Profil Pendidikan

Saya salah satu orang beruntung dalam keluraga yang mendapat kesempatan untuk bersekolah. Kakak sulung saya hanya diberi kesempatan sampai pada jenjang SLTA. Kakak, setelah yang sulung, hanya sampai pendidikan dasar. Kakak  yang kembar, keduanya hanya diberi kesempatan sampai pada pendidkan dasar. Adalah sebuah kesempatan yang begitu besar bagi saya untuk tetap belajar pada intansi pendidikan. Meskipun faktanya, belajar itu sendiri tidak harus berada di lingkungan sekolah atau instansi lain yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Berikut ini saya jelaskan sedikit tantang perjalanan pendidikan saya.

 Saya menempuh pendidikan dasar pada SD Inpres Borik tahun 2001 dan berhasil menamatkan diri di tahun 2007 setelah 6 tahun berjuang. Tahun 2008, dengan terpaksa saya mengistirahatkan diri karena ekonomi keluarga tidak mampu membiayai studi ke tingkat pertama. Di pertengahan 2009, saya diberi kesemepatan oleh kakak tertua dalam keluarga untuk mealanjutkan pendidikan di ibukota Kabupaten Manggarai, Ruteng. Di sana saya didaftakan di sekolah Berstandar Nasional (katanya), SMP Negeri 2 Langke Rembong. Kesepatan berharga ini berhasil saya manfaatkan dengan baik, sehingga di tahun 2012, saya dinyatakan lulus oleh instansi pendidikan terkait.

Setelah lulus SMP, keluarga berdalil tidak lagi mampu untuk meneruskan sekolah saya. Kendati berat, kenyataan itu harus diterima dan saya sendiri tidak bisa membantak dalil itu. Saya sangat merasakan pahitnya menjadi orang yang hidupnya berkekurangan secara materi. Karena itu, bekerja dan menganggur adalah pilihan yang lazim bagi orang seperti saya, anak-anak putus sekolah, atau mereka yang sekolahnya terbengkalai karena orang tua tidak mampu membiayai pendidikannya. Di sisi lain, mengganggur akan menjadi lebih mulia bagi seseorang apabila orang tua tidak dibebankan dengan biaya sekolah anak. Hal itu saya alami.

Setelah setahun menganggur, kakak sulung memberi tawaran untuk sekolah lagi. Di pertengahan 2013, saya didaftarkan di salah satu SLTA di Manokwari, Papua Barat yakni SMK Negeri 2 Manokwari atau yang lazim disebut STM. Loh, kok tiba-tiba di Papua Barat saja? Jawabannya panjang. Di STM, saya memilih Jurursan Teknik Komputer dan Jaringa. Setelah 3 tahun mengenyam pendidikan, di bulan Mei 2016 saya berhasil menamatkan diri dan dinyatakan layak untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, yang ada di benak saya ketika pengumuman lulus adalah bekerja. Sebab, melanjutkan pendidikan (kuliah) bukanlah hal mudah. Persoalan biaya (ekonomi) terutama. Beruntung, saya diberi kesempatan oleh kakak saya untuk kuliah. Kini, saya sedang menempuh pendidikan tinggi disalah satu universitas di Papua Barat.


=========
Author:
ariesrutung

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA