Perbedaan semantik dengan pragmatik

Pragmatik adalah studi tentang makna dalam kaitannya dengan konteks ujaran. Pragmatik muncul sebagai usaha mengatasi kebuntuan semantik dalam menginterpretasikan makna kalimat. Kempson (1997) mengemukakan bahwa teori semantik, baik semantik kondisi kebenaran maupun semantik tindak tutur, masih terbatas kemampuannya untuk menjelaskan fenomena kebahasaan. Kelancaran dalam berkomunikasi ditunjang banyak hal, salah satunya adalah dengan ditaatinya prinsip-prinsip percakapan. Apabila antara penutur dan petutur telah memahami tujuan percakapan maka tujuan percakapan itu akan tercapai dengan lancar.
Istilah pragmatik dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan pemahaman makna kata-kata dalam situasi tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang makna yang dikehendaki oleh penutur disebut pragmatik. Pragmatik juga mengupas makna tuturan dan makna terikat konteks, serta pendekatan analitis dalam linguistik berupa pertimbangan konteks dalam studi bahasa. Konteks mempunyai pengaruh yang cukup kuat pada penafsiran makna kata-kata yang diucapkan oleh penutur. Stubs (Cahyono 1995: 215) mengemukakan bahwa unsur-unsur konteks itu ialah pembicara, pendengar, pesan, latar, atau situasi, saluran, dan kode.

Pragmatik lahir sebagai usaha untuk mengatasi kebutuhan samntik dalam menafsirkan sebuah makna ujaran dalam kalimat. Pada dasarnya antara semantik dan pragmatik sama saja karena berhubungan dengan makna. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup di dalam teori semantik, makna yang ditelaah pragmatik adalah makna setelah dikaji oleh semantik. Semantik adalah telaah makna kalimat (sentences) sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Perbedaan pragmatik dan semantik juga dapat dilihat dari bidang pengkajiannya. Bidang kajian pragmatik adalah tentang makna dalam situasi ujar antara penutur dan petutur, sedangkan kajian semantik adalah makna-makna yang berkenaan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur, dan petuturnya.

Dalam pragmatik ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Dalam pemakaian bahasa, orang perlu mempertimbangkan adanya prinsip-prinsip pragmatik seperti prinsip kerjasama dan prinsip sopan santun. Prinsip kerjasama mempunyai 4 maksim yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Maksim kuantitas mengatur agar penutur memberikan informasi seperlunya dalam berbicara, yakni tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang dari yang diperlukan. Maksim kualitas mengatur agar si penutur mengungkapkan atau mengemukakan hal-hal yang benar. Maksim hubungan mengatur agar mengemukakan hal-hal yang relevan dengan topik dan tujuan pembicaraan. Maksim cara mengemukakan aturan agar penutur menyampaikan sesuatu secara jelas dan tidak membingungkan.


Referensi:
Aliah, Yoce. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif. Bandung: Reflika Aditama

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA