Urgensi metode feedback dalam menulis

Sebab sebuah tulisan dibuat untuk dibaca, dinilai oleh pembaca, dan memuat nilai personal kebudayaan masyarakat.
Oleh karenanya, sangat penting kiranya ide-ide atau gagasan-gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, mendapat perhatian dari pihak lain. Bentuk perhatian itu berbagai macam, ada orang yang secara langsung menaggapi dalam bentuk komentar, ada orang yang menanggapi dengan sebuah tulisan baru, dan ada pula yang menyelipkan idenya atas tulisan yang dibaca yang dirasa perlu untuk ditambahkan dan/atau bahkan dikurangi.
Bentuk-bentuk seperti di atas adalah apa yang kita sebut sebagai “feedback“ atau dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan istilah “umpan balik”. Istilah “umpan balik” ini secara leksikal bisa kita artikan sebagai sebuah tanggapan, baik langsung maupun tidak langsung atas ide, gagasan, dan/atau pendapat sebagai hasil pemikiran seseorang yang dituangkan, baik dalam bentuk tertulis maupun bentuk lisan. Sumber feedback tersebut dapat datang dari berbagai kalangan, seperti misalnya guru sebagai pendidik dan pengajar atau bahkan orang yang lebih berpengalaman yang usianya lebih tinggi dari penulis, teman setingkat atau sebaya, dan bisa pula datang dari diri sendiri.
Feedback yang berasal dari guru (teacher feedback) dapat terjadi ketika pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berlangsung, tanya-jawab dengan guru, atau melaui tugas-tugas yang diberikan guru kepada anak didik. Bentuk feedbacknya dapat berupa komentar maupun koreksi, baik lisan maupun tertulis. Feedback jenis ini memang menimbulkan banyak penilaian terutama bagi guru sendiri. Di satu sisi, secara tidak sengaja, guru memikul pekerjaan yang berat, sehingga terkadang guru memilih untuk lebih banyak berbicara. Akan tetapi, di lain sisi, proses pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif dan efektif. Interaktifnya dapat dilihat ketika guru memberikan masukan dan masukan itu diterima oleh anak didik yang bersangkutan dan mengadakan perbaikan terhadap tulisannya.

Feedback yang berasal dari teman sebaya (peer feedback) dapat diartikan sebagai umpan balik dari teman setingkat yang juga berandil dalam membaca tulisan temannya. Dalam Zainurrahman (2011: 10) peer feedback menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berbagi tulisan, sama-sama membaca tulisan teman, dan memberikan masukan yang konstruktif sebagai dasar revisi tulisan-tulisan tersebut. Peer feedback dirasa lebih efektif dalam mengonstruksi pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh seorang siswa melalui sesamanya, karena aktivitas menilai dan dinilai dilakukan oleh teman-teman seangkatan sehinga tidak ada ketegangan seperti ketika siswa mendengar masukan dari guru. Peer feedback menciptakan suasana yang lebih cair dalam proses menilai tanpa mengubah tujuan. Meskipun demikian, metode ini kadangkala mengalami kendala dalam penerapannya. Kendala-kendala itu biasanya berasal dari dalam diri peserta didik sendiri, seperti kurangnya pemahaman, terbatasnya pegetahuan tentang ilmu yang dipakai untuk mengoreksi, dan terhadapa penulis atau yang dinilai, terjadi kecendrungan tidak mau menghiraukan masukan dari teman-temannya yang lain.
Upaya terakhir adalah self feedback. Rata-tata para penulis menggunakan metode ini, jika tidak mau repot dengan dua metode sebelumnya dan keyakinan bahwa pengalaman yang akan mengubah kualitas tulisan secara perlahan. Semakin sering menulis dan membaca, kemampaun mengorganisasikan gagasan pun akan semakin bertambah. Seorang penulis yang memilih metode self feedback akan terus-menerus membaca ulang tulisannya sambil menambah/mengurangi bagian-bagian yang kurang/tidak penting untuk dimuat. Penulis yang memilih metode ini juga sudah barang tentu mempunyai dua tugas. Tugas yang pertama bertindak sebagai penulis, dan tugas kedua berperan sebagai pembaca. Sedapat mungkin penulis yang memilih metode ini berpikir secara ktitis. Terkadang ada sisi pro dan kontra atas saran dan masukan dari dirinya sendiri dan hal itu tidak dialami oleh orang lain.
Output dari aktivitas di atas adalah lahirnya sebuah tulisan dalam bentuk revisi. Revisi merupakan suatu bentuk pemeriksaan kembali untuk perbaikan.Semakin sering dibaca dan dinilai serta mendapat masukan dan saran, maka semakin banyak pula revisi yang dihasilkan atas tulisan itu. Sehingga terkadang revisi itu bisa lebih dari lima sebagai upaya menyempurnakan tulisan. Sejauh mana penilain dan seberapa sering penilaian itu dilakukan, sejauh dan sesering itu pula revisi-revisi dihasilkan.


Oleh:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA