Paragraf dalam Bahasa Indonesia - Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan himpunan kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat dilihat sebagai satuan informasi yang mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Artinya, gagasan utama itu akan menentukan kalimat mana yang dapat dikelompokkan ke dalam sebuah paragraf dan informasi mana yang tidak dapat dimasukkan ke dalam paragraf tersebut.  Dengan kata lain, gagasan utama dalam sebuah paragraf adalah ringkasan informasi yang dikemukakan di dalam paragraf itu. Konsekuensinya adalah bahwa informasi yang tidak dapat dirangkum oleh gagasan utama itu harus dikeluarkan dari paragraf yang bersangkutan.

Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan. Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, mungkin terdiri atas dua buah kalimat, mungkin juga lebih dari dua buah kalimat. Bahkan, sering kita temukan bahwa suatu paragraf berisi lebih dari lima buah kalimat. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satu pun dari kalimat-kalimat tersebut yang memperbincangkan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu.

Melalui paragraf kita mendapat suatu efek lain, yaitu kita bisa membedakan di mana suatu gagasan dimulai dan berakhir. Oleh sebab itu, pembentukan suatu paragraf sekurang-kurangnya bertujuan:
  1. Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu gagasan dengan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, setiap paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan. Apabila terdapat dua gagasan, paragraf itu harus dipecah menjadi dua.
  2. Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhentian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lebih lama ini konsentrasi terhadap sebuah paragraf akan lebih terarah.
Struktur Paragraf 
Gagasan Utama dan Kalimat Topik
Orang sering mengacaukan gagasan utama dengan kalimat topik dalam pembicaraan mengenai paragraf. Sebagai pengendali, gagasan utama haruslah ada dalam setiap paragraf yang baik. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kalimat topik. Meskipun kalimat topik memuat gagasan utama, hal itu tidak berarti bahwa kalimat topik juga harus ada dalam setiap paragraf. Dengan kata lain, kalimat topik memang menyatakan gagasan utama dalam sebuah paragraf, tetapi tidak semua gagasan utama perlu dituangkan dalam kalimat topik.
Paragraf deskriptif dan paragraf naratif, misalnya, dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik walaupun di dalamnya tidak terdapat kalimat topik. Kalaupun dinyatakan, kalimat topik paragraf jenis ini boleh dikatakan selalu sama penyajiannya, yaitu “Seperti inilah keadaan…..itu” atau “Inilah yang terjadi”. Perhatikan contoh berikut ini.
  1. Sebuah kasur busa yang sudah tipis tergelar di pojok ruangan di bawah jendela yang sudah retak kacanya. Di sebelah kanannya ada sebuah meja kecil-pasti terbuat dari triplek-yang digunakan sebagai meja belajar sekaligus meja makan. Di sisi lainnya, berdiri sebuah lemari plastik yang tampaknya masih baru. Ia sendiri telah berhari-hari tergolek di atas kasur busa itu sambil mendengarkan musik keroncong mengalun dari radio kaset kecil kesayangannya.
  2. Pukul lima pagi biasanya ia sudah bangun tidur. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, ia berlari-lari di tempat sambil mengerak-gerakkan seluruh anggota badannya. Sebentar kemudian mandi dengan air hangat yang telah disiapkan ibunya. Sambil mengunyah roti bakar sarapannya, ia mulai menggoyang-goyang membangunkan saya dan minta uang jajan. Ia akan terus begitu sebelum beberapa lembar ribuan saya ulurkan. “Terima kasih”, katanya sambil berjingkat-jingkat meninggalkan kamar dan berangkat sekolah.
Kedua paragraf di atas tidak memiliki kalimat topik, tetapi dapat dipastikan bahwa keduanya mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Kalimat topik sengaja tidak ditampilkan sebab seandainya ditampilkan pun bunyi kalimat topik itu akan mirip. Jika akan dinyatakan kalimat topik paragraf (1) adalah “Seperti inilah keadaan kamar itu”. Perhatikanlah bahwa kalimat (1), (2), (3), dan (4) menggambarkan keadaan kamar yang sedang diceritakan dalam paragraf itu. Sementara itu, kalimat topik yang dapat digunakan untuk paragraf (2) adalah “Inilah yang terjadi”. Semua kalimat dalam paragraf (2) menjelaskan atau menceritakan apa yang dilakukan sang anak setiap pagi mulai pukul lima sampai berangkat sekolah.
Kalimat Topik dan Kalimat Pengembang
Selain kalimat topik, di dalam paragraf terdapat beberapa kalimat lain yang berfungsi mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu. Sesuai dengan fungsinya itu, kalimat yang mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu disebut kalimat pengembang.
Jika diamati satu persatu, hubungan kalimat-kalimat pengembang dengan kalimat topik pada sebuah paragraf mempunyai tingkat keeratan yang berbeda-beda. Ada kalimat yang secara langsung menjelaskan kalimat topik, ada pula kalimat yang tidak secara langsung menjelaskan kalimat topik meskipun masih mempunyai hubungan yang erat dengan kalimat topik paragraf itu. Kalimat pengembang taklangsung (minor) mengembangkan kalimat pengembang langsung (mayor), sedangkan kalimat pengembang langsung menjelaskan kalimat topik. Secara hierarkis di dalam paragraf yang baik hanya ada tiga macam kalimat yang dapat digambarkan dalam diagam berikut.
Struktur Paragraf yang Ideal
Jika pola-pola kalimat di dalam paragraf itu digambarkan, terbentuklah sebuah struktur yang disebut struktur paragraf. Pengetahuan tentang struktur sebuah paragraf amat penting bagi penulis terutama untuk melihat apakah kalimat-kalimat dalam paragraf yang ditulisnya mempunyai kaitan yang padu atau tidak. Untuk melihat baik atau tidaknya struktur paragraf  itu, mari kita perhatikan contoh berikut.
1) Seperti telah diketahui bersama, Bandung mempunyai banyak sebutan nama lain. 2) Bandung juga disebut Kota Kembang atau Parisj van Java. 3) Sebutan Parisj van Java diberikan oleh orang-orang Belanda. 4) Orang-orang Belanda itu datang ke Indonesia untuk berdagang. 5) Berdagang itu tidak hanya memerlukan modal, tetapi juga memerlukan tekad dan sifat yang ulet.

Kelima buah kalimat pada paragraf (3) di atas tidak diikat oleh gagasan utama yang tampaknya terkandung di dalam kalimat topik pada kalimat (1). Jika paragraf itu baik, mestinya kalimat-kalimat berikutnya mempunyai hubungan erat dengan gagasan utama bahwa Bandung mempunyai banyak sebutan atau nama yang lain. Sampai pada kalimat (3) hubungan dengan kalimat topik memang tampak erat, tetapi kalimat (4) dan (5) tidaklah demikian. Kalimat (2) langsung menyatakan sebutan atau nama lain kota Bandung, yaitu Kota Kembang atau Parisj van Java dan kalimat (3) memberi penjelasan tentang siapa yang memberi nama  Parisj van Java itu, yaitu Belanda. Sementara itu, jika ditarik hubungannya dengan kalimat topik, kalimat (4) tidak mempunyai hubungan sama sekali sebab kalimat ini menjelaskan apa tujuan Belanda datang ke Indonesia. Demikian juga halnya kalimat (5) yang menerangkan prinsip berdagang. Paragraf yang strukturnya seperti kalimat ini tidak baik sebab masih ada informasi yang menerangkan kalimat pengembang taklangsung. Seperti telah disebutkan di muka, paragraf  yang baik hanya mempunyai tiga tingkatan informasi saja, yaitu informasi dalam kalimat topik, kalimat pengembang langsung, dan kalimat pengembang taklangsung.


REFERENSI
Sanjoko, Yohanis. 2017. Materi Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk pemangku kepentingan luar ruang. Manokwari: Balai Bahasa Papua.

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA