Sinopsis Novel 9 Matahari Karya Adenita

Novel ini mengisahkan seorang anak perempuan bernama Matari Anas yang berasal dari keluarga berkecukupan di Rawa Bugel, sebuah daerah yang teletak di dekat Bandar Udara Internasional Cingkareng. Ayahnya bernama Bintari Anas dan ibunya bernama Tati Hayati. Matari Anas mempunyai seorang kakak bernama Hera. Ayahnya hanya seorang tamatan Sekolah Teknik Menengah yang bekerja sebagai mekanik di sebuah pabrik kertas. Sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga tamatan Sekolah Menengah Pertama.
Keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu menjadi sebuah dorongan bagi Matari Anas untuk menjadi seorang sarjana. Ia percaya dengan menjadi seorang sarjana, ia mampu memperbaiki keadaan ekonomi keluraganya. Meskipun mendapat keraguan dari keluarganya, namun dengan tekad dan keyakinan Matari Anas bisa masuk ke Universitas Panaitan, salah satu universitas yang terletak di tengah Kota Bandung. Di Universitas ini Matari Anas memilih jurusan Ilmu Komunikasi. Matari Anas sadar bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ia tidak bisa mengandalkan sepenuhnya dari keluarga. Dengan kondisi seperti ini, ia berusaha untuk mencari pekerjaan dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Gambar 1. Novel 9 Matahari
Sebelum menjadi mahasiswa di Universitas Panaitan, ia pernah menjadi seorang resepsionis di sebuah restoran. Pekerjaan ini hanya ia jalani selama tiga bulan, karena pada saat itu ia diterima di Universitas Panaitan. Sadar bahwa kebutuhan kuliah lebih besar, ia mencoba kembali mencari pekerjaan baru. Matari Anas diterima menjadi penyiar di radio Qyu FM, salah satu radio di Kota Bandung. Sebagai penyiar baru, ia ditempatkan pada malam hari. Di Qyu FM Matari Anas tidak sebatas penyiar. Dia dan rekan-rekan lainnya harus terlibat dalam acara-acara off air. Meskipun dengan gaji yang belum besar dan waktu yang melelahkan, Matari Anas tetap senang karena di sinilah ia mendapat banyak pengalaman dan tentunya teman-teman yang baru. Pekerjaan yang cukup memakan banyak waktu, menjadikan kuliahnya sedikit terganggu. Ia tidak bisa meluangkan waktu yang lama untuk teman-teman kuliahnya. Disela waktu kerja atau saat pulang malam hari, ia mengerjakan tugas, menghafal, membaca di dalam angkot, mengonsep makalah di tempat kerja dan aktivitas lainnya yang terkadang ia lakukan bersamaan. Semua dia lakukan untuk bisa tetap kuliah dan mendapatkan rezeki dalam memenuhi kebutuhannya.
Meskipun ia sudah bekerja, ia masih tetap mempunyai utang. Gaji dari pekerjaannya ia gunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari sementara untuk kebutuhan yang lain seperti uang kos dan uang operasional lainnya masih  menggunakan uang pinjaman dari orang-orang terdekatnya. Ada sebagian hutang yang telah dilunaskan, namun itu juga berasal dari pinjaman yang lain. Di tengah kesibukannya, ia tak jarang untuk menyempatkan pulang ke rumahnya. Ia mendapatkan kondisi keluarganya yang tidak berubah. Ayahnya masih tetap mengecam niat kuliahnya itu. Dengan sifat Ayahnya yang keras, tak jarang terjadi perdebatan dan sering terdengar bentakan atau suara keras yang dikeluarkan Ayah kepada mereka.
Matari Anas yang mendapat beberapa permasalahan, baik itu permasalahan keluarga, kuliah, pekerjaan namun ia tetap tegar meskipun terkadang ia juga tidak bisa membohongi perasaannya akan kesedihan yang ia rasakan. Di saat ia menjalani perkuliahannya ia mengenal beberapa orang yang sangat perhatian mengenai permasalahan yang ia hadapi. Ia mengenal Mbak Lena, teman kosnya yang berkenan memberi pinjaman uang untuk membantu melunasi utang-utangnya, ia mempunyai sahabat bernama Sansan yang setia menemani ketika ia sedang kesedihan dan Mama Hesti, ibu dari Sansan yang sering memberikan nasehat serta motivasi dan telah manganggap Matari Anas sebagai anaknya sendiri dan beberapa teman-temannya yang lain yang sangat mengerti keadaan Matari Anas seperti Arga, Medi, Genta, dan Kaisar. Kekuatan tekad untuk kepentingan keluarga serta dorongan orang-orang terdekatnyalah yang mampu menguatkannya untuk tetap mengejar impiannya menjadi seorang sarjana. Dan pada akhirnya ia bisa menjadi seorang sarjana. Mimpi yang telah lama ia cita-citakan yang tentunya sangat membahagiakan orang tuanya. Ia bangga dengan jerih payahnya, dengan persoalan-persaoalan yang ia hadapi ia tetap bisa menjadi seorang sarjana. Baginya, ia sudah membuktikan keadaan ekonomi bukanlah menjadi sebuah alasan untuk meraih suatu harapan.

Judul       :     9 Matahari
Penulis    :     Adenita / Yuli Anita
Penerbit  :     Grasindo
Editor     :     A. Aritaobimo Nusantara
Cetakan  :     November 2008
Tebal      :     362 halaman

REFERENSI
http://repository.unib.ac.id/8233/2/IV%2CV%2CLAMP%2CII-14-ron.FK.pdf

Nilai-nilai pendidikan pada novel 9 Matahari karya Adenita

Apresiasi sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra. Jika anda mengapresiasikan sebuah karya sastra, maka anda melakukan kegiatan pengamatan, penilaian, dan memberikan penghargaan terhadap karya sastra tersebut. Proses mengapresiasi karya sastra itu sendiri bisa dilakukan dengan mengukur dan menilai seberapa banyak nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya yang diapresiasi itu. Itu yang akan menjadi topik bahasan kita dalam artikel ini.


Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Papua - Manokwari
Pos-el: ariessipriano@gmail.com


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Konteks yang lebih luas dalam istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pendapat lain, Squire dan Taba menyimpulkan bahwa apresiasi sebagai suatu proses yang melibatkan tiga unsur inti, yaitu (1) aspek kognitif yaitu aspek yang berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. (2) aspek emotif yaitu aspek yang berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembicara dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca, dan (3) aspek evaluatif yaitu aspek berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik-buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
S. Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Salah satu sastra yang akan diapresiasi dalam makalah ini adalah novel. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Di dalam novel itu sendiri sudah jelas mengandung nilai-nilai pendidikan yang menjadi pesan kepada para pembaca atau para apresiator entah  itu hasil imajinasi maupun pengalaman yang dirasakan oleh penulis itu sendiri. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Novel yang akan diapresiasi dalam makalah ini adalah novel 9 Matahari yang menurut penulis sangat banyak pesan-pesan moral dan nilai-nilai pendidikan yang bisa pembaca ambil dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tekat dan perjuangan yang tidak pernah kenal lelah sehingga bisa menggapai cita-citanya.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, yang menjadi rumusan masalahnya adalah apa saja nilai-nilai pendidikan dari novel 9 matahari karya Adenita?

Tujuan
Tujuan dilakukannya analisis novel 9 Matahari adalah mengapresiasi sebuah karya sastra dalam hal ini mencari tahu nilai-nilai pendidikan dari para penulis kepada para pembaca serta untuk memenuhi tugas dari salah satu dosen pengampu mata kuliah apresiasi sastra dalam hal menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasi, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidup, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniah. Dengan seperti itu, kita akan dapar memahami apa sesungguhnya substansi dan esensi dari apresiasi sastra itu sendiri.

Manfaat
Manfaat bagi para pembaca adalah sekiranya bisa mengaplikasikan pesan-pesan yang disampaikan melalui novel yang diapresiasi, karena nilai-nilai yang terkandung di dalam novel 9 Matahari ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan para mahasiswa.

PEMBAHASAN
Konsep Tentang Novel
 
Pengertian Novel
Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. Novel memunyai ciri bergantung pada tokoh, menyajikan lebih dari satu impresi, menyajikan lebih dari satu efek, menyajikan lebih dari satu emosi (Tarigan, 1991:164-165).
Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel merupakan jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk naratif yang mengandung konflik tertentu dalam kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Biasanya novel kerap disebut sebagai suatu karya yang hanya menceritakan bagian kehidupan seseorang. Hal ini didukung oleh pendapat Sumardjo (1984: 65) yaitu sedang novel sering diartikan sebagai hanya bercerita tentang bagian kehidupan seseorang saja, seperti masa menjelang perkawinan setelah mengalami masa percintaan; atau bagian kehidupan waktu seseorang tokoh mengalami krisis dalam jiwanya, dan sebagainya. Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar biasa karena dari kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka. 

Jenis Novel
Novel 9 Matahari yang dijadikan sebagai objek kajian dalam kegiatan apresiasi dan analisis ini adalah novel berjenis non-fiksi karena didasarkan pada pengalaman dan kenyataan yang dialami oleh si penulis novel sendiri, dalam hal ini Adenita. Meskipun demikian, novel 9 Matahai tetap memiliki sifat fiktif karena sudah dibumbui oleh daya imajinasi sang penulis novel, misalnya dalam memahami filosofi hidup yang dianalogikan dengan angka 9 dan matahari. Untuk dapat mencapai pemikiran tersebut, sang penulis novel tentunya tidak serta merta menulis apa yang ada di pikirannya. Dia harus bisa memahami analogi tersebut agar nantinya para pembaca yang membaca karyanya juga dapat memahami, kira-kira apa maksud dari judul novel yang dituliskannya itu.

Sinopsis Novel 9 Matahari Karya Adenita
Untuk bagian sinopsis novel, silakan klik DI SINI untuk menuju halaman sinopsis

Nilai-Nilai Pendidikan dari Novel 9 Matahari Karya Adenita
Pepper (dalam Soelaeman, 2005:35) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Sejalan dengan pengertian tersebut, Soelaeman (2005) juga menambahkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk, sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dalam seleksi perilaku yang ketat.
Novel 9 Matahari merupakan salah satu karya sastra yang banyak memberikan penjelasan secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu mengungkapkan perbuatan apa yang dipuji dan dicela, pandangan hidup mana yang dianut dan dijauhi, dan hal apa saja yang dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai pendidikan dalam novel 9 Matahari adalah sebagai berikut.

Nilai Pendidikan Religius
Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:90). Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan personal.
Kehadiran unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005:326). Semi (1993:21) menyatakan, agama merupakan kunci sejarah, kita batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya. Semi (1993:21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai religius yang merupakan nilai keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.
Iklas adalah bersyukur bahwa apa yang didapatkan adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pencipta sekalipun itu pahit rasanya. Hal tersebutlah yang dilakukan oleh Matari Anas ketika lelah menghadapi keadaan yang menakutkan, berjumpa dengan orang-orang sinis, kejam, rasa pesimis, resah dan tak jelas lagi harus bagaimana. Mendekatkan diri dengan Tuhan adalah cara terbaik untuk mengubah keadaan dan yakinkan diri bahwa Tuhan akan mengurus semua urusanmu di dunia serumit apapun itu. Dari setiap masalah, selalu ada nilai pembelajaran yang bisa kita kantongi agar menjadi lebih baik menuju masa depan.
Dan doanya terjawab, ia berhasil menjadi seorang sarjana. Impian yang selama ini selalu ia kejar. Buah dari perjuangan yang tidak pernah kenal lelah akhirya membawa hasil yang memuaskan untuknya. Yang paling ditekankan adalah bagaimana mengolah pengalaman itu dengan memaknainya. Entah itu pengalaman yang menyedihkan, mengecewakan, menyakitkan, membahagiakan, membanggakan, menyenangkan, semuanya harus dimaknai positif.
Nilai religi yang yang bisa kita terapkan selanjutnya dalam novel 9 Matahari adalah bahwa setiap harapan yang dibarengi doa, maka semuanya tidak akan sia-sia. Itu yang dilakukan Matari Anas, ia selalu membawa cita-citanya dalam doa. Jika seandainya doa tersebut ternyata tidak dikabulkan, jangan berkeluh kesah. Tetaplah bersyukur dalam keadaan apapun.

Nilai Pendidikan Moral
Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupakan moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005:320). Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Hasbullah (2005:194) menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk. Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey (2009:2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
Nilai pendidikan moral yang tersirat dalam novel 9 Matahari adalah sifat yang dimiliki oleh Matari Anas. Jika kita boleh bertanya, apakah ada orang yang berbuat baik begitu saja kepada kita tanpa kita sendiri tidak terlebih dahulu berbuat baik kepada  orang tesebut? Zaman sekarang, rupanya sangat susah menemukan kondisi seperti yang diceritakan dalam novel 9 Matahari. Didikan orang tua Matari Anas adalah kunci yang menjadikan hubungannya dengan orang-orang sekitar bahkan sahabat-sahabatnya sendiri begitu dekat seperti keluarga.

Nilai Pendidikan Sosial
Kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/kepentingan umum. Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan (Rosyadi, 1995:80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat.
Dalam novel 9 Matahari, nilai sosial terlihat pada hubungan Matari Anas dengan orang-orang yang bukan keluarganya, tetapi mengangap dirinya sebagai keluarga. Ketika ia mengalami kesulitan, sahabat-sahabatnya selalu membantu. Bahkan orang tua dari sahabatnya menganggap Matari Anas sebagai anak kandung. Setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah buah dari keramahan dan kepandaianya dalam bersosialisasi sehingga pekerjaan seperti menjadi penyiar radio dan resepsionis bisa ia dapatkan meski dengan gaji yang secukupnya.

Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai budaya menurut merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu masyarakat dan kebudayaannya. Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. (Rosyadi, dalam Amalia, 2010).
Uzey (2009) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan.
Dalam novel 9 Matahari, memang secara tersurat kita tidak bisa menemukan nilai pendidikan budayanya. Akan tetapi, jika kita melihat karakter yang dimiliki oleh ayah dari sang penulis, bahwasannya ia sangat tidak setuju dengan sikap menentangnya kepada Matari Anas untuk tidak kuliah. Hal ini dikarenakan budaya “orang kampung” sangat tidak mungkin seoang anak miskin bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Parameter pemikrian tesebut adalah keadaan ekonomi keluraga yang tidak memungkinkan atau sama sekali tidak mendukung Matari Anas untuk sekolah. Pemikiran ayah dari Matari Anas memnag tidak salah, bahwa mereka orang miskin, tentu akan mendatangkan beban baru buat keluarga jika harus membiayai sekolah anaknya. Tetapi, kenyataan yang terjadi justru tidak demikian. Budaya ini akan dapat dipatahkan jika hubungan sosial dan moral kita baik. Setiap orang pasti menjadi saudara kita jika kita memiliki sifat dan hubungan yang baik.

Arti dari 9 Matarari sebagai Analogi Kehidupan dan Falsafah Hidup
Judul novel 9 Matahari adalah sebuah analogi kehidupan yang dijadikan falsafah hidup oleh sang penulis. Arti dari 9 Matahari dapat kita simak dalam kutipan novel berikut ini: “Arga dan Tari bertemu. Dalam percakapan mereka ada sekilas membicarakan nilai untuk diri sendiri. Tari memberikan nilai untuk dirinya sendiri hanya 6. Tapi nilai 9 diberikan Arga untuk Tari. Angka 9 itu adalah angka yang melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu untuk Arga. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dan bentuk angka 9 lebih menawan. Angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut Arga adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang itu bisa terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Sembilan itu adalah nilai buat seorang yang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang Matari.
Jangan pernah berhenti menggenggam matahari. Matahari tidak akan bergeser kalau bulan dan bintang belum muncul. Matahari yang akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya untuk alam semesta. Kadang dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi tidak peduli apa pun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain. Matahari yang mengajarkan banyak pada diri kita untuk terus berbagi. Supaya kita benar-benar tahu peran kita dan bisa merasakan jiwa kita hidup.
“Seorang pemenang adalah seorang yang berhasil menyelesaikan setengah pekerjaannya ketika orang lain sedang terlelap” Tulisan itu ia temukan di sebuah kamar milik penjahit, ketika ia sedang mencoba baju yang ia kecilkan. Ini adalah tulisan dari anak tukang jahit yang juga punya impian untuk kuliah di Panaitan. Ini juga yang kemudian menyadarkan Tari soal skripsinya yang masih tertunda. Ia bersemangat lagi untuk segera menyelesaikan impian besarnya sebagai sarjana.
Perjalanan hidup seorang Matari Anas, seperti halnya kuliah yang lengkap dengan paket hidup di mana ada tawa, duka, lara, impian, harapan, air mata, persahabatan, cinta, dan jiwa. kepingan puzzle yang terserak saat ini terangkai indah. Pernah merasakan kegagalan untuk merangkainya, bahkan berhenti sejenak. Rantai kehidupan yang tak pernah terputus, masih ada banyak orang yang akan merangkai kehidupan di masa depan, entah siapa".

PENUTUP
Kesimpulan
Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang dapat diapresiasi. Novel diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel merupakan jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk naratif yang mengandung konflik tertentu dalam kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Biasanya novel kerap disebut sebagai suatu karya yang hanya menceritakan bagian kehidupan seseorang. Hal ini didukung oleh pendapat Sumardjo (1984: 65) yaitu sedang novel sering diartikan sebagai hanya bercerita tentang bagian kehidupan seseorang saja, seperti masa menjelang perkawinan setelah mengalami masa percintaan; atau bagian kehidupan waktu seseorang tokoh mengalami krisis dalam jiwanya, dan sebagainya. Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar biasa karena dari kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka.
Novel 9 Matahari merupakan novel yang sangat kaya dengan nilai-nilai pendidikan. Cerita yang diambil berdasarkan pengalaman pibadi atau kisah nyata penulis novel sendiri menjadikan novel ini menarik dan sangat memotivasi. Novel 9 Matahari adalah sebuah filosofi kehidupan. Kehidupan dianalogikan seperti angka 9 dan Matahari. Angka 9 itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu menuju sesuatu yang sempurna. Sedangkan Matahari akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya untuk alam semesta. Kadang dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi tidak peduli apa pun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain.

DAFTAR RUJUKAN
Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Argesindo.
Arifin, H. M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara.
Darmono, Sapardi Djoko. 2003. “Kita dan Sastra Dunia”. Dalam http://www.mizan.com. diakses pada tanggal 21 Februari 2018.
Endaswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Hirata, Andrea. 2006. Sang Pemimpi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nurdin,  Ade  dkk.  2002.  Intisari  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  untuk  Kelas  1,2,3 SMU. Bandung: CV Pustaka setia.
Uzey.  2009.  “Macam-macam  Nilai”.  Dalam  http://uzey.blogspot.com/2009/09/ pengertian-nilai.
https://fauzierachman20.wordpress.com/2013/10/07/200/ diakses pada 21 Februari 2018
http://esa113.weblog.esaunggul.ac.id/pengertian-dan-bekal-awal-dalam-apresiasi-sastra/ diakses pada 22 Februari 2018
https://griyawardani.wordpress.com/2011/05/19/nilai-nilai-pendidikan/ diakses pada 24 Februari 2018

Sekian, semoga bermanfaat!

============
Oleh:
ariesrutung95

Scanner printer tidak terdeteksi pada Photoshop CC 2017

Plugin adalah software tambahan yang berguna untuk menambah fitur sebuah software. Analoginya mirip dengan periferal hardware. CPU sebagai induk atau kepingan inti (dalam istilah plugin Photoshop disebut host) dapat menerima tambahan perangkat lain yang memungkinkannya melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan sendiri, seperti printer, mouse, tape backup, modem, dan sebagainya. Selain plugin Photoshop, anda mungkin juga sering mendengar plugin Winamp, plugin browser (plugin player Flash, plugin Acrobat Reader, dll).

Plugin dikembangkan untuk hanya dapat digunakan oleh host tertentu. Misalnya plugin Winamp dibuat hanya untuk “dicolokkan” ke Winamp. Plugin browser IE tidak kompatibel dengan plugin browser Netscape. Tapi jika Application Programmer Interface (API)nya atau “colokannya” kompatibel, sebuah plugin dapat dipakai pula di host lain. Plugin untuk keluarga produk Adobe misalnya, biasanya bisa dipakai di lebih dari satu produk tertentu karena Adobe menyusun sebuah common API. Plugin Photoshop tertentu misalnya, dapat dipakai juga di Illustrator. Selain itu, karena begitu banyaknya plugin khusus untuk Photoshop, banyak program grafis lain juga dapat memakainya, antara lain Corel PhotoPaint, Jasc PaintShop Pro, dsb.

Photoshop CC 2017 tidak memiliki fitur untuk membaca printer yang terintall di laptop sehingga kita tidak dapat menggunakan scanner printer untuk mengambil file atau gambar. Sangat disayangkan jika aplikasi desain ini tidak berjalan sempurna. Tentu kita juga tidak akan mungkin berdiam diri membiarkan masalah ini trjadi. Beruntunglah kalian yang menemukan artikel ini. Lihat gambar di bawah ini!
Gambar 1. Work space PS CC 2017
Untuk dapat menggunakan scanner printer, kita harus menambahkan sebuah plugin yang adalah feature tambahan dari photoshop cc 2017.  Caranya, download file pluginnya DI DINI bernama TWAIN_Plugin_Win.zip dan pastikan memilih paket untuk Windows atau sesuai dengan jenis OS kalian. Jika sudah terdownload, ikuti langkah-langkah berikut ini:
  1. Pastikan photoshop CC 2017 dalam keadaan tertutup atau sedang tidak dijalankan.
  2. Extract fail TWAIN_Plugin_Win.zip
  3. Buka folder hasil extract, kemudian kopi fail Twain_32 lalu tempatkan pada Drive C : Program Files, Adobe, Adobe Photoshop CC 2017 (32 Bit), Plug-ins.
    Gambar 2. Kopi fail Twain_32
  4. Hasilnya seperti ini
    Gambar 3. Hasil kopi fail Twain_32
  5. Terakhir, jalankan Photoshop CC 2017-nya. Jika sudah dilakukan dengan benar, seharusnya pada menu File, Import akan muncul printer-printer yang terinstall pada laptop atau PC kita (printer yang memiliki scanner saja).  Lihat gambar!
    Gambar 4. Hasil
Sampai di sini, kita sudah dapat memanfaatkan scanner printer untuk mengambil file sumber pada Photoshop CC 2017. 

Tested on: Windows 8.1 Entrprize x86 atau 32 Bit

Selamat mencoba, semoga berhasil.

REFERENSI
https://helpx.adobe.com/photoshop/kb/twain-scanner-plugin.html

===========
Oleh:
ariesrutung95

Paragraf dalam Bahasa Indonesia - Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan himpunan kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat dilihat sebagai satuan informasi yang mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Artinya, gagasan utama itu akan menentukan kalimat mana yang dapat dikelompokkan ke dalam sebuah paragraf dan informasi mana yang tidak dapat dimasukkan ke dalam paragraf tersebut.  Dengan kata lain, gagasan utama dalam sebuah paragraf adalah ringkasan informasi yang dikemukakan di dalam paragraf itu. Konsekuensinya adalah bahwa informasi yang tidak dapat dirangkum oleh gagasan utama itu harus dikeluarkan dari paragraf yang bersangkutan.

Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan. Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, mungkin terdiri atas dua buah kalimat, mungkin juga lebih dari dua buah kalimat. Bahkan, sering kita temukan bahwa suatu paragraf berisi lebih dari lima buah kalimat. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satu pun dari kalimat-kalimat tersebut yang memperbincangkan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu.

Melalui paragraf kita mendapat suatu efek lain, yaitu kita bisa membedakan di mana suatu gagasan dimulai dan berakhir. Oleh sebab itu, pembentukan suatu paragraf sekurang-kurangnya bertujuan:
  1. Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu gagasan dengan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, setiap paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan. Apabila terdapat dua gagasan, paragraf itu harus dipecah menjadi dua.
  2. Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhentian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lebih lama ini konsentrasi terhadap sebuah paragraf akan lebih terarah.
Struktur Paragraf 
Gagasan Utama dan Kalimat Topik
Orang sering mengacaukan gagasan utama dengan kalimat topik dalam pembicaraan mengenai paragraf. Sebagai pengendali, gagasan utama haruslah ada dalam setiap paragraf yang baik. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kalimat topik. Meskipun kalimat topik memuat gagasan utama, hal itu tidak berarti bahwa kalimat topik juga harus ada dalam setiap paragraf. Dengan kata lain, kalimat topik memang menyatakan gagasan utama dalam sebuah paragraf, tetapi tidak semua gagasan utama perlu dituangkan dalam kalimat topik.
Paragraf deskriptif dan paragraf naratif, misalnya, dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik walaupun di dalamnya tidak terdapat kalimat topik. Kalaupun dinyatakan, kalimat topik paragraf jenis ini boleh dikatakan selalu sama penyajiannya, yaitu “Seperti inilah keadaan…..itu” atau “Inilah yang terjadi”. Perhatikan contoh berikut ini.
  1. Sebuah kasur busa yang sudah tipis tergelar di pojok ruangan di bawah jendela yang sudah retak kacanya. Di sebelah kanannya ada sebuah meja kecil-pasti terbuat dari triplek-yang digunakan sebagai meja belajar sekaligus meja makan. Di sisi lainnya, berdiri sebuah lemari plastik yang tampaknya masih baru. Ia sendiri telah berhari-hari tergolek di atas kasur busa itu sambil mendengarkan musik keroncong mengalun dari radio kaset kecil kesayangannya.
  2. Pukul lima pagi biasanya ia sudah bangun tidur. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, ia berlari-lari di tempat sambil mengerak-gerakkan seluruh anggota badannya. Sebentar kemudian mandi dengan air hangat yang telah disiapkan ibunya. Sambil mengunyah roti bakar sarapannya, ia mulai menggoyang-goyang membangunkan saya dan minta uang jajan. Ia akan terus begitu sebelum beberapa lembar ribuan saya ulurkan. “Terima kasih”, katanya sambil berjingkat-jingkat meninggalkan kamar dan berangkat sekolah.
Kedua paragraf di atas tidak memiliki kalimat topik, tetapi dapat dipastikan bahwa keduanya mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Kalimat topik sengaja tidak ditampilkan sebab seandainya ditampilkan pun bunyi kalimat topik itu akan mirip. Jika akan dinyatakan kalimat topik paragraf (1) adalah “Seperti inilah keadaan kamar itu”. Perhatikanlah bahwa kalimat (1), (2), (3), dan (4) menggambarkan keadaan kamar yang sedang diceritakan dalam paragraf itu. Sementara itu, kalimat topik yang dapat digunakan untuk paragraf (2) adalah “Inilah yang terjadi”. Semua kalimat dalam paragraf (2) menjelaskan atau menceritakan apa yang dilakukan sang anak setiap pagi mulai pukul lima sampai berangkat sekolah.
Kalimat Topik dan Kalimat Pengembang
Selain kalimat topik, di dalam paragraf terdapat beberapa kalimat lain yang berfungsi mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu. Sesuai dengan fungsinya itu, kalimat yang mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu disebut kalimat pengembang.
Jika diamati satu persatu, hubungan kalimat-kalimat pengembang dengan kalimat topik pada sebuah paragraf mempunyai tingkat keeratan yang berbeda-beda. Ada kalimat yang secara langsung menjelaskan kalimat topik, ada pula kalimat yang tidak secara langsung menjelaskan kalimat topik meskipun masih mempunyai hubungan yang erat dengan kalimat topik paragraf itu. Kalimat pengembang taklangsung (minor) mengembangkan kalimat pengembang langsung (mayor), sedangkan kalimat pengembang langsung menjelaskan kalimat topik. Secara hierarkis di dalam paragraf yang baik hanya ada tiga macam kalimat yang dapat digambarkan dalam diagam berikut.
Struktur Paragraf yang Ideal
Jika pola-pola kalimat di dalam paragraf itu digambarkan, terbentuklah sebuah struktur yang disebut struktur paragraf. Pengetahuan tentang struktur sebuah paragraf amat penting bagi penulis terutama untuk melihat apakah kalimat-kalimat dalam paragraf yang ditulisnya mempunyai kaitan yang padu atau tidak. Untuk melihat baik atau tidaknya struktur paragraf  itu, mari kita perhatikan contoh berikut.
1) Seperti telah diketahui bersama, Bandung mempunyai banyak sebutan nama lain. 2) Bandung juga disebut Kota Kembang atau Parisj van Java. 3) Sebutan Parisj van Java diberikan oleh orang-orang Belanda. 4) Orang-orang Belanda itu datang ke Indonesia untuk berdagang. 5) Berdagang itu tidak hanya memerlukan modal, tetapi juga memerlukan tekad dan sifat yang ulet.

Kelima buah kalimat pada paragraf (3) di atas tidak diikat oleh gagasan utama yang tampaknya terkandung di dalam kalimat topik pada kalimat (1). Jika paragraf itu baik, mestinya kalimat-kalimat berikutnya mempunyai hubungan erat dengan gagasan utama bahwa Bandung mempunyai banyak sebutan atau nama yang lain. Sampai pada kalimat (3) hubungan dengan kalimat topik memang tampak erat, tetapi kalimat (4) dan (5) tidaklah demikian. Kalimat (2) langsung menyatakan sebutan atau nama lain kota Bandung, yaitu Kota Kembang atau Parisj van Java dan kalimat (3) memberi penjelasan tentang siapa yang memberi nama  Parisj van Java itu, yaitu Belanda. Sementara itu, jika ditarik hubungannya dengan kalimat topik, kalimat (4) tidak mempunyai hubungan sama sekali sebab kalimat ini menjelaskan apa tujuan Belanda datang ke Indonesia. Demikian juga halnya kalimat (5) yang menerangkan prinsip berdagang. Paragraf yang strukturnya seperti kalimat ini tidak baik sebab masih ada informasi yang menerangkan kalimat pengembang taklangsung. Seperti telah disebutkan di muka, paragraf  yang baik hanya mempunyai tiga tingkatan informasi saja, yaitu informasi dalam kalimat topik, kalimat pengembang langsung, dan kalimat pengembang taklangsung.


REFERENSI
Sanjoko, Yohanis. 2017. Materi Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk pemangku kepentingan luar ruang. Manokwari: Balai Bahasa Papua.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA