Bibit Busuk Republik | Anak Pantai

Bibit Busuk Republik

Indonesia, negeri yang dihuni manusia-manusia berwatak majemuk. Pemerhati urusan akhirat, koruptor, fakir miskin, penguasa, orang-orang terlantar, civitas akademika, semuanya menghuni Indonesia dan dipelihara oleh negara. Memelihara manusia-manusia yang berbudi baik, barangkali sudah lazim di negeri ini. Akan tetapi, yang tidak lazim adalah membiarkan para pembuat maksiat tumbuh subur dan tetap berbangga diri menikmati kekuasaan. Mereka yang berbudi, kendati tak pernah menduduki bangku sekolah dan mengenyam pendidikan tinggi, hatinya tajam dan mampu menilai mana yang beretika dan mana yang tercela. Namun, mata para petinggi negeri seolah-olah sulit menemukan kontras itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.

Ketidaklaziman itu menjadi tanda tanya banyak orang hari-hari ini. Bibit dan pupuk jenis apa yang dipakai negara untuk menghasilkan dan menumbuhkan para elite yang sebagian besar kepentingannya beorientasi pada dompetnya sendiri. Tentu saja tidak semua, tetapi masih ada yang bermental bejat. Lalu siapa yang mengantar mereka kepada kursi kekuasaan, bukankah kita yang disebut rakyat?

Mata publik dibuat buta dan dalam keadaan seperti ini pejabat menyodori proposal yang berisi janji-janji. Semunya dibaluri retorika yang berlebih nan hampa makna dan tidak sempat diuji karena percakapan yang dibangun hanya searah. Dalil yang berlaku  adalah boleh menganggut, membantah dan memeriksa dilarang. Akibatnya, semua janji itu hanya  dapat didengar dan tidak sempat dipilah dan diuji.

Oleh karena itu, elite yang dihasilkan melalui bibit jenis ini bukanlah elite dalam pengertian harfiah kata itu. Betul, mereka adalah pilihan, tetapi pilihan terbaik dari yang terburuk. Mereka yang tumbuh subur oleh karena pupuk buatan dan bukan pupuk alam hanya akan menikmati kefanaan. Itulah problem kita saat ini yang barangkali diangkut dari masa lalu dan diseret masuk ke keadaan sekarang. Mereka yang dipercaya untuk menjaga amanah berbalik menjadi penagih. Mereka yang berdalil berkedudukan sama di hadapan hukum, membuat tukar tambah agar yang lain tetap merayap.

Sekarang, mereka tampak tersenyum lebar di layar kaca, berbahagia mengenakan rompi orange KPK. Semunya diperlihatkan kepada publik melalui kasus-kasus yang satau per satu menyeret pejabat publik. Mudah-mudahan, semakin maraknya pengakapan para koruptor (OTT), negeri ini akan kembali dihuni oleh pemimpin yang amanah, pemimpin yang mementingkan kepentingan umum, peka terhadap teriakan-teriakan minta tolong warga negara yang tak bertahta, dan benar-benar menjadi penyambung lidah rakyat, bukan juru bicara gerombolan mafia.



==========
Author:
ariesrutung95

1 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA