mandiri dan kelompok menulis tentang karangan deskriptif.

Simpulan
Dari hasil pengamatan saya, kedua bab di atas masing-masing memiliki konten linguistik dan sastra. Dalam upaya untuk menguji pemahaman peserta didik atas materi yang diterima, pada akhir pembahasan setiap pokok bahasan selalu memberikan tugas kepada anak didik, baik mandiri maupun kelompok. Jadi, skill individunya tetap diutamakan tanpa menyampingkan kemampuan bekerja sama melalui tugas kelompok yang dibebankan kepada peserta didik.

Di sisi lain, kesesuaian topik dari kedua pelajaran yang saya kaji di atas dengan pokok bahasan dan subpokok bahasan, kurang koheren, terutama pada pelajaran 2. Pelajaran 2 bertema “Kesehatan Kita” tetapi tidak sedikit pun mengulas tentang materi yang berhubungan dengan kesehatan. Pada pelajaran 1, terdapat subpokok bahasan yang membahas tentang gaya bahasa yang dimaknai sama dengan majas. Sementara itu, buku Praktis Berbahasa Indonesia Jilid 2 yang dikeluarkan oleh Balai Bahasa, justru menjelaskan hal yang sebaliknya.

Dua bab yang saya kaji, jika dikaitkan dengan tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sangat sesuai untuk aspek keterampilan. Tercermin dari model tugas yang diberikan, semuanya berbentuk esai yang membutuhkan uraian, sehingga secara tidak langsung mengasah kemampuan peserta didik terutama perihal keterampilannya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Pada setiap pokok bahasan, selalu ada pertanyaan reflektif yaitu pertanyaan yang memancing dan merangsang pola pikir peserta didik untuk mengingatkan materi yang akan dibahas. Mungkin saja pernah membaca, mendengar, melihat, dan menulis tentang materi terkait sebelumnya. Ini juga bisa dilakukan untuk mengukur kemampuan awal peserta didik sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar.

Secara umum, kedua tema yang saya kaji masih layak digunakan sebagai bahan ajar bagi guru atau referensi belajar bagi peserta didik, meskipun terdapat kekurangan.


===========
Author:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA