Relasi Makna Denotasi dengan Makna Leksikal

Bahasa digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu,  makna bahasa pun menjadi bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai jenis makna telah dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai buku linguistik atau semantik, semisal Gorys Keraf, Abdul Chael, dan lain sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi makna leksikal, makna denotasi, makna konotasi, serta hubungan denotasi dengan leksikal dan konotasi dengan pragmatik.

Makna leksikal
Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya, atau makna yang ada di dalam kamus. Misalnya, leksem ‘mahasiswa’ memiliki makna leksikal ‘orang yang belajar di perguruan tinggi`, ‘dosen’ bermakna leksikal ‘tenaga pengajar pada perguruan tinggi’.

Makna Denotasi
Makna denotasi adalah makna yang jelas atau makna yang sebenarnya. Dalam ilmu bahasa, makna denotasi merupakan apa yang dijelaskan di dalam kamus (Erdman dalam Janich, 2002: 147). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Denotasi adalah makna asli, makna asal atau makna yang sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata kurus bermakna denotatif yang sama artinya dengan ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal, bukan langsing’.

Makna Konotasi
Konotasi merupakan perubahan nilai arti kata yang terjadi akibat pendengar mengartikan kata dengan memakai perasaannya. Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya (Keraf, 2008: 89-108).

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata bunga seperti contoh di atas, jika dikatakan “Si Ida adalah bunga kampung kami”, ternyata makna bunga tak sama lagi dengan makna semula. Sifat bunga yang indah itu dipindahkan kepada si Ida yang cantik. Dengan kata lain, orang lain melukiskan kecantikan si ida yang bak bunga.

Makna Leksikal dan Makna Denotasi
Berdasarkan definisi masing-masing makna di atas, saya dapat berasumsi bahwa antara makna leksikal dan makna denotatif itu sama. Jika keduanya memiliki arti ‘makna yang sebenarnya atau makna yang didasarkan pada kamus’, maka asumsi saya dapat dianggap benar. Yang membedakan keduanya adalah konteks pemakaiannya seperti yang sudah pernah saya singgung di pembahasan terdahulu. Makna denotasi akan dianggap denotasi apabila konteks pemakaiannya sesuai. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kata rajin ditujukan kepada individu yang benar-benar rajin, maka kata rajin mempunyai makna denotasi, karena penggunaan kata itu sesuai dengan realitas, sesuai dengan yang dilihat atau diamati. Akan berbeda jika kata rajin ditunjukan pada orang yang malas kuliah. Atas dasar itu, maka kata rajin bermakna konotasi karena tidak sesuai dengan konteks situasi dan mengandung nilai rasa di dalamnya.

Makna Konotasi dan Pragmatik
Telaah makna konotasi sama halnya dengan kita mencari tahu tentang pragmatik karena pragmatik berusaha mencari tahu makna dibalik tuturan. Akan tetapi, keduanya tetap saja memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling nampak yakni makna konotasi terdapat di dalam bidang ilmu semantik, sedangkan pragmatik merupakan cabang semiotika yang juga salah satunya adalah semantik. Anda dapat melihat perbedaan semantik dan pragmatik DI SINI.


Referensi
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1986. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Lutfi Ma’luf. 1982. Kamus Al- Munjid. Darul Masyrik. Beirut : Libanon
Djajasudarma, T. Fatimah. 1999. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandumg: PT Refika Aditama.


==========
Author:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA