Nilai-nilai pendidikan pada novel 9 Matahari karya Adenita

Apresiasi sastra adalah memberikan penilaian terhadap karya sastra. Jika anda mengapresiasikan sebuah karya sastra, maka anda melakukan kegiatan pengamatan, penilaian, dan memberikan penghargaan terhadap karya sastra tersebut. Proses mengapresiasi karya sastra itu sendiri bisa dilakukan dengan mengukur dan menilai seberapa banyak nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya yang diapresiasi itu. Itu yang akan menjadi topik bahasan kita dalam artikel ini.


Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Papua - Manokwari
Pos-el: ariessipriano@gmail.com


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Konteks yang lebih luas dalam istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pendapat lain, Squire dan Taba menyimpulkan bahwa apresiasi sebagai suatu proses yang melibatkan tiga unsur inti, yaitu (1) aspek kognitif yaitu aspek yang berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. (2) aspek emotif yaitu aspek yang berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembicara dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca, dan (3) aspek evaluatif yaitu aspek berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik-buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai serta sejumlah ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
S. Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Salah satu sastra yang akan diapresiasi dalam makalah ini adalah novel. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Di dalam novel itu sendiri sudah jelas mengandung nilai-nilai pendidikan yang menjadi pesan kepada para pembaca atau para apresiator entah  itu hasil imajinasi maupun pengalaman yang dirasakan oleh penulis itu sendiri. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Novel yang akan diapresiasi dalam makalah ini adalah novel 9 Matahari yang menurut penulis sangat banyak pesan-pesan moral dan nilai-nilai pendidikan yang bisa pembaca ambil dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tekat dan perjuangan yang tidak pernah kenal lelah sehingga bisa menggapai cita-citanya.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, yang menjadi rumusan masalahnya adalah apa saja nilai-nilai pendidikan dari novel 9 matahari karya Adenita?

Tujuan
Tujuan dilakukannya analisis novel 9 Matahari adalah mengapresiasi sebuah karya sastra dalam hal ini mencari tahu nilai-nilai pendidikan dari para penulis kepada para pembaca serta untuk memenuhi tugas dari salah satu dosen pengampu mata kuliah apresiasi sastra dalam hal menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasi, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidup, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniah. Dengan seperti itu, kita akan dapar memahami apa sesungguhnya substansi dan esensi dari apresiasi sastra itu sendiri.

Manfaat
Manfaat bagi para pembaca adalah sekiranya bisa mengaplikasikan pesan-pesan yang disampaikan melalui novel yang diapresiasi, karena nilai-nilai yang terkandung di dalam novel 9 Matahari ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan para mahasiswa.

PEMBAHASAN
Konsep Tentang Novel
 
Pengertian Novel
Novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. Novel memunyai ciri bergantung pada tokoh, menyajikan lebih dari satu impresi, menyajikan lebih dari satu efek, menyajikan lebih dari satu emosi (Tarigan, 1991:164-165).
Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel merupakan jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk naratif yang mengandung konflik tertentu dalam kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Biasanya novel kerap disebut sebagai suatu karya yang hanya menceritakan bagian kehidupan seseorang. Hal ini didukung oleh pendapat Sumardjo (1984: 65) yaitu sedang novel sering diartikan sebagai hanya bercerita tentang bagian kehidupan seseorang saja, seperti masa menjelang perkawinan setelah mengalami masa percintaan; atau bagian kehidupan waktu seseorang tokoh mengalami krisis dalam jiwanya, dan sebagainya. Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar biasa karena dari kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka. 

Jenis Novel
Novel 9 Matahari yang dijadikan sebagai objek kajian dalam kegiatan apresiasi dan analisis ini adalah novel berjenis non-fiksi karena didasarkan pada pengalaman dan kenyataan yang dialami oleh si penulis novel sendiri, dalam hal ini Adenita. Meskipun demikian, novel 9 Matahai tetap memiliki sifat fiktif karena sudah dibumbui oleh daya imajinasi sang penulis novel, misalnya dalam memahami filosofi hidup yang dianalogikan dengan angka 9 dan matahari. Untuk dapat mencapai pemikiran tersebut, sang penulis novel tentunya tidak serta merta menulis apa yang ada di pikirannya. Dia harus bisa memahami analogi tersebut agar nantinya para pembaca yang membaca karyanya juga dapat memahami, kira-kira apa maksud dari judul novel yang dituliskannya itu.

Sinopsis Novel 9 Matahari Karya Adenita
Untuk bagian sinopsis novel, silakan klik DI SINI untuk menuju halaman sinopsis

Nilai-Nilai Pendidikan dari Novel 9 Matahari Karya Adenita
Pepper (dalam Soelaeman, 2005:35) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Sejalan dengan pengertian tersebut, Soelaeman (2005) juga menambahkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk, sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dalam seleksi perilaku yang ketat.
Novel 9 Matahari merupakan salah satu karya sastra yang banyak memberikan penjelasan secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu mengungkapkan perbuatan apa yang dipuji dan dicela, pandangan hidup mana yang dianut dan dijauhi, dan hal apa saja yang dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai pendidikan dalam novel 9 Matahari adalah sebagai berikut.

Nilai Pendidikan Religius
Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:90). Nilai-nilai religius bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan personal.
Kehadiran unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2005:326). Semi (1993:21) menyatakan, agama merupakan kunci sejarah, kita batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya. Semi (1993:21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai religius yang merupakan nilai keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.
Iklas adalah bersyukur bahwa apa yang didapatkan adalah hal terbaik yang diberikan oleh Sang Pencipta sekalipun itu pahit rasanya. Hal tersebutlah yang dilakukan oleh Matari Anas ketika lelah menghadapi keadaan yang menakutkan, berjumpa dengan orang-orang sinis, kejam, rasa pesimis, resah dan tak jelas lagi harus bagaimana. Mendekatkan diri dengan Tuhan adalah cara terbaik untuk mengubah keadaan dan yakinkan diri bahwa Tuhan akan mengurus semua urusanmu di dunia serumit apapun itu. Dari setiap masalah, selalu ada nilai pembelajaran yang bisa kita kantongi agar menjadi lebih baik menuju masa depan.
Dan doanya terjawab, ia berhasil menjadi seorang sarjana. Impian yang selama ini selalu ia kejar. Buah dari perjuangan yang tidak pernah kenal lelah akhirya membawa hasil yang memuaskan untuknya. Yang paling ditekankan adalah bagaimana mengolah pengalaman itu dengan memaknainya. Entah itu pengalaman yang menyedihkan, mengecewakan, menyakitkan, membahagiakan, membanggakan, menyenangkan, semuanya harus dimaknai positif.
Nilai religi yang yang bisa kita terapkan selanjutnya dalam novel 9 Matahari adalah bahwa setiap harapan yang dibarengi doa, maka semuanya tidak akan sia-sia. Itu yang dilakukan Matari Anas, ia selalu membawa cita-citanya dalam doa. Jika seandainya doa tersebut ternyata tidak dikabulkan, jangan berkeluh kesah. Tetaplah bersyukur dalam keadaan apapun.

Nilai Pendidikan Moral
Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupakan moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005:320). Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Hasbullah (2005:194) menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk. Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey (2009:2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
Nilai pendidikan moral yang tersirat dalam novel 9 Matahari adalah sifat yang dimiliki oleh Matari Anas. Jika kita boleh bertanya, apakah ada orang yang berbuat baik begitu saja kepada kita tanpa kita sendiri tidak terlebih dahulu berbuat baik kepada  orang tesebut? Zaman sekarang, rupanya sangat susah menemukan kondisi seperti yang diceritakan dalam novel 9 Matahari. Didikan orang tua Matari Anas adalah kunci yang menjadikan hubungannya dengan orang-orang sekitar bahkan sahabat-sahabatnya sendiri begitu dekat seperti keluarga.

Nilai Pendidikan Sosial
Kata “sosial” berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/kepentingan umum. Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara hidup sosial. Perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan (Rosyadi, 1995:80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai sosial mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya, pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan masyarakat.
Dalam novel 9 Matahari, nilai sosial terlihat pada hubungan Matari Anas dengan orang-orang yang bukan keluarganya, tetapi mengangap dirinya sebagai keluarga. Ketika ia mengalami kesulitan, sahabat-sahabatnya selalu membantu. Bahkan orang tua dari sahabatnya menganggap Matari Anas sebagai anak kandung. Setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah buah dari keramahan dan kepandaianya dalam bersosialisasi sehingga pekerjaan seperti menjadi penyiar radio dan resepsionis bisa ia dapatkan meski dengan gaji yang secukupnya.

Nilai Pendidikan Budaya
Nilai-nilai budaya menurut merupakan sesuatu yang dianggap baik dan berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya membatasi dan memberikan karakteristik pada suatu masyarakat dan kebudayaannya. Nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu singkat. (Rosyadi, dalam Amalia, 2010).
Uzey (2009) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu. Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan.
Dalam novel 9 Matahari, memang secara tersurat kita tidak bisa menemukan nilai pendidikan budayanya. Akan tetapi, jika kita melihat karakter yang dimiliki oleh ayah dari sang penulis, bahwasannya ia sangat tidak setuju dengan sikap menentangnya kepada Matari Anas untuk tidak kuliah. Hal ini dikarenakan budaya “orang kampung” sangat tidak mungkin seoang anak miskin bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Parameter pemikrian tesebut adalah keadaan ekonomi keluraga yang tidak memungkinkan atau sama sekali tidak mendukung Matari Anas untuk sekolah. Pemikiran ayah dari Matari Anas memnag tidak salah, bahwa mereka orang miskin, tentu akan mendatangkan beban baru buat keluarga jika harus membiayai sekolah anaknya. Tetapi, kenyataan yang terjadi justru tidak demikian. Budaya ini akan dapat dipatahkan jika hubungan sosial dan moral kita baik. Setiap orang pasti menjadi saudara kita jika kita memiliki sifat dan hubungan yang baik.

Arti dari 9 Matarari sebagai Analogi Kehidupan dan Falsafah Hidup
Judul novel 9 Matahari adalah sebuah analogi kehidupan yang dijadikan falsafah hidup oleh sang penulis. Arti dari 9 Matahari dapat kita simak dalam kutipan novel berikut ini: “Arga dan Tari bertemu. Dalam percakapan mereka ada sekilas membicarakan nilai untuk diri sendiri. Tari memberikan nilai untuk dirinya sendiri hanya 6. Tapi nilai 9 diberikan Arga untuk Tari. Angka 9 itu adalah angka yang melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu untuk Arga. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dan bentuk angka 9 lebih menawan. Angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut Arga adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang itu bisa terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Sembilan itu adalah nilai buat seorang yang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang Matari.
Jangan pernah berhenti menggenggam matahari. Matahari tidak akan bergeser kalau bulan dan bintang belum muncul. Matahari yang akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya untuk alam semesta. Kadang dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi tidak peduli apa pun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain. Matahari yang mengajarkan banyak pada diri kita untuk terus berbagi. Supaya kita benar-benar tahu peran kita dan bisa merasakan jiwa kita hidup.
“Seorang pemenang adalah seorang yang berhasil menyelesaikan setengah pekerjaannya ketika orang lain sedang terlelap” Tulisan itu ia temukan di sebuah kamar milik penjahit, ketika ia sedang mencoba baju yang ia kecilkan. Ini adalah tulisan dari anak tukang jahit yang juga punya impian untuk kuliah di Panaitan. Ini juga yang kemudian menyadarkan Tari soal skripsinya yang masih tertunda. Ia bersemangat lagi untuk segera menyelesaikan impian besarnya sebagai sarjana.
Perjalanan hidup seorang Matari Anas, seperti halnya kuliah yang lengkap dengan paket hidup di mana ada tawa, duka, lara, impian, harapan, air mata, persahabatan, cinta, dan jiwa. kepingan puzzle yang terserak saat ini terangkai indah. Pernah merasakan kegagalan untuk merangkainya, bahkan berhenti sejenak. Rantai kehidupan yang tak pernah terputus, masih ada banyak orang yang akan merangkai kehidupan di masa depan, entah siapa".

PENUTUP
Kesimpulan
Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang dapat diapresiasi. Novel diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel merupakan jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk naratif yang mengandung konflik tertentu dalam kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Biasanya novel kerap disebut sebagai suatu karya yang hanya menceritakan bagian kehidupan seseorang. Hal ini didukung oleh pendapat Sumardjo (1984: 65) yaitu sedang novel sering diartikan sebagai hanya bercerita tentang bagian kehidupan seseorang saja, seperti masa menjelang perkawinan setelah mengalami masa percintaan; atau bagian kehidupan waktu seseorang tokoh mengalami krisis dalam jiwanya, dan sebagainya. Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar biasa karena dari kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka.
Novel 9 Matahari merupakan novel yang sangat kaya dengan nilai-nilai pendidikan. Cerita yang diambil berdasarkan pengalaman pibadi atau kisah nyata penulis novel sendiri menjadikan novel ini menarik dan sangat memotivasi. Novel 9 Matahari adalah sebuah filosofi kehidupan. Kehidupan dianalogikan seperti angka 9 dan Matahari. Angka 9 itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu menuju sesuatu yang sempurna. Sedangkan Matahari akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya untuk alam semesta. Kadang dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi tidak peduli apa pun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain.

DAFTAR RUJUKAN
Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Argesindo.
Arifin, H. M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara.
Darmono, Sapardi Djoko. 2003. “Kita dan Sastra Dunia”. Dalam http://www.mizan.com. diakses pada tanggal 21 Februari 2018.
Endaswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Hirata, Andrea. 2006. Sang Pemimpi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nurdin,  Ade  dkk.  2002.  Intisari  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  untuk  Kelas  1,2,3 SMU. Bandung: CV Pustaka setia.
Uzey.  2009.  “Macam-macam  Nilai”.  Dalam  http://uzey.blogspot.com/2009/09/ pengertian-nilai.
https://fauzierachman20.wordpress.com/2013/10/07/200/ diakses pada 21 Februari 2018
http://esa113.weblog.esaunggul.ac.id/pengertian-dan-bekal-awal-dalam-apresiasi-sastra/ diakses pada 22 Februari 2018
https://griyawardani.wordpress.com/2011/05/19/nilai-nilai-pendidikan/ diakses pada 24 Februari 2018

Sekian, semoga bermanfaat!

============
Oleh:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA