Tata cara bertutur masyarakat pedesaan dalam kebudayaan Manggarai

Etnografi komunikasi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, dan/atau bahasa. Etnografi hampir sama dengan etnologi, yaitu ilmu tentang unsur atau masalah kebudayaan suku bangsa dan masyarakat penduduk suatu daerah di seluruh dunia secara komparatif dengan tujuan mendapat pengertian tentang sejarah dan proses evolusi serta penyebaran kebudayaan umat manusia di muka bumi.


TATA CARA BERTUTUR MASYARAKAT PEDESAAN DALAM KEBUDAYAAN MANGGARAI: SEBUAH KAJIAN ETNOGRAFI KOMUNIKASI


Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIPA ~ Manokwari
Pos-el: ariessipriano@gmail.com


Pendahuluan
Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan masyarakatnya yang pluralistik, mempunyai berbagai bentuk dan variasi budaya. Bangsa Indonesia memiliki pengetahuan yang menjadi dasar pemikiran dan sejarah kebudayaanya yang khas, di mana dalam bertutur antar sesamanya dalam kehidupan sehari-hari menggunakan aturan-aturan yang sama-sama sudah disepakati. Aturan-aturan itu menjadi ciri yang khas bagi bangsa indonesia secara umum dan kehidupan berbudaya secara khusus. Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia Indonesia hingga dewasa ini secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai tumpukan pengalaman budaya dan pembangunan budaya yang terdiri dari lapisan-lapisan budaya yang terbentuk sepanjang sejarahnya (Edi Setyawati, 2006:315, 317).

Satu dari sekian banyak budaya di Indonesia yang menarik perhatian untuk diteliti dan diperbincangkan adalah kebudayaan masyarakat Manggarai dalam hal bertutur. Orang Manggarai memegang erat sopan santun dalam hal berkomunikasi baik dengan sesama yang sudah lama saling mengenal maupun orang yang baru dikenal. Sehingga tidak salah, jika Nusa Tenggara Timur yang menaungi masyarakat NTT yang juga salah satunya adalah orang Manggarai, dikenal dengan provinsi bertoleransi tinggi. Tentu ada latar belakang mengapa gelar itu disematkan. Salah satu faktor yang ikut membangun tolerasi tersebut adalah tata cara bertutur yang dimiliki oleh orang Manggarai.

ariesrutung.com
Artikel ini difokuskan pada cara bertutur masyarakat pedesaan yang ada di Kabupaten Manggarai, Povinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuannya yakni untuk meneliti tata cara bertutur atau tindak tuturnya sebagai bagian dari etnografi komunikasi. Dengan demikian, fokus penelitian bukan hanya pada bahasa yang dipakai tetapi juga adat-istiadat mereka. Dalam kebudayaan Manggarai terutama masyarakat pedesaan, berkomunikasi merupakan hal yang utama dalam menjalin hubungan sebagai ikatan kehidupan bermasyarakat. Dalam berkomunikasi dengan sesamanya, terdapat aturan-aturan yang setidaknya disepakati dan diakui serta dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Manggarai. Aturan-aturan itu bahkan diteruskan dan diwarisan kepada anak-cucu mereka, sebab mereka sudah sangat mengenal adat istiadat. Berikut beberapa tata cara bertutur atau tindak tutur yang disepakati dan diakui keberadaanya oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Manggarai.

Tata cara bertutur yang pertama yaitu (benta) memanggil. Memanggil orang tua mempunyai cara yang berbeda ketika seorang anak memanggil temannya dan/atau memanggil kakaknya. Cara memanggil orang tua tidak boleh dari kejauhan dan berteriak menyebutkan nama orang yang dipanggil. Hal itu sangat tidak sopan bagi seorang anak. Seharusnya adalah dekati orang yang mau dipanggil dan mulai berbicara. Hal lain yang harus diikuti dalam memanggil antara lain: 1) Tidak boleh menyebut nama (apalagi nama marga) jika yang dipanggil adalah orang tua. Untuk seorang adik ke kakaknya diperbolehkan, asal dengan “ngahang/ ngasang serani” atau nama panggilan. 2) Seorang anak tidak boleh mencolek orang tuanya sebagai isyarat untuk memanggil.

Kedua, menjawab panggilan dengan kata “io” dan “oe.” Orang Manggarai mengenal dua jawaban untuk menjawab sebuah panggilan secara langsung. Ada jawaban “io” dan ada juga jawaban “oe” yang keduanya mempunyai arti yang sama yaitu ya. Kata “io” dianggap lebih halus dan lebih sopan dari “oe”. Oleh karena itu, penggunaanya lebih cendrung ketika seorang anak menjawab panggilan orang tuanya atau mereka yang berpaut usia hingga belasan tahun. Ada makna kerendahan hati dan rasa sayang di balik kata “io”. Apalagi jika yang menjawab adalah orang tua kepada anaknya. Sedangkan kata “oe” dianggap lebih tidak sopan. Biasanya dipakai oleh orang tua untuk menjawab panggilan anaknya. Tersirat makna kesombongan, tinggi diri, ketidaksopanan, dan kedengkian dibalik kata itu. Pembicara yang memiliki usia yang lebih tinggi dari lawan bicaranya akan lebih sering juga memakai kata ini. Jadi, antara kata “io” dan “oe” terdapat perbedaan nilai dan kegunaanya.
Ketiga, menyela pembicaraan. Ketika seseorang berbicara, aturan yang disepakati adalah memberikan waktu kepada si pembicara untuk menyelesaikan pembicaraanya. Akan tidak terpuji, jika seseorang sementara berbicara, tiba-tiba dipotong. Orang manggarai mengistilahkan ini sebagai “sio/cio tombo” atau mengencingi pembicaraan. Dalam memotong pembicaraan, sesorang harus terlebih dahulu mengucapkan  “neka rabo ...” yang artinya secara leksikon “jangan marah”, tetapi maknannya adalah memohon maaf sebelum berbicara atau memotong pembicaraan. Ketika si pembicara sudah mulai menghentikan kalimatnya, barulah lawan bicara atau orang yang meminta waktu untuk berbicara memulai pembicaraannya. 

Keempat, mendengar pembicaraan (senget tombo) dan gerak tubuh. Antara menyela pembicaraan dan mendengar pembicaraan adalah dua hal yang saling berkaitan. Seorang yang menjadi pendengar harus memperhatikan si pembicara, bahkan kontak mata antar keduanya tidak boleh berhenti selama pembicaraan berlangsung. Tidak boleh ada gerakan-gerakan lain selama pembicaraan berlangsung kecuali yang secara tidak sengaja (refleks). Karena selain mengganggu situasi pembicaraan, pembicara akan merasa tidak dihargai dan menganggap apa yang dibicarakan bukanlah hal yang penting. Oleh karena itu, kontak mata, gerakan anggotan tubuh, dan gerakan-gerakan lain yang menunjang berhasilnya penyampaian  informasi dalam hal bertutur dalam kebudayaan masyarakat Manggarai sangatlah penting.
Kelima, mengakhiri pembicaraan. Jika salah satu dari partisipan baik pembicara maupun pendengar merasa bosan dengan topik pembicaraan, maka ia akan mengeluarkan kalimat “neka rabo” kemudian dilanjutkan dengan apa maksud selanjutnya dari pembicara tersebut. Si pendengar akan memahami maksud dari si pembicara. Dengan demikian, berakhirlah pembicaraan antara keduanya. Dalam penggunan bahasa pun masyarakat Manggarai pedesaan sangat memperhatikan persoalan pelafalan kata. Memang tidak semua kata dituturkan dengan halus, tepai sedapat mungkin tidak menyakiti pendengar atau lawan bicaranya, sehingga orang yang diajak bicara dapat lebih nyaman dan lama dalam berbincang-bincang.

Tata cara bertutur yang terakhir yaitu melayani tamu (tiba meka). Orang yang hendak bertandang/bertamu atau ketemua di tengah jalan selalu memberikan salam terlebih  dahulu dengan kata-kata “tabe o ite” setara artinya dengan ucapan permisi tetapi lebih spesifik kepada tuan/pemilik rumah atau orang yang ditemui. Si pemilik rumah akan menyahut dengan jawaban “mai ge ite” yang artinya mari, silakan masuk. Penggunaan kata ite pada kedua ucapan di atas mengacu kepada tuan rumah atau orang yang ditemui sebagai orang yang lebih dahulu dihormati dan tamu yang kemudian dihormati juga oleh pemilik rumah. Ketika tamunya sudah masuk, tuan rumah akan bilang “mai, see mai lose” atau mari duduk di atas tikar. Apabila permintaannya itu tidak diindahkan oleh si tamu, pemilik rumah akan merasa terhina bahkan merasa tidak dihormati. Selain itu, tanpa disuruh, tuan rumah akan membuatkan minuman berupa kopi dan disuguhkan kepada penamu. Siapapun tamu yang datang, orang baru atau keluarga sendiri, sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayani tamu. Sekalipun tujuan datangnya tamu hanya sekadar bebincang-bincang. Bagi masyarakat Manggarai tamu sangat dihargai keberadaanya. Sehingga dalam penyambutanya pun orang Manggarai sangat memperhatikan kedatanganya. Mulai dari cara mempersilakan masuk hingga caranya dalam menyuguhkan hidangan disaat tamu tersebut datang dan berkunjung. Bahkan ketika berkesempatan makan bersama, ata uwang api (istri atau ibu rumah tangga) bersama anak-anak dari tuan rumah dilarang makan bersama dengan tamu.

Orang Manggarai pada prinsipnya mempertahankan dan membawa diri sesuai dengan nilai budayanya. Prinsip hormat ini dapat disejajarkan dengan prinsip sopan-santun dalam pengertian yang luas, baik dalam bahasa maupun dalam pergaulan sehari-hari. Sopan-santun dalam prilaku orang Manggarai terutama masyarakat pedesaan menyangkut bagaimana kita bersikap dan bagaimana menerima dan memperlakukan orang lain. Oleh karena itu, tata cara bertutur yang adalah cerminan diri harus dinomorsatukan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tata cara bertutur itu berkaitan dengan cara memanggil, menjawab panggilan dengan kata, menyela pembicaraan, mendengar pembicaraan dan gerak tubuh, mengakhiri pembicaraan, sampai kepada melayani orang lain. Slogan hidup dalam cara bertutur orang manggarai yang paling  umum dikenal adalah reis, ruis, raes artinya menyapa, mendekati, dan menemani.

Tradisi turun temurun ini tetap terjaga hingga saat ini. Akan tetapi, generasi penerus yaitu anak-anak muda Manggarai sekarang sudah banyak yang tidak lagi mengikuti adat-istiadat seperti yang dituturkan di atas. Bahkan, banyak yang tidak mngetahui bahasa yang digunakan orang jaman dahulu yang lebih sopan untuk menerima atau melayani orang lain. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang tata krama dan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri luntur di tengah perkembangan zaman yang semakin kebarat-baratan. Generasi muda lebih cenderung mengikuti hal-hal yang bersifat trend dibanding dengan hal-hal yang diakui dalam kehidupan berbudaya karena diangga primitif dan kuno. Semoga saja, kita yang dibekali dengan pendidikan yang baik, bisa menghidupkan kembali adat-istiadat yang masih perlu untuk dilestarikan.

REFERENSI
Borgias F. M. 2012. Filsafat Sosial dan Filsafat Pendidikan Manggarai, dalam Martin Chen & Charles Suwendi (Eds.,) Iman, Budaya dan Pergumulan Sosial: Refleksi Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai. Obor: Jakarta.
Janggur, P. 2010. Butir-butir Adat Manggarai. Ruteng: Yayasan Siri Bongkok.
Kartawinata, Ade. M. 2011. Meretas Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi dan Tantangan Pelestarian dalam Nasruddin (2011). Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.
Mukese, D. J. 2012. Makna Hidup Orang Manggarai, dalam Martin Chen dan Charles Suwendi (eds.,) Iman, Budaya dan Pergumulan Sosial: Refleksi Yubileum 100 tahun Gereja Katolik Manggarai. Jakarta: Obor.
Pandor, P. 2015. Menyambut dan Memuliakan Sesama Dalam Ritus Tiba Meka Orang Manggarai, dalam Armada Riyanto, dkk. Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan. Yogjakarta: Kanisius.


===========
Oleh:
ariesrutung95

Media Blog Sebagai Langkah Awal Belajar Menulis

Pembelajaran bahasa Indonesia menuntut empat keterampilan dasar. Keterampilan dasar tersebut meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan itu hendaknya dilatih pada setiap orang melalui proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar pengetahuan tentang menulis dapat dipraktikkan menjadi suatu yang nyata dalam menghadapi tantangan global.

Salah satu dari keempat keterampilan tersebut yang masih tak dihiraukan adalah keterampilan menulis. Pada tataran paling bawah, menulis mungkin hanya sebuah aktivitas membuat huruf (angka dan sebagainya) menggunakan media/alat tulis. Tetapi, pada tataran paling atas, menulis merupakan suatu keterampilan menuangkan ide, gagasan, dan/atau pendapat dengan menggunakan media tertentu. Kebiasaan ini yang perlu ditumbuhkembangkan dalam diri setiap orang agar selalu melatih diri sedini mungkin untuk dapat menghasilkan dan merumuskan pemikiran baru melalui tulisan. Karena menulis merupakan suatu upaya menuangkan ide atau gagasan baru untuk sebuah kemajuan, maka diperlukan keberanian dan keyakinan pada diri sendiri untuk melakukannya.

Keterampilan menulis yang dimiliki mahasiswa hingga saat ini masih sangat rendah. Salah satu penyebab menurunnya minat mahasiswa dalam menulis yaitu penggunaan media untuk menulis dan menyebarkan tulisan. Banyak mahasiswa yang merasa malas menulis karena media yang dipakai bersifat monoton. Selain karena memang tidak ada niat dan motivasi dari dalam diri, juga penggunaan kertas sebagai satu-satunya media dalam memberikan pelajaran, tugas, latihan, dan diskusi, sehingga anak didik tidak mampu berkreasi bahkan sulit berinovasi.

Berdasarkan permasalahan di atas, salah satu media yang diyakini dapat mengembangkan keterampilan menulis yakni blog. Belum banyak ahli yang dapat mendefinisikan blog secara tepat. Namun, mengutip apa yang disampikan oleh English Dictionary bahwa blog adalah “a regular record of your thoughts, opinions, or experiences that you put on the internet for other people to read”. Blog adalah catatan tentang pemikiran, pendapat, atau pengalaman seseorang yang di sebarluaskan di internet dengan tujuan agar orang lain dapar mengakses dan membacanya. Bahkan lebih dari itu, pembaca dapat secara tidak langsung mengapresiasi tulisan tersebut. Menjadikan blog sebagai buku harian yang menuliskan berbagai peristiwa yang dialami oleh mahasiswa dapat menjadi langkah awal menumbuhkan semangat menulis. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Rachman Hakim dalam Elex Media Komputindo (2010:1) mengungkapkan, pemilik blog biasanya menuliskan berbagai catatannya ke dalam blog pribadinya, seperti halnya buku harian. Hasil dari tulisan itu dapat dilihat secara online melalui internet. Selain tulisan dapat pula ditambahkan gambar, video, bahkan bisa pula mengunggah fail yang dimungkinkan diakses oleh para pembaca.

Dengan hadirnya blog sebagai suatu media yang akan dipakai dalam menunjang keterampilan menulis yang terpendam dalam diri setiap  mahasiswa, maka diharapkan mampu mengubah kejenuhan atas media-media yang selalu monoton itu. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan menulis melalui media blog dapat dipraktikkan dalam materi-materi dan tugas-tugas yang menuntut daya nalar dan imajinasi. Hasil pemikiran yang sudah dikonsepkan kemudian ditulis atau dimuat ke dalam blog. 

Keterampilan menulis melaui media blog juga dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam berpikir. Wujud dari berpikir kreatif itu bukan hanya dalam menghasilkan gagasan baru, juga dapat berupa kemampuan mengubah gagasan yang sudah ada, mengembangkan gagasan yang pernah ada, atau menggabungkan gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya dengan tulisan yang baru dengan gaya yang sedemikian rupa dalam menampilkan tulisan agar dapat menarik minat baca para pengunjung blog. Kendati demikian, tetap hindari aktivitas plagiat dan jangan pernah mempelajarinya.


Referensi
Hakim, Rahman. 2010. Cara Cerdas Mengelola Blog. Jakarta: Elex media Komputindo.
https://antonwidawan.com/wp-content/uploads/2016/12/cara-upload-file-ke-blog.jpg

==========
Oleh:
ariesrutung95

Konfigurasi mesin fingerprint spc expert series (SPC-70) #2

Pada part sebelumnya, kita sudah sampai pada langkah menerapkan liburan di setiap pegawai atau karyawan. Sekarang, kita akan melanjutkan tutorial ke tahap selanjutnya yaitu pengaturan shift. Pengaturan shift merupakan pengaturan jadwal masuk untuk setiap periode atau waktu tertentu. Biasanya kita mengenal shif pagi, shift siang, dan shift malam. Pemberian nama setiap shif didasarkan pada durasi waktu kerja, seberapa lamanya karyawan yang bergabung dalam satu shift tertentu bekerja. Berikut langkah-langkah konfigurasinya.
spc_experts_series_fingerprint
  1. Klik pada menu shift management, new shift dan isi form yang tersedia. Lihat gambar di bawah ini!
    Shift_management
  2. Tambahkan detail shift pada bagian add detail. Yang perlu diketahui, pada tahap ini saya hanya menggunakan shift normal atau jadwal masuk harian seperti biasanya (masuk pkl. 08:00 dan pulang pkl. 16:00). Selain itu, kita bisa  tambahakan waktu check in lebih cepat pada kolom earliest in (pkl. 07:00), toleransi keterlambatan pada kolom allow late in (pkl. 08:15), dan mengatur jadwal pulang terlambat pada kolom latest out (pkl. 17:00).
    Shift_management_detail
  3. Selanjutnya, klik menu shift pattern, new pattern, dan isi kolom yang diminta.
    Shift_pattern
  4. Tambahkan shift detail pada shift pattern dengan menekan add, lalu isikan nomor order, tanggal dimulainya shift pada kolom begin date, dan pilih shift name yang tersedia. Lihat gambar di bawah ini.
    Shift_pattern_detail
  5. Tahap selanjutnya adalah mengatur shift allotment. Caranya, klik pada shift allotment, pilih department pada kolom click here  select Dept, add sehingga muncul jendela baru. Pada jendela baru yang muncul, silakan pilih shift pattern yang sudah dibuat pada part sebelumnya, atur tanggal dimulainya shift, dan jangan lupa ceklist pada kotak No End Date.
    Shift_allotment
  6. Masih pada menu shift allotment, klik pada batch allotment, select staff, pilih department pada kolom click here select Dept., lalu centang semua pegawai/karyawan yang muncul. Pada jendela batch allotment, pilih shift pattern dan tanggal dimulainya shift pada kolom begin date. Jangan lupa centang kotak no end date.
    Shift_allotment_batch
  7. Selanjutnya, daftarakan sidik jari dari setiap pegawai atau karyawan. Caranya, pada mesin fingerprint klik menu, daftar, pemakai, daftar, jari, sesuaikan dengan nomor urut pada pengaturan staff. Misalnya, kita ingin mendaftarkan sidik jari dari pegawai atau karyawan yang hadir dan hal itu dilakukan secara acak, (dari pegawai nomor urut 1, tiba-tiba langsung pegawai nomor 5) maka pada ID yang muncul, ketikan nomor urut pegawai yang ingin didaftarkan sidik jarinya. Kemudian, klik OK, escape, kemudian masukkan jari pada mesin fingerprint untuk mendaftar. Lakukan ini sebanyak 3 kali sebagai konfirmasi. Pegawai juga dimungkinkan mendaftar memakai dua jari sekaligus. Jika sudah selesai, klik escape sampai pesan konfirmasi untuk menyimpan sidik jari muncul dan klik OK. Lakukan hal yang sama untuk pegawai yang lain. Jari yang diapakai pun bebas. Untuk informasi tambahan, pegawai atau karyawan juga dapat mengganti sidik jarinya. Untuk percobaan, kita bisa menggunakan jari sendiri.



==========
Oleh:
ariesrutung95


Konfigurasi mesin fingerprint SPC expert series (SPC-70) #1

Fingerprint  Expert Series (SPC-70) adalah salah satu tipe mesin absensi keluaran SPC yang dapat dikonfigurasi melalui komputer. Untuk memulai mengonfigurasi, mesin absensi dan PC harus saling. Mesin fingerprint dapat berjalan sendiri (stand alone) dalam pengaplikasiannya (mendata kehadiran pegawai atau karyawan setiap hari). Proses pengambilan data bisa dilakukan dengan menggunakan flashdisk dan bisa juga langsung dihubungkan ke komputer menggunakan kabel LAN (straight).
Sofware aplikasi terdapat pada CD Driver yang terledia dalam produk mesin fingerprint. Selain aplikasi, di sana kita bisa temukan panduan mengenai cara mengonfigurasi mesin fingerprint. Tetapi, menurut pendapat saya, tutorial yang dibagikan masih jauh dari kesempurnaan karena penggunaan bahasa indonesia yang tidak baku akibat diterjemahkan dari bahasa inggris melaui google translate. Juga, gambar yang disertakan dalam tutorial, membingungkan tidak diambil dari satu sumber saja melainkan banyak sumber. Bagi para pemula awal, mungkin akan merasa kesulitan. Saya pun demikian ketika pertama kali diperkenalkan. Selengkapnya, silakan dicek dan dinilai sendiri.

Dari permasalahan di atas, saya berkesempatan membuat dan membagikan tutorial yang saya bahasakan dan gambarkan dengan merinci, setiap langkah-langkah kerjanya. Tutorial ini saya buat berpart, karena terlalu panjang. Cek langkah selanjutnya memalui link yang disediakan. Selamat membaca dan menerapkan.

KLIK UNTUK MEMPERBESAR GAMBAR
  1. Jika Setelah selesai menginstal aplikasi TAS, langkah selanjutnya adalah login dengan usernamesystem” tanpa password untuk memulai mengonfigurasi mesin fingerprint.
  2. Setelah login, jendela utama aplikasi TAS akan ditampilkan. Selanjutnya, mari kita mulai konfigurasi dengan menambah departement atau tempat kerja atau perusahan atau kantor di mana mesin finegrprint akan beroperasi. Silakan klik menu department, klik add (pada jendela baru yang muncul). Isi form yang diminta. Untuk tutorial ini, saya tidak terlalu memperhatikan semua opsi, hanya nomor, nama, dan alamat kantor saja yang diisi.  Lihat gambar sebagai contoh!
    Menambahkan_department
  3. Langkah ketiga adalah menambahkan staf atau pegawai atau karyawan. Caranya, klik pada menu staff, klik add pada jendela yang muncul. Sebelum memulai menmbahkan user/pegawai/karyawan, pastikan departmentnya dipilih terlebih dahulu pada kolom “click here to select department”. Pada bagian ini, form yang perlu di isi yakni nama pada kolom name, kantor/instansi pada kolom department, jenis kelamin (opsional). Sedangkan Staff no. dan user ID akan secara otomatis terisi sesuai dengan jumlah pegawai atau staff yang diinput (berurutan). Lihat gambar sebagai contoh!
    Menambahkan_staf
  4. Keempat, mengatur perangkat fingerprint agar terhubung dengan Komputer. Caranya, klik pada menu Device Management lalu klik add (+). Pada bagian Device No. Akan secara otomatis muncuk sesuai banyaknya mesin fingerprint yang terhubung dengan komputer, nomornya berurutan, isikan nama (sesuai selera), centang pada check box network, pilih U-Serial untuk model, isikan IP Address sesuai dengan yang ada pada mesin fingerprint, dan nomor port, juga disesuaikan dengan yang ada pada mesin fingerprint. Note, IP Address dan Nomor Port harus identik (sama, tidak ada perbedaan net ID) antar aplikasi dan mesin fingerprint. Untuk pengaturan IP dan Nomor Port di mesin fingerprint, silakan klik tombol menu, set COM, Ethernet, Alamat IP atau Nomor Port.
    Device_management
  5. Selanjutnya, uji koneksi antara PC dan mesin fingerprint. Untuk menguji koneksi antara laptop dan mesin fingerprint, hubungkan kedua perangkat menggunakan kabel LAN (straightover). Biasanya, pada mesin fingerprint akan muncul logo komputer. Jika sudah selesai, klik pada menu download dan pastikan pada jendela yang muncul, yang tercentang adalah nama perangkat yang disetting pada langkah. Kemudian, klik read (membaca waktu) time dan/atau set time (meyesuaikan waktu antara kedua perangkat, sama). Jika berhasil, muncul pesan success, namun jika gagal, muncul pesan failure (merah). Ada beberapa penyebab munculnya pesan gagal, antara lain (a) IP Address dan/atau nomor port antara kedua perangkat belum identikb, (b) Masalah pada kabel LAN, dan (c) Masalah IP Address pada Komputer. Yang paling sering saya lakukan untuk mengatasi pesan gagal di atas yaitu menyamakan IP Address pada komputer sesuai dengan IP pada mesin fingerprint (net IDnya boleh berbeda).
    Membaca_nama_dan_mengatur_nama

    Gagal_terhubung
  6. Langkah keenam yaitu menambahkan liburan. Caranya, klik pada menu holiday, quick setup, centang pada hari sabtu dan minggu. Bisa juga seting custom, sesuai dengan jadwal hari libur mingguan pada kantor atau department kalian, dengan mencentang Customized lalu pilih hari libur yang berlaku.
    Menambahkan_liburan
  7. Selajutnya, terapkan pada setiap user, liburan yang baru diseting pada langkah 6. Caranya, klik menu Holiday Allotment, klik pada nama organisasi, kemudian klik pada hari libur, lalu klik pada add untuk menambahkan. Lakukan hal yang sama untuk menerapkan hari libur yang lain. Hasilnya, pada setiap user atau pegawai akan tertera hari libur di bawah namanya.
    Penerapan_hari_libur

SELANJUTNYA...


==========
Oleh:
ariesrutung95

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) KTSP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah pegangan seorang guru dalam mengajar di dalam kelas. RPP dibuat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada hari tersebut.

Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar.
Selanjutnya menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 lampiran IV tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, tahapan pertama dalam pembelajaran menurut standar proses adalah perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan peyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu mengacu pada silabus.

Sementara itu menurut Panduan Teknis Penyusunan RPP di Sekolah Dasar, RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemua atau lebih. RPP dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). 

Berikut ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).



Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Rencana_pelaksanaan_pembelajaran
Pengembangan Profesi Pendidik, Tim. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014. Jakarta: Kemendikbud.
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses.
Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 lampiran IV tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran

===========
Oleh:
ariesrutung95

Upaya mengevaluasi mutu tulisan masih dianaktirikan

Ketika kita mendengar kata evaluasi, yang muncul pertama kali di kepala kita adalah ujian atau tes. Selalu ada makna ujian/tes di dalam kata tersebut (evaluasi), sebab evaluasi selalu dilakukan dengan cara mengadakan tes/ujian. Akan tetapi, pengertian itu tidak cukup dan tidak mencakup makna  kata evaluasi yang sesungguhnya. Lebih dari pengertian di atas, evaluasi merupakan proses mengukur, menilai, dan/atau menimbang suatu objek berdasarkan kriteria-kriteria yang jelas. Sejalan dengan itu, Gilbert Sax (1990) dalam (Arfin 2011: 6) mengatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan mutu/kualitas dari sesuatu berdasarkan kriteria  dan pertimbangan tertentu dalam membuat keputusan. Objeknya bermacam-macam, bisa manusia, hasil kerja manusia, dan lain sebagainya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa dalam mengadakan evaluasi, perlu adanya kriteria. Kriteria ini sangat penting dibuat oleh evaluator dengan pertimbangan (a) hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (b) evaluator lebih percaya diri (c) menghindari adanya unsur subjektifitas atau keberpihakan  (d) memungkinkan hasil evaluasi akan sama sekalipun dilakukan pada waktu dan orang yang berbeda, dan (e) memberikan kemudahan bagi evaluator dalam melakukan penafsiran hasil evaluasi (Asrul dkk. 2014: 2-3)

Dalam konteks menulis, evaluasi merupakan suatu proses/upaya mengukur dan menilai sebuah tulisan dengan tujuan menentukan mutu/kualitasnya, terutama mengenai nilai dan arti tulisan tersebut. Dari kegiatan evaluasi, kita akan memperoleh gambaran kualitas sebuah tulisan. Bahkan lebih dari itu, kita bukan hanya memperoleh gambaran kualitas tulisan, tetapi juga dapat memberi nilai kepada subjek yang menghasilkan tulisan itu bertalian dengan aspek kognisi, afektif, dan/atau psikomotoriknya.
Gambar 1. Evaluasi_mutu_tulisan
Hari ini, (terutama di lingkungan kampus) setiap tulisan yang dihasilkan justru berada dalam situasi seperti sedang tidak dievaluasi. Argumen ini mempunyai dasar. Memang ada feedback dari para evaluator yang bentuknya berupa nilai. Tetapi, nilai saja tidak cukup untuk meningkatkan mutu sebuah tulisan. Yang bisa dibaca dari luar yaitu nilai tinggi pasti memenuhi kriteria evaluasi, sedangkan yang yang tidak, barangkali jauh dari kriteria. Hanya sampai di situ batasannya. Lalu, orang akan bertanya, apakah nilai yang didapat memang betul-betul mencerminkan tulisan yang diproduksi? Nilai tinggi, mutu tulisannya sempurna (berdasarkan aturan/sistematika penulisan, penggunaan bahasa tulis, dan keterbacaan tulisan) sedangkan nilai rendah, jauh dari kesempurnaan. Atau justru ada unsur subjektifitas atas nilai yang diperoleh sehingga muncul nilai-nilai siluman? Juga orang tidak pernah tahu, apakah nilai yang diperoleh adalah nilai kualitatif atau kuantitatif?

Permasalahan itu yang harus betul-betul kita atasi. Bentuk feedback dari para evaluator seharusnya tidak saja bertumpu pada nilai. Mesti ada bentuk umpan balik yang lain yang harus diberikan kepada tulisan yang dievaluasi. Harus lebih diutamakan penilaian kualitatif daripada kuantitatif. Sebab yang terjadi hari ini, sebuah tulisan dibuat hanya untuk mendapatkan nilai semata dan sebagai suatu sayarat untuk menduduki tingkatan tertentu. Juga tidak berarti bahwa tulisan yang diproduksi tidak dievaluasi oleh para evaluator. Mungkin ada, tetapi hanya sekadar sebagai ukuran dan bahan pertimbangan dalam memberikan nilai. Tidak ada upaya lanjut agar tulisan itu bisa ditingkatkan lagi mutunya. Orang tidak mengetahui di mana letak kesalahan tulisannya sehingga mendapat nilai buruk atau apa keunggulan tulisannya sehingga memperoleh nilai yang baik. Ini justru akan menciptakan kesenjangan antara kedua belah pihak, yang memperoleh nilai tinggi dan yang tidak beruntung.

Dari permasalahan di atas, sudah jelas arah evaluasinya ke mana. Untuk mengevaluasi mutu tulisan, akan tidak cukup jika hanya menggunakan satu parameter. Oleh sebab itu, sebagai bentuk saran, mesti ada satu wadah yang menampung segala tulisan atau hasil karya apapun dalam bentuk tulisan. Wadah itu berisi semua tulisan dan dikelola oleh mereka yang profesional di bidang tulis menulis. Upaya ini tidak hanya mendapatkan nilai bagi yang menulis, tetapi ia akan tahu (setidak-tidaknya) di mana letak kesalahan penulisannya, dan mengapa ia mendapkan nilai yang baik.

Referensi:
Asrul, dkk. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Ciptapustaka Media.


==========
Oleh:
ariesrutung95

Program aplikasi yang harus ada pada laptop yang baru diinstall ulang

Hari ini, semua orang sudah paham tentang cara menginstall ulang komputer. Namun, masalah yang sering dihadapi adalah ketidaktahuan memilih aplikasi mana saja yang harus dipasang pada komputer yang baru diinstall itu. Berikut ini saya mencoba berbagi informasi dan pengalaman tentang aplikasi yang saya pasang pada sebuah komputer menginstall ulang.

Aplikasi Desain
Aplikasi desain yang dimaksudkan di sini adalah semua aplikasi yang dapat dipakai untuk merancang (web, bangunan, dsb). Jenis aplikasi desain antara lain, Photoshop, Corel Draw, Auto Cad, Notepad, Dreamviewer, dan lain-lain. Untuk standar dalam dunia teknisi yang sering melakukan instalasi ulang komputer (sistem operasi), aplikasi desain yang dipakai biasanya tidak terlalu diutamakan, tergantung permintaan pelanggan. Kendati demikian, seorang teknisi tetap akan memberikan aplikasi yang ringan dan familiar untuk desain yaitu Photoscape dan Photoshine.
Gambar 1. Aplikasi Desain
Aplikasi Multimedia
Aplikasi multimedia adalah semua aplikasi yang dapat digunakan untuk memutar file-file audio, video, dan/atau film. Jenis-jenis aplikasi yang biasanya dipakai antara lain, untuk pemutar file audio/music biasanya akan dipakai winamp atau aimp. Sedangkan untuk memutar film/video, aplikasi yang dipakai yakni Klite Codec, VLC, Gom Player, dan lain-lain.

Aplikasi Burning
Aplikasi burning dipakai untuk memasukan file baik audio, video, document, dan/atau aplikasi ke dalam sebuah kepingan CD. Aplikasi yang familiar digunakan yakni Nero, Ultra ISO, dan/atau ImgBurn.

Aplikasi MS. Office
Aplikasi yang satu ini tidak asing lagi bagi pengguna komputer. Aplikasi ini mutlak ada dalam sebuah komputer. Kegunaanya adalah untuk mengolah file Word, Excel, Power Point, dan lain-lain. Semua versi masih bisa ditemukan hingga saat ini, mulai dari office 2003, 20007, 2010, 2013, dan yang terbaru 2016. Versi paling bawah biasa kita temukan di rental-rental pengetikan karena sangat ringan.

Aplikasi Browser
Aplikasi browser dipakai untuk membuka file-file berformat html dan format-format lain yang mendukung serta untuk membuka situs-situs atau segala sesuatu yang berhubungan dengan jaringan internet. Aplikasi yang sering dipakai untuk kegiatan berselancar di internet antara lain, Mozzila Firefox, Google Chrome, Opera Mini, dan lain-lain.

Aplikasi Compression
Aplikasi compression yaitu aplikasi yang untuk membuka file-file yang dikemas dalam satu file arsip yang hanya dapat dijalankan/dibuka apabila dalam komputer tersebut terdapat aplikasi WinRAR, PeaZip, 7zip.

Aplikasi Anti Virus
Sama halnya dengan aplikasi ms. Office, aplikasi anti virus juga mutlak ada dalam sebuah komputer. Aplikasi ini bertujuan melindungi kinerja komputer dari serangan virus, baik virus lokal maupun virus dari luar (ketika terhubung dengan internet). Aplikasi antivirus yang lazim dipakai antara lain, Smadav, Avast, AVG, Norton, McCoffe, dan lain sebagainya.

Aplikasi Pembaca File PDF
Aplikasi pembaca pdf adalah aplikasi yang khusus digunakan untuk membaca file-file yang bertipe dot pdf. Selain itu, untuk jenis tertentu, aplikasi pembaca pdf dapat digunakan untuk mengubah file bertipe word, excel, dan atau file oofice lainnya menjadi file pdf dan sebaliknya. Aplikasi yang sering digunakan untuk kegiatan ini antara lain, PDF reader, Foxit Reader, Nitro Professional, dan lain sebagainya.


==========
Oleh:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA