Cerita Benteng Ponto - Manggarai Barat

Dahulu kala di sebuah kampung, Wae Wene, hiduplah beberapa warga yang bekerja sebagai nelayan. Pada suatu hari, ada seorang nelayan menyusuri sungai untuk memancing. Ketika ia sedang menunggu ikan memakan umpan pancingannya, tiba-tiba seekor belut pendek (dalam bahasa Manggarai disebut Tuna tompok) menyambar umpannya. Seketika itu juga sang nelayan langsung menarik pancingannya dan menangkap belut tersebut. Betapa kagetnya ia melihat belut yang ditangkapnya itu karena sangat besar (kira-kira seukuran paha orang dewasa). Karena tubuh belut yang licin dan ukurannya yang terlalu berat, sang nelayan mengalami nasib sial, belut itu terlepas dari genggamannya. Karena hari sudah sore, sang nelayan pulang tanpa seekor pun ikan yang berhasil ditangkap.

Sesampainya di rumah, sang nelayan menceritakan belut yang hampir ditanggkapnya kepada beberapa tetangga terdekat. Karena penasaran, mereka bersepakat untuk menangkap belut tersebut. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, sang nelayan bersama dua warga lainnya beranjak menuju kali. Sesampainya di kali, ketiganya langsung menurunkan tali pancing masing-masing. Tiba-tiba belut menyambar pancingan mereka. Tetapi, belut yang tertangkap bukanlah belut seperti yang diceritakan. Karena tidak sesuai, belut yang mereka tangkap dilepaskan kembali.

  “Bukan ini yang kami cari,” kata salah seorang pemancing.

Hari sudah hampir sore, tetapi belut yang diidamkan belum juga tertangkap. Karena sudah mulai lelah, ketiganya memutuskan untuk bermalam di atas perahu kecil alias sampan. Sambil menunggu belut menyambar umpan mereka, mereka bercerita di atas perahu. Beberapa menit kemudian, ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba pancingan salah seorang nelayan disambar-tarik. Rupayanya, itu adalah belut yang mereka cari. Dua orang nelayan lainnya ikut memantu menangkap belut tersebut. Benar saja, belut yang mereka cari berhasil ditangkap. Karena terlalu senang, tanpa pikir panjang mereka menepi ke daratan untuk mencari tempat peristirahatan sekaligus membuat perapian untuk memasak belut itu.

Setelah matahari sudah terbit, mereka bersiap-siap untuk pulang. Belut yang ditangkap kemudian dipotong-potong dan dibagi-bagi, sebagian lainnya dijadikan sarapan pagi. Beberapa menit setelah memakan daging belut tersebut, ketiga orang itu menjadi mabuk. Menurut adat orang Manggarai, belut yang memiliki ciri-ciri fisik pendek dan besar merupakan penjaga sungai. Jadi, belut yang berhasil mereka tangkap tersebut merupakan penjaga sungai tempat mereka memancing. Adalah hal yang sangat pantang jika siapa saja membunuh belut tersebut dan pasti akan menuai karma.

Karena sudah mabuk, mereka memutuskan untuk pulang. Daging-daging belut itu berubah menjadi keris. Di atas perahu, ketiga nelayan tersebut berencana pergi ke Bima, salah satu wilayah yang penghuninya pernah menyerang dan menguasai hampir seluruh wilayah Manggarai. Tujuan mereka ke bima adalah untuk membalas dendam (perang). Sesampainya di Bima, yang menurut pikiran ketiga nelayan tersebut adalah Bima, tertapi ternyata adalah kampung tempat mereka tinnggal.

Karena sudah marah, ketiganya langsung turun dari perahu dan membunuh semua warga yang ada di kampung itu. Anak dan istri mereka ikut terbunuh. Melihat kejadian itu, seorang perempuan hamil melarikan diri dan bersembunyi di bawah rumah kerang yang berukuran sangat besar (cukup untuk menutupi tubuhnya). Setelah semua terbunuh, ketiga nelayan itu baru sadar dan betapa kagetnya mereka melihat anak dan istrinya sudah dibunuh. Karena kecewa, ketiganya memutuskan untuk saling menikam. Begitulah, ketiganya juga ikut mati di kampung itu.

Setelah merasa tak lagi terdengar suara, perempuan hamil yang bersembunyi di dalam kerang pelan-pelan mendorong rumah kerang itu dan melarikan diri. Dalam pelarian itu, perempuan hamil tersebut akhirnya mendiami salah satu wilayah di Manggarai (yang hari ini termasuk ke dalam kabupaten Manggarai Barat) yakni Nangalili. Dari perempuan tersebutlah cikal-bakal manusia-manusia penghuni Nangalili.

Hari ini, kerang yang dijadikan rumah persembunyian perempuan hamil tersebut masih ada dan oleh warga setempat dijadikan bahan baku pembuat kapur untuk sirih-pinang, tetapi oleh warga setempat kemudian dijaga. Mereka membuat akses menuju bukit tempat di mana kerang itu berada dengan membangung tangga menuju bukit.


===========
Author:
ariesrutung95

Bahasa Ibu pada Generasi Milenial

Bahasa ibu merupakan bahas pertama yang dipakai oleh manusia sebagai alat pemersatu (dimaknai: alat komunikasi), baik dalam lingkup keluarga maupun dalam suatu wilyah-sebaran bahasa tersebut. Bahasa ibu yang masing-masing kita kuasai/miliki hari ini mempunyai masa hidup. Ada yang tetap eksis karena penuturnya setia menjaga dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, ada pula yang mulai mengalami erosi dan tergeser. Bahasa yang berpenutur sedikit berpotensi cepat mengalami pergeseran terutama karena pengaruh bahasa kedua, yaitu bahasa nasional. Tuntutan pekerjaan, proses globalisasi, pengalihan fungsi lahan, faktor ekonomi, dan inteferensi suatu bahasa mayoritas cenderung menjadi faktor penyebab bergesernya suatu bahasa. Artinya, terdapat hubungan antara pemakai (penutur) suatu bahasa dengan lingkungannya, bahasa dengan perkembangan dunia terutama teknologi, bahasa dengan bahasa lain, dan bahasa dengan pembangunan. Lingkungan memiliki andil terhadap eksistensi suatu bahasa tertentu.

Di Indonesia, perkembangan bahasa ibu mengalami kompetisi dengan pemakaian bahasa nasional, bahasa Indonesia. Bentuk persaingan yang paling nyata yakni tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang menuntut (terutama dalam dunia pendidikan) agar individu terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kontadiksi dari hal semacam ini adalah bahasa ibu merupakan kekayaan budaya daerah yang harus dijaga. Hal ini memberikan tawaran kepada pemakai bahasa atas pentingya penguasaaan kedua bahasa tersebut. Bahkan lebih ekstrim lagi, masyakat Indonesia yang rata-rata adalah dwibahasawan dituntut bisa berbahasa asing agar dapat bersaing di dunia global, bahasa Inggris misalnya, sehingga menjadi multibahasawan.

Persoalan di atas memberikan saya keyakinan bahwa masyarakat indonesia tidak betul-betul multibahasawan atau dwibahasawan, sebab pengetahuan kita tentang satu bahasa tertentu hanyalah awang-awang. Atas dasar ini pula, saya berkeyakinan bahwa aspek kuantitas tanpa kualitas penutur suatu bahasa tidak menjamin bahasa tersebut bertahan dari pergeseran hingga kepunahan. Konsep dwibahasawan atau multibahasawan merupakan suatu kemampuan, pemahaman, dan keterampilan. Jika pengetahuan kita terhadap suatu bahasa tidak cukup, pemakaian suatu bahasa cenderung melihat konteks dan tidak konsisten, cenderung beralih kode dan bercampur kode, bagaimana mungkin eksistensi bahasa itu terjaga. Sejalan dengan itu, Saussure dan Barker dalam Mbete (2008: 8) mengatakan, bahasa itu harus kukuh berada dalam kognisi penuturnya dan harus digunakan secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Waktu dan usaha manusialah yang menentukan kelestarian sebuah bahasa daerah. Apa pun yang digunakan oleh generasi tua hanya semata-mata untuk mempertahankan bahasa daerahnya agar tetap lestari dari ancaman kepunahan (Rahardjo, 2004: 159). Semakin kita gigih mempertahankan suatu bahasa, semakin kuat pula penyatuan bahasa itu dengan pengetahuan kita. Selain itu, dwibahasa atau multibahasa bukanlah suatu hal yang penting karena pengetahuan kita terhadap masing-masing bahasa itu tidak optimal. Selalu ada interferensi dalam penggunaan masing-masing bahasa itu, terutama dalam pergaulan atau lingkungan di mana kita beraktivitas.

Memahami bahasa bukanlah hal yang mudah, kendati kita mengeklaim diri sebagai dwibahasawan atau multibahasawan. Pemahaman kita terhadap bahasa itu hanyalah sebatas pemahaman sebagai alat komunikasi yang didasarkan pada konteks, misalnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia hanya ketika bertemu dengan orang yang tidak sebahasa ibu dengannya. Akan tetapi, peggunaan bahasa itu secara lebih sering dan mendalam dalam kehidupan sosial-budaya seperti yang dikutip Mbete di atas kiranya hingga hari ini belum bisa dilabeli kepastian.

Kasus seperti di atas sering dialami oleh masyarakat yang bermigrasi, mengenyam pendidikan di luar daerah asalnya, atau dominasi salah satu bahasa tertentu karena lingkungan menuntutnya demikian, misalnya kasus bahasa suku Aborigin. Di perguruan tinggi, komunitas yang terbentuk mempunyai latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, agar dapat berkomunikasi secara sempurna, dipakailah sebuah bahasa yang sama-sama dianggap dapat menyatukan segala kepentingan. Dalam konteks Papua yang beragam bahasa ibu, bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia. Betapa tidak dapat dibayangkan, jika seseorang masuk ke dalam lingkungan yang sama sekali tidak mempunyai penutur sebahasa dengannya, bukan hal mustahil bahasa ibunya (dimaknai: bahasa daerah) mengalami erosi karena tidak pernah dituturkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sangatlah benar pandangan yang dikemukakan oleh Saussure dan Barker di atas. Eksistensi sebuah bahasa tidak ditentukan oleh seberapa banyak penutur, tetapi seberapa sering individu menggunakan bahasa itu dalam komunikasi sehari-hari. Hal yang tidak kalah penting adalah pengetahuan penutur atas bahasa ibunya.


===========
Author:
ariesrutung95

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini belum sepenuhnya efektif. Hal ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap literasi. Kemahiran literasi mengantarkan sesorang untuk mengetahaui dan menyadari kebutuhan informasi bagi dirinya, mengetahui sumber-sumber informasi yang dapat diakses, terampil mengakses informasi yang dibutuhkan, dan terampil memanfaatkan informasi yang telah diperoleh untuk menghasilkan gagasan atau karya baru yang bermanfaat.

Pemanfaatan informasi dapat dilakukan untuk membangun gagasan baru yang lebih utuh atau untuk kepentingan-kepetingan praktis lainnya. Maksud ini dapat diwujudkan jika individu atau masyarakat memiliki kesadaran potensi diri dan pemanfaatannya infrastruktur teknologi modern secara positif. Pribadi ini menghindari pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi sebagai ruang obrolan yang sangat narsis, konsumtif, dan terkesan hura-hura. Teknologi ini seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk berbincang menu sarapan pagi, aktivitas wisata pribadi atau keluarga, dan reuni, tetapi digunakan sebagai ruang-ruang diskusi yang cerdas untuk pemberdayaan diri.

Dalam konteks menulis, setiap tulisan dibuat bukan sekadar ekspresi dari penulis itu sendiri, melainkan bentuk komunikasi penulis agar para pembaca atau penikmat tulisannya juga mampu menginterpretasi (menilai) apa yang dilihatnya. Jika tulisannya itu tidak terkonteks dengan kehidupan nyata atau fakta empirisnya tidak mendukung, maka pembaca diharapkan dapat memberikan penilaian atas sesuatu yang dibacanya. Sehubungan dengan itu, setiap wacana selalu mengandung niat, keteladanan, dan efek dari subjek penyaji wacana terhadap individu atau masyarakat yang menikmatinya. Ketiga hal ini jika dikaitkan dengan konsep tindak tutur komunikasi, maka kita akan menemukan istilah lokusi, ilokusi, dan perlokusi (Wibowo, 2015)

Untuk mendukung kompetensi literasi secara produktif dan kreatif, blog memberikan ruang yang sangat besar bagi setiap individu yang ingin mengaktualisasikan dirinya dalam dunia tulis-menulis. Blog adalah salah satu media yang dapat dijadikan sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan literasi baca-tulis. Lebih dari itu, blog dalam skala yang lebih besar merupakan media yang dapat dipakai untuk mengembangkan literasi teknologi yakni keterampilan menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Lihat saja, hari ini informasi yang kita dapat sebagian besar disebarluaskan melalui blog. Di samping  itu, jika mata kita tidak tertutup terhadap dunia digital, banyak orang yang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan.

Blog Sebagai Pendukung Kompetensi Literasi
Hadirnya media blog akan sangat mempengaruhi kemapuan individu yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam berliterasi. Di dalam blog, setidaknya seseorang akan memahami apa itu literasi baca-tulis, literasi digital, literasi informasi, literasi internet/jaringan, literasi komputer, literasi media, dan literasi teknologi. Ketujuh jenis literasi itu sudah terkandung di dalam blog. Untuk memahaminya, berikut akan dijelaskan secara berturut-turut.

Literasi Baca-Tulis
Secara sederhana, literasi baca-tulis diartikan sebagai melek aksara atau melek huruf. Literasi baca-tulis merupakan kemampuan untuk memahami isi teks tertulis (tersurat maupun tersirat) dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial (KBBI Luring Edisi V).

Bagi seorang blogger-pemula, kesalahan dalam menulis adalah hal yang biasa, bahkan akan diaggap sah-sah saja jika masih belum terlalu memperhatikan aturan-aturan penulisan. Kesalahan selalu mutlak mengambil bagian dalam keberhasilan atau kesuksesan sebuah tulisan pada blog. Dengan memadukan metode feedback (peer feedback, teacher feedback, dan self feedback) diharapkan dapat membantu blogger-pemula dalam meningkatkan kemampuan menuangkan ide atau gagasannya melalui tulisan. Keterbacaan sebuah tulisan bukan sepenuhnya dibebankan kepada penulis pemula, melainkan dibantu oleh kemampuan memahami dari para pembaca. Artinya, kemampuan seorang pembaca untuk memhami maksud yang ingin disampaikan penulis merupakan suatu keharusan, sehingga antara penulis dan pembaca saling membutuhkan. Dengan demikian, feedback adalah cara yang paling efektif dalam meningkatkan mutu tulisan.

Literasi Digital
Literasi digital merupakan suatu keahlian yang bertalian dengan penguasaan atau pemaanfaatan sumber dan perangkat digital. Riel (2012: 3) berpendapat bahwa literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari peranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu, Bawden (2001) mengemukakan bahwa literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Salah satu peranti digital yang dipakai untuk mengakses dan meyebarluaskan informasi adalah blog. Melaui blog yang dipadukan dengan jaringan/internet, seseorang dapat mengakses segala informasi yang dibutuhkannya dengan sangat cepat. Seseorang yang membutuhkan informasi mengenai cara menulis yang baik, blog selalu berandil memberikan alternatif bagi pengakses. Kemampuan seseorang memahami informasi yang dimuat melalui blog, menyadurnya menjadi informasi yang baru, dan menyebarluaskan kembali adalah kemampuan dalam memaknai literasi digital. Literasi digital merupakan gabungan dari beberapa bentuk literasi, yaitu literasi komputer, literasi informasi, literasi teknologi, literasi visual, literasi media, dan literasi komunikasi (Martin, 2008).

Blog memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk mengakses, memilih, dan memahami berbagai jenis informasi yang berguna bagi peningkatan taraf hidup dan kehidupannya. Selain itu, blog juga memberikan ruang bagi seseorang untuk berpartisipasi dalam menyuarakan aspirasi, perspektif, dan opininya kepada khalayak ramai.

Literasi Informasi
Literasi informasi dapat diartikan sebagai keahlian dalam mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan (Verzosa, 2009 dalam Sitti Pattah, Literasi informasi: peningkatan kompetensi informasi dalam proses pembelajaran). Saya menjabarkan apa yang disampaikan oleh Doyle dalam Apriyanti (2010: 11) dengan mengaitkannya dengan aktivitas bloging. Individu yang memiliki kemahiran terhadap literasi informasi, sekurang-kurangnya ia mampu:

Pertama, menyadari kebutuhan informasi. Artinya, seseorang menyadari betapa minimnya pengetahuan yang dimilikinya sehingga ia merasa apa yang diketahuinya belumlah cukup. Orang semacam ini tahu bahwa dirinya tidak mengetahui apa pun. Seorang bloger atau narablog harus memiliki sikap seperti ini. Tulisannya akan mencerminkan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Jika blog yang dibangun bertujuan untuk membagikan pengetahuan tentang komputer, maka pastikan blogernya mempunyai pengetahuan lebih tentang dunia komputer. Jangan sampai artikel yang dihasilkan adalah hasil aktivitas plagiat.

Kedua, menyadari informasi yang akurat dan lengkap merupakan dasar dalam membuat keputusan yang benar. Orang yang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai suatu hal cenderung memberikan pertimbangan terhadap informasi yang diterimanya berkali-kali. Apabila informasi itu tidak sesuai dengan pengetahuannya, mengonfirmasi adalah cara agar kebenaran informasi itu terkuak. Semakin banyak ia mengetahui, semakin baik pula keputusan yang diambilnya. Menulis artikel dengan latar belakang pengetahuan jaringan yang luas merupakan daya dukung bagi seorang bloger dalam membagikan pengetahuanya kepada para pembaca.

Ketiga, mampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial dari suatu informasi. Pada tataran ini, jika seseorang memiliki pengetahuan lebih mengenai informasi yang didapatnya, setidak-tidaknya ia bisa membedakan mana sumber informasi yang terpercaya, informasi yang dibaluti etis, dan mana informasi yang mengandung subjektivitas.

Keempat, mampu membangun strategi pencarian yang tepat. Dalam mencari informasi, individu yang yang mempunyai pemahaman lebih tentang mengakses informasi tertentu akan sangat cepat memperoleh suatu informasi baru, yang viral dan up to date, karena ia tahu dan paham cara memperolehnya. Bahkan bisa jadi informasi itu sebelum viral, ia sudah terlebih dahulu membaca atau melihatnya. Dengan perkataan lain, ia selangkah lebih maju dari orang lain.

Kelima, mampu mengakses berbagai sumber informasi termasuk teknologi dasar lainnya. Dengan pengetahuan yang baik tentang teknologi, informasi apa saja bisa ia peroleh. Seperti yang sudah saya singgung di poin sebelumnya, ia selalu selangkah lebih maju dari orang lain. Sebelum informasi itu dikonsumsi publik, mungkin saja ia adalah orang pertama yang mengetahuinya, bahkan lebih mungkin lagi informasi itu dipublikasikan olehnya.

Keenam, mampu mengevaluasi informasi, mampu mengelola informasi untuk mengaplikasikan/mempraktikkannya. Tingkat pemahaman kita terhadap sesuatu dapat dijadikan parameter dalam mengevaluasi dan megelola sesuatu sehingga dapat diaplikasikan. Misalnya, mencari informasi yang memuat cara membuat blog disertai dengan gambar, tetapi hanya informasi yang dapat dipahami yang bisa kita aplikasikan, yang bisa kita ikuti langkah-langkahnya.

Ketujuh, mampu mengintegrasikan informasi yang baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya. Di era digital, informasi berkembang begitu pesat, teknologi komputer misalnya. Memahami komputer di abad 20 akan berbeda dengan komputer yang eksis di abad 21. Di sinilah kemampuan kita untuk mengintergrasikan pengetahuan lama dengan hal baru yang kita ketahui. Artikel mengenai dasar-dasar komputer yang ditulis berdasarkan perkembangan pada abad 20 perlu kiranya direvisi, disesuaikan dengan pengetahuan yang berkembang hari ini. Pengetahuan baru dalam dunia bloging harus mampu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah pernah kita dapat;

Kedelapan, mampu menggunakan informasi dengan kritis dan untuk menyelesaikan masalah. Jika seseorang mengalami masalah dengan komputer pribadinya, misalnya, berbekal informasi yang pernah ia terima atau informsi yang ia cari, masalah yang dihadapi bisa diatasi.

Literasi Internet/Jaringan
Menurut Doyle,  literasi internet/jaringan merupakan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan teori dan praktik dalam hubungannya dengan internet sebagai medium komunikasi dan pengelolaan informasi. Literasi internet yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas komunikasi, pencarian informasi dan sejenisnya melalui medium internet guna memenuhi kebutuhan yang dimungkinkan terjadi hanya bila seseorang telah memahami literasi komputer (Mudjiyanto, 2012).

Dari pengertian di atas dapat saya katakan bahwa pemahaman kita terhadap literasi teknologi, literasi informasi, dan lain-lain bersumber dari pemahaman kita mengenai literasi komputer dan jaringan/internet. Leksikon download (mengunduh) dan upload (mengunggah) merupakan leksikon yang paling sering kita temuai ketika kita berhubungan dengan jaringan internet. Sebagai contoh, seorang blogger pasti paham dengan kedua leksikon ini, baik itu mendefinisikannya maupun konteks pemakaiannya dalam aktivitas blogging. Memublikasikan tulisan diblog adalah salah satu contoh kegiatan meng-upload, sedangkan mengambil materi yang diunggah ke blog adalah jenis kegiatan men-download. Kemampuan kita mempraktikkan kedua istilah di atas merupakan bentuk pemahaman kita terhadap literasi internet/jaringan.

Lebih luas lagi, literasi jaringan berbicara mengenai intekoneksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia luar, pulau dengan pulau, negara dengan negara, benua dengan benua secara maya. Tentu saja ini dikendalikan oleh manusia.

Literasi Komputer
Literasi komputer merupakan kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pemahaman dasar tentang perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk memecahkan masalah atau mengakses informasi (KBBI, 2015). Dengan demikian, seseorang yang memiliki kemahiran dalam bidang komputerisasi seharusnya menguasai konsep dasar hardware dan software. Sama halnya dengan literasi jaringan, literasi komputer menuntut individu untuk dapat mendiagnosa masalah-masalah komputer, semisal ketika kompuer tidak memiliki tampilan. Ketepatannya dalam memberikan diagnosa merupakan langkah awal bagi individu agar dapat memberikan solusi yang tepat.

Di era digital ini, akan sangat disayangkan jika seseorang hanya mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer. Mestinya, seorang user (pengguna) komputer memiliki kemampuan dasar mengenai komputer, baik itu masakah hardware mauoun masalah software. Langkah yang akan diambil jika komputer yang dipakainya tidak lagi dapat terhubung ke internet atau tidak terkoneksi dengan perangkat tambahan (peripheral), mengerti tantang prosedur mematikan komputer yang baik dan benar atau tips merawat komputer agar bisa bertahan lama adalah kasus-kasus kecil yang mesti seorang user komputer pahami.

Literasi Media
Pemahaman literasi media secara tradisional diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
mengakses, menganalisis, dan menciptakan (Silverblatt, 2007). Sejalan dengan itu, KBBI menjelaskan pengertian literasi media yakni kemampuan mengakses, menganalisis, dan menciptakan informasi untuk tujuan tertentu. Menulis artikel tentang hal-hal yang trendi di masa sekarang merupakan salah satu contoh literasi media. Dengan mengamati, kita dapat membuat gambaran tentang hal yang dilihat dan kemudian memublikasikan apa yang dilihatnya kepada khalayak umum.
Dalam konteks bloging, seorang narablog mesti menguasai literasi media. Hal in penting karena apa yang dituliskannya merupakan hasil dari informasi yang pernah ia akses atau pernah dilihatnya.

Literasi Teknologi
Literasi teknologi secara sederhana dapat dimaknai sebagai keterampilan yang dimiliki seseorang terhadap cara menggunakan internet dan mengomunikasikan informasi. Di sini, seseorang dituntut untuk dapat mengomunikasikan informasi, artinya individu tersebut harus memiliki kemampuan dalam menulis. Menguasai literasi teknologi melibatkan literasi informasi yang dua-duanya saling memberi dukungan. Literasi teknologi memungkinkan informasi dapat disebarluaskan dengan cepat dan skop luas. Kemampuan itu dapat dilakukan seseorang melalui blog.


Referensi
Bungin, B. (2006) Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
Bungin, Burhan.(2008). Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Haryati. (2011). Studi Literasi Informasi Pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tenaga Pendidik. Jurnal Penelitian Komunikasi. Bandung: BPPKI. Vol. 14 No. 2. hal. 111-126.

Moedjiono. (2014). Tantangan dan Peluang Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia, jurnal.atmaluhur.ac.id/, diakses 10 Oktober 2018.

Mudjiyanto, Bambang. (2012). Literasi Internet Dan Partisipasi Politik Masyarakat Pemilih dalam Aktivitas Pemanfaatan Media Baru. Jurnal Studi Komunikasi Dan Media. Jakarta: BPPKI. Vol. 16 No. 1. hal. 1-15.

Rahman, A. Harahap. (2010). Literasi Internet Dan Peningkatan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Pikom Penelitian komunikasi dan Pembangunan. Medan Balai besar Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Vol. 11 No. 3. hal. 403 - 426.

Severin, J Werner dan James W. Tankard,, Jr. (2007). Teori Komunikasi, (Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa). Penerjemah, Sugeng Hariyanto. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Triyono, A. (2010). Pendidikan Literasi Media Pada Guru TK Gugus Kasunanan Sebagai Upaya Menanggulangi Dampak Negatif Televisi. Warta, 13(2), 150–159.



===========
Author:
ariesrutung95

Relasi Makna Denotasi dengan Makna Leksikal

Bahasa digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu,  makna bahasa pun menjadi bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai jenis makna telah dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai buku linguistik atau semantik, semisal Gorys Keraf, Abdul Chael, dan lain sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi makna leksikal, makna denotasi, makna konotasi, serta hubungan denotasi dengan leksikal dan konotasi dengan pragmatik.

Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya, atau makna yang ada di dalam kamus. Misalnya, leksem ‘mahasiswa’ memiliki makna leksikal ‘orang yang belajar di perguruan tinggi`, ‘dosen’ bermakna leksikal ‘tenaga pengajar pada perguruan tinggi’.

Makna Denotasi
Makna denotasi adalah makna yang jelas atau makna yang sebenarnya. Dalam ilmu bahasa, makna denotasi merupakan apa yang dijelaskan di dalam kamus (Erdman dalam Janich, 2002: 147). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Denotasi adalah makna asli, makna asal atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata kurus bermakna denotatif yang sama artinya dengan ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal, bukan langsing’.

Makna Konotasi
Konotasi merupakan perubahan nilai arti kata yang terjadi akibat pendengar mengartikan kata dengan memakai perasaannya. Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata bunga seperti contoh di atas, jika dikatakan “Si Ida adalah bunga kampung kami”, ternyata makna bunga tak sama lagi dengan makna semula. Sifat bunga yang indah itu dipindahkan kepada si Ida yang cantik. Dengan kata lain, orang lain melukiskan kecantikan si ida yang bak bunga.

Makna Leksikal dan Makna Denotasi
Berdasarkan definisi masing-masing makna di atas, saya dapat berasumsi bahwa antara makna leksikal dan makna denotatif itu sama. Jika keduanya memiliki arti ‘makna yang sebenarnya atau makna yang didasarkan pada kamus’, maka asumsi saya dapat dianggap benar. Yang membedakan keduanya adalah konteks pemakaiannya seperti yang sudah pernah saya singgung di pembahasan terdahulu. Makna denotasi akan dianggap denotasi apabila konteks pemakaiannya sesuai. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kata rajin ditujukan kepada individu yang benar-benar rajin, maka kata rajin mempunyai makna denotasi, karena penggunaan kata itu sesuai dengan realitas, sesuai dengan yang dilihat atau diamati. Akan berbeda jika kata rajin ditunjukan pada orang yang malas kuliah. Atas dasar itu, maka kata rajin bermakna konotasi karena tidak sesuai dengan konteks situasi dan mengandung nilai rasa di dalamnya.

Makna Konotasi dan Pragmatik
Telaah makna konotasi sama halnya dengan kita mencari tahu tentang pragmatik karena pragmatik berusaha mencari tahu makna dibalik tuturan. Akan tetapi, keduanya tetap saja memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling nampak yakni makna konotasi terdapat di dalam bidang ilmu semantik, sedangkan pragmatik merupakan cabang semiotika yang juga salah satunya adalah semantik. Anda dapat melihat perbedaan semantik dan pragmatik DI SINI.


Referensi
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1986. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Lutfi Ma’luf. 1982. Kamus Al- Munjid. Darul Masyrik. Beirut : Libanon
Djajasudarma, T. Fatimah. 1999. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandumg: PT Refika Aditama.


==========
Author:
ariesrutung95

Resensi Artikel: Erosi Leksikon Bidang Persawahan Di Bali

Erosi Leksikon Bidang Persawahan Di Bali: Suatu Kajian Ekolinguistik merupakan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang mahasiswi Program Studi Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana, Ni Ketut Ratna Erawati. Artikel ini menarik untuk dibahas karena berisi penelitian tentang pengaruh lingkungan terhadap eksistensi bahasa. Artikel ini merupakan kajian ekolinguistik. Secara garis besar, artikel ini menjelaskan tentang terjadinya erosi leksikon bidang persawahan di Bali. Erosi leksikon terjadi akibat lingkungan tempat di mana bahasa ini hidup (dipakai) dialihfungsikan ke manfaat lain, sehingga menyebabkan bahasa ini tidak lagi dapat digunakan oleh para penuturnya. Akibatnya, generasi muda dari penutur yang dulunya bekerja di areal persawahan tidak lagi mengetahui bahkan tidak pernah mendengarkan leksikon-leksikon yang hidup dan berkembang pada areal persawahan. Hal inilah yang menjadi penyebab utama mengapa erosi leksikon pada bidang persawahan di Bali ini terjadi. Selain itu, perkembangan teknologi di bidang persawahan juga ikut berandil dan menjadi faktor yang menyebabkan erosinya leksikon.

Artikel ini berusaha menggali faktor penyebab terjadinya erosi leksikon dan meneliti persentase pengetahuan penutur asli (native speaker) terhadap data leksikon yang “eksis” di bidang persawahan di Bali. Selain itu, peneliti mengelompokkan leksikon-leksikon itu berdasarkan kategori sintaksis. Penutur yang diikutsertakan dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam tiga rentang usia, yakni penutur berusia kurang dari (<) 30 tahun, penutur berusia 30 sampai 50 tahun, dan penutur di atas (>) 50 tahun.

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang artikel ini, pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah apakah yang dimaksud dengan erosi leksikon? Apakah 2 faktor yang sudah disebutkan di atas merupakan faktor tunggal yang menyebabkan leksikon pada areal persawahan ini tidak lagi eksis?

Erosi Leksikon
Pada artikel Erosi Leksikon Bidang Persawahan Di Bali: Suatu Kajian Ekolinguistik, pengertian erosi leksikon tidak dibahas begitu jelas. Akan tetapi, dilihat dari latar belakang penulisan artikel, saya dapat memberikan kesimpulan bahwa erosi leksikon adalah gejala memudarnya atau terkikisnya pengetahuan tentang leksikon dari kehidupan penutur sehingga bahasa yang dipakai oleh kelompok penutur bahasa tersebut berpotensi mengalami pergeseran. Belum banyak ahli yang menggunakan istilah ini (erosi), tetapi mereka cenderung menggunakan istilah pergeseran yang dimaknai sebagai suatu keadaan di mana bahasa lokal setempat mengalami perubahan baik pada tataran leksikal maupun gramatikal. Perubahan lingkungan kebahasaan disebabkan oleh dominasi hegemoni sejumlah faktor, yaitu faktor sosiolinguistis, psikologis, demografis, dan ekonomik (Gunarwan, 2006: 102).
Faktor sosiolinguistis adalah adanya bilingualisme (atau multilingualisme jika lebih dari dua bahasa terlibat), faktor psikologis dipengaruhi pandangan para anggota masyarakat bahasa yang bersangkutan mengenai bahasa mereka di dalam konstelasi (tatanan) bahasa-bahasa yang ada di dalam masyarakat (kebanggaan dan kesetiaan yang tinggi terhadap bahasa), faktor demografis berhubungan dengan jumlah penutur yang kecil, dan faktor ekonomik dikaitkan dengan pemilihan bahasa menuju pekerjaan yang lebih menguntungkan.

Faktor-Faktor Penyebab Erosi Bahasa
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya erosi terhadap bahasa pada bidang persawahan di Bali, antara lain sebagai berikut.

Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan mengubah fungsi suatu lahan yang aktif dipakai untuk kegiatan bercocok tanam, misalnya, menjadi lahan pembangunan pemukiman (rumah-rumah/atau gedung-gedung). Pengalihfungsian lahan semacam ini cenderung membawa akibat tererosinya leksikon-leksikon yang tumbuh dan berkembang serta diapaki pada lahan yang difungsikan untuk bercocok tanam karena tempat leksikon itu tumbuh telah berubah (Erawati, dalam Lingua: Jurnal Penelitian Linguistik volume 2, nomor 2, Agustus 2013).
Terjadinya erosi leksikon bukan karena faktor ketiadaan penutur, tetapi semata karena perubahan lingkungan, sawah sebagai tempat bertumbuhnya leksikon-leksikon dialihfungsikan. Perubahan perilaku masyarakat di Bali dalam bertani dan beralih pekerjaan, misalnya pengalihan lahan sawah menjadi perumahan, perkebunan menjadi vila, dan lain sebagainya menjadi faktor penting terjadinya erosi leksikon.

Kemajuan Bidang Ekonomi
Faktor ekonomi dikaitkan dengan pemilihan bahasa menuju pekerjaan yang lebih menguntungkan. Misalnya, tuntutan dunia kerja saat ini yang selalu menjadi syarat dalam merekrut tenaga kerja adalah kemampuan berkomunikasi yang baik. Sebagai orang Indonesia, kita dituntut terampil menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi secara baik dan benar. Kemampuan kita dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia merupakan peluang untuk dapat memperoleh pekerjaan yang menjanjikan. Dengan demikian, kemajuan bidang ekonomi membawa implikasi langsung terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Perkembangan Teknologi
Perkembanagan teknologi juga berandil dalam masalah tererosinya bahasa di bidang persawahan di Bali terutama teknologi untuk bidang perswahan itu sendiri. Perkembangan teknologi memberikan perubahan pola panen dan alat yang digunakan untuk mengolah sawah. Misalnya, kehadiran mesin potong padi sampai menghasilkan gabah. Akibanya, alat tradisional yang dipakai sebelumnya tidak lagi digunakan sehingga leksikon untuk alat tradisional yang dipakai memotong padi makin terkikis dan cenderung hilang sehingga muncul leksikon baru untuk menggantikannya.

Ekosistem Sawah
Hilangnya beberapa populasi binatang dari eksosistem sawah. Punahnya binatang ini disebabkan oleh perubahan pola tanam padi dan penggunaan zat kimia pembasmi serangga yang mengganggu pertumbuhan padi. Selain itu, dengan dialihfungsikannya lahan persawahan menjadi pemukiman, maka segala jenis binatang (tikus, ular sawah, belut, keong, katak, dan lain sebagainya) yang menjadikan sawah sebabai habitat perlahan mengalamai kepunahan. Kepunahan binatang-binatang ini berdampak pada hilangnya leksikon yang dipakai untuk menyebut nama binatang-binatang tersebut.

Hasil penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Erawati ini menghasilkan pengelompokkan kata berdasarkan kategori sintaksis. Pengelompokan itu terdiri atas nominal (nomina kongkret, nomina yang bersifat magis, dan nomina bilangan) dan verbal. Di samping itu, akan dilengkapi dengan beberapa leksikon metafora. Sampel dari penelitian ini adalah 30 orang responden berdasarkan kriteria umur. Hasil penelitian menunjukan data pengetahuan penutur mengenai leksikon persawahan berdasarkan kategori-kategori yang ditetapkan peneliti terhadap penutur asli (native speaker) berusia kurang dari 30 tahun, 84% tidak pernah mengetahui leksikon yang menjadi data, usia 30 sampai 50 tahun, 50% pernah mendengar, dan penutur bersuia di atas 50 tahun, 86% pernah mendengar dan mengetahui.

Simpulan
Berdasarkan analisis di atas dapat dikatakan bahwa bahasa mengalami perubahan apabila ekologi yang menunjangnya berubah pula. Banyak ditemukan leksikon-leksikon yang berkaitan dengan persawahan cenderung tidak pernah digunakan dan akhirnya hilang. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat dikatakan, bahwa kadar ketidaktahuan generasi muda terhadap leksikon-leksikon bidang persawahan berada pada 80% ke atas tidak mengetahuinya dan kecenderungan punah. Demikian pula dengan adanya kemajuan zaman dan kemajuan teknologi bahasa Bali banyak yang tergantikan oleh leksikon-leksikon baru. Di satu sisi, ada kata-kata/leksikon yang tererosi, kemudian menghilang dan di sisi lain tumbuh leksikon pengganti.

Daftar Pustaka
Al-Gayoni, Yusradi Usman. 2010. "Campur Alih Bahasa Gayo". www.theglobejournal.com (2 April 2010).

--------------------------------------- "Pengajaran Bahasa Berbasis Budaya". www.theglobejournal.com (20 Pebruari 2010).

--------------------------------------- "Serial Petatah-Petitih Gayo".
http://kenigayo.wordpress.com/2010/02/22/serial-petatah-petitih-gayo/ (22 Februari 2010).

--------------------------------------- "Penyusutan Tutur dalam Masyarakat Gayo: Pendekatan Ekolinguistik (tesis). Medan: Sekolah Pascasarjana USU.

Haugen, Einar. 1972. The Ecology of Language. California: Sanford University Press.

Mbete, Aron Meko. 2009. "Selayang Pandang Tentang Ekolinguistik: Perspektif Kelinguistikan Yang Prospektif". Bahan Untuk Berbagi Pengalaman Kelinguistikan Dalam Matrikulasi Program Magister Linguistik Program Pasacasarjana Universitas Udayana, 12 Agustus 2009.

Mufwene, Salikoko S. 2001. The Ecology of Language Evolution. Cambridge: Cambridge University Press.

Odum, Eugene P. 1996.Dasar-Dasar Ekologi. (edisi terjemahan oleh Ir. Tjahjono Samingan, M. Sc.dari buku asli berjudul Fundamentals of EcologythirdEdition. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Susilo, Rachmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.



===========
Author:
ariesrutung95

Cara Mengonfigurasi Access Point TPLINK TL-WA901ND

Pada tutorial ini kita akan sama-sama belajar (mengenal dan mengonfigurasi) perangkat access point (selanjutnya disingkat AP). Manfaat dari AP adalah untuk menyebarkan dan/atau menerima sinyal wireless, sehingga perangkat-perangkat yang mendukung wireless dapat saling terhubung dalam satu jaringan. Dengan menggunakan perangkat ini kita dimungkinkan untuk memperluas/memperkuat jangkauan pancaran sinyal wireless, dapat menangkap jaringan wireless yang disebarkan oleh perangkat lain, atau hanya menyebarkan sinyal wireless, dan lain-lain.
Pada dasarnya, untuk mengonfigurasi setiap perangkat AP, langkah-langkah awal yang dilakukan hampir sama, tergantung tujuan dikonfigurasikannya perangkat tersebut. Bagi pemula, kehadiran artikel ini diharapkan dapat membantu memberikan pencerahan, pemahaman atau mungkin dapat mempraktikkannya sendiri. Berikut ini akan dijelaskan langkah demi-langkah Cara Mengonfigurasi Access Point TPLINK TL-WA901ND dengan berbagai mode.
  1. Hubungkan PC atau laptop dengan access point menggunakan kabel LAN yang sudah disediakan dalam produk access point (biasanya straight)
  2. Buka salah satu browser (semisal google chrome) dan akses alamat IP default AP TPLINK 192.168.0.254 sehingga terbuka jendela login. Username dan password defaultnya adalah admin/admin.
  3. Setelah terbuka/berhasil login, kita akan diarahkan pada langkap selanjutnya yaitu Quick Setup. Pada jendela yang muncul, klik next.
  4. Jika kita ingin mengubah akun yang dipakai untuk login, pada pilihan change the login account pilih Yes. Kolom old user name dan old password diisi dengan nama pengguna dan kata sandi lama, sedangkan kolom new user name, new password, dan comfirm new password diisi dengan user name dan password baru. Jika selesai, klik next atau selanjutnya. Tetapi jika kita tidak mengubah akun masuknya, langsung klik next saja
  5. Selanjutnya, kita masuk pada pilihan mode. Lihat gambar di bawah ini!
    Terdapat beberapa pilihan pada pilihan mode diantaranya (1) Access Point. Mode ini digunakan apabila kita akan mengubah jaringan kabel ke jaringan WiFi. Misalnya, di ruangan A terdapat modem indihome, maka kita menggunakan fitur accsess point  ini semata-mata sebagai titik untuk memancarkan sinyal WiFi;
    (2) Repeater (Range Extender), digunakan apabila kita ingin memperluas atau memperpanjang area jangkauan sebaran sinyal WiFi yang tidak mampu dijangkau oleh AP lain. Jadi topologinya adalah, AP ruangan A jika tidak dapat diakses dari ruangan B, maka kita akan menambahkan satu AP lagi sebagai penguat signal agar jangkauannya mampu diakses oleh ruangan B;
    (3) Bridge with AP, digunakan apabila satu perangkat menyebarkan sinyal WiFi dan kita ingin menangkap signal WiFi tersebut lalu menyebarkannya kembali dengan nama berbeda;
    (4) Client, digunakan hampir sama dengan mode Bridge with AP, tetapi pada mode ini sinyal tidak disebarkan lagi. Mode ini dipakai hanya untuk menangkap signal. Jika sebuah perangkat AP menggunakan mode ini, maka ia hendak memfungsikan port LAN AP untuk disambungkan ke perangkat lain, seperti komputer yang tidak memiliki WiFi card;
     
    (5) Multi SSID, digunakan untuk menjadikan AP sebagai penyebar banyak signal WiFi dengan nama dan jenis keamanan yang berbeda. Jadi, pada satu perangkat dimungkinkan untuk menyebarkan sinyal WiFi lebih dari satu.
  6. Pada artikel ini, kita hanya akan berfokus pada satu mode saja yaitu mode Bridge with AP, maka langkah selanjutnya adalah memilih mode Bridge with AP. Jika sudah selesai, klik next.
  7. Pada langkah 7, perangkat akan mendeteksi sinyal-sinyal WiFi yang tersebar disekitarnya, sehingga hasilnya akan seperti gambar di bawah ini. 
  8. Jaringan WiFi yang akan digunakan adalah wicom_opis. Selanjutnya, klik connect sehingga terbuka jendela seperti di bawah ini.
    Pada pilihan Bridge with AP mode Settings: SSID, MAC address, WDS Mode akan secara otomatis terisi. Yang perlu kita ubah adalah kolom wireless Security Mode menjadi WPA=PSK/WPA2-PSK(Recommended). Selanjutnya, pada pilihan Local Wireless Setting, isikan SSID, pilih wireless security mode-nya, dan isikan password sesuai dengan kebutuhan. Jika sudah selesai, jangan lupa klik next.
  9. Langkah selanjutnya adalah mengatur pengaturan jaringan perangkat, bagaiman perangkat akan mendapatkann IP (manual (static) atau otomatis (DHCP). Jika kita memilih static IP, maka IP-nya kita tentukan sendiri pada kolom IP Address dan Subnet mask. Kita juga dapat mengaktifkan DHCP server pada perangkat agar semua perangkat yang terhubung dengan AP ini nantyinya memperoleh IP secara otomatis. Sedangkan Smart IP (DHCP) dipilih apabila kita ingin mendapatkan IP address secara otomatis dari perangkat yang terhubung di atasnya. Jika sudah selesai, klik next untuk melanjutkan.
  10. Sampai di sini, tahap konfigurasi AP telah selesai. Lihat gambar di bawah ini. Untuk menyimpan konfigurasi, klik finish. Anda juga dapat mem-backup pengaturan yang sudah anda lakukan agar jika ada pernagkat yang sama hendak dikonfigurasi, anda cukup meng-import file yang sudah kita simpan tadi melalui menu System tools – backup & Restore.



==========
Author:
ariesrutung95

Perbedaan semantik dengan pragmatik

Pragmatik adalah studi tentang makna dalam kaitannya dengan konteks ujaran. Pragmatik muncul sebagai usaha mengatasi kebuntuan semantik dalam menginterpretasikan makna kalimat. Kempson (1997) mengemukakan bahwa teori semantik, baik semantik kondisi kebenaran maupun semantik tindak tutur, masih terbatas kemampuannya untuk menjelaskan fenomena kebahasaan. Kelancaran dalam berkomunikasi ditunjang banyak hal, salah satunya adalah dengan ditaatinya prinsip-prinsip percakapan. Apabila antara penutur dan petutur telah memahami tujuan percakapan maka tujuan percakapan itu akan tercapai dengan lancar.
Istilah pragmatik dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan pemahaman makna kata-kata dalam situasi tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang makna yang dikehendaki oleh penutur disebut pragmatik. Pragmatik juga mengupas makna tuturan dan makna terikat konteks, serta pendekatan analitis dalam linguistik berupa pertimbangan konteks dalam studi bahasa. Konteks mempunyai pengaruh yang cukup kuat pada penafsiran makna kata-kata yang diucapkan oleh penutur. Stubs (Cahyono 1995: 215) mengemukakan bahwa unsur-unsur konteks itu ialah pembicara, pendengar, pesan, latar, atau situasi, saluran, dan kode.

Pragmatik lahir sebagai usaha untuk mengatasi kebutuhan samntik dalam menafsirkan sebuah makna ujaran dalam kalimat. Pada dasarnya antara semantik dan pragmatik sama saja karena berhubungan dengan makna. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup di dalam teori semantik, makna yang ditelaah pragmatik adalah makna setelah dikaji oleh semantik. Semantik adalah telaah makna kalimat (sentences) sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Perbedaan pragmatik dan semantik juga dapat dilihat dari bidang pengkajiannya. Bidang kajian pragmatik adalah tentang makna dalam situasi ujar antara penutur dan petutur, sedangkan kajian semantik adalah makna-makna yang berkenaan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur, dan petuturnya.

Dalam pragmatik ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Dalam pemakaian bahasa, orang perlu mempertimbangkan adanya prinsip-prinsip pragmatik seperti prinsip kerjasama dan prinsip sopan santun. Prinsip kerjasama mempunyai 4 maksim yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Maksim kuantitas mengatur agar penutur memberikan informasi seperlunya dalam berbicara, yakni tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari yang diperlukan. Maksim kualitas mengatur agar si penutur mengungkapkan atau mengemukakan hal-hal yang benar. Maksim hubungan mengatur agar mengemukakan hal-hal yang relevan dengan topik dan tujuan pembicaraan. Maksim cara mengemukakan aturan agar penutur menyampaikan sesuatu secara jelas dan tidak membingungkan.


Referensi:
Aliah, Yoce. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif. Bandung: Reflika Aditama

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA