Sebuah Pembicaraan Tentang Novel Kerumunan Terakhir: Okky Madasari | Anak Pantai

Sebuah Pembicaraan Tentang Novel Kerumunan Terakhir: Okky Madasari

Kerumunan Terakhir atau dalam versi bahasa Inggris “Last Crowd” adalah salah satu novel yang berhasil mengikat tubuhkan pada sebuah kursi plastik dan memaksa mataku menatap layar 23 inci selama belasan jam. Kenikmatan ceritanya menyita waktuku kurang-lebih 13 jam (membaca sambil ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh) di depan komputer dan barangkali sisanya hanya mondar-mandir ke kamar mandi, buang hajat. Selama itu pula, aku tak menghiraukan cerita yang dibangun manusia-manusia dan dunia sekitarku. Sungguh, aku larut dalam emosi yang dipamerkan melalui cerita. Bahkan, pacarku yang menjengukku sore itu takku hiraukan. Untungnya, dia mengerti setelah kuceritakan bahwa aku sedang sibuk menyelesaikan kisah yang dibangun dengan kata-kata yang penuh keindahan itu. Sembari kubiarkan ia sendiri dengan HP-nya yang penuh dengan games (tentu saja bukan games yang aku sukai), aku sibuk pelototi setiap kalimat dalam cerita itu. Tak jarang, aku cekikikan ketika kudapati kelucuan di tengah cerita yang kubaca. Beberapa kali pacarku heran dengan tingkahku sebelum akhirnya lelah dengan seluruh games yang ter-install pada HP-nya dan pamit pulang tanpa kuantar. Memang tak ingin kuantar karena dia pun tak memintanya.

Hhmm..... Pacar koyok ngono aku iki.... Tapi aku percaya, jika ia ada di posisiku saat itu, perlakuan yang sama jelas kudapatkan. Kebetulan, ia adalah orang yang suka membaca novel dalam bentuk PDF dan tak pernah kutahu apakah ia benar-benar mengingat setiap bagian cerita yang ia baca. I don’t know. Aku tidak ingin meraba-raba pikirannya selain yang lain.

Sorry kalau aku mengulas novel sebaik ini dengan gaya dan bahasa terbasi yang aku punya.
Novel setebal 357 halaman itu (dalam PDF) memaksaku berjaga nyaris sepanjang malam dan mampu menyelesaikannya hingga pukul 05.00. Lebih dari 3 gelas kopi sudah kuteguk selama aku sibuk memfokuskan seluruh perhatianku pada novel tersebut. Sungguh ceritanya menarik. Sebab jika tidak demikian, aku takkan tega menyiksa tubuhku sendiri dan duduk selama belasan jam hanya untuk mengundang ambeien, tanpa air putih pula. Semakin lama membaca, semakin dalam aku merasakan setiap scene yang membangun cerita tersebut. Let’s get it done barangkali niat yang aku tunjukan pada diriku agar novel tersebut bisa kelar kubaca.

Sebetulnya, novel ini sudah sejak lama kuincar. Kala itu, tanpa sengaja di sebuah toko daring yang kuakses dari komputerku sedang mengiklankan novel serupa, sebuah novel yang ditulis oleh Okky Madasari. Setelah kubaca deskripsinya, aku merasa tertarik untuk membelinya. Kebetulan, aku juga sering belanja buku di toko-toko daring. Sebelum memutuskan untuk memesan, aku lebih dulu mencari sinopsisnya. Sebagai manusia kekinian, manusia digital, manusia yang melekat dengan jaringan, komputer, dan HP, manusia yang telah masuk ke Dunia Baru, tentu saja aku selalu lebih dahulu mencari fail PDF dari novel yang kuidamkan di mbahku. Sebab, manusia seperti diriku tak pernah sudi meninggalkan sesuatu yang gratis dan beralih mengakses sesuatu yang dibayar. Apalagi, kualitas yang ditawakan keduanya sama dan tidak ada yang cacat.

Tentu saja, sebuah fail PDF dari novel yang kucari itu telah disebarkan ke internet. Lagi-lagi, Dunia Baru menyediakan segalanya, segala yang kita inginkan. Niat untuk membeli novel di toko daring yang kubaca telah kukubur dalam-dalam. Saatnya membaca apa yang tampak di depan layar. Boleh jadi, yang kau butuhkan hanya segalas kopi untuk menemanimu melewati malam.

Novel yang begitu sempurna. Kisah broken home, ayah yang bejat, perselingkuhan, gelar yang dijadikan topeng, buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, balas dendam, asmara, mimpi akan masa depan, pekerjaan, jabatan, putus sekolah, dunia maya sebagai Dunia Baru dan hunian baru, demonstrasi, penjara, dan masih banyak konflik lain yang berusaha dibangun dan diangkat oleh novel Kerumunan Terakhir. Seluruh atau sepenuhnya isi dalam novel ini akan dimengerti bila dibaca dengan saksama.

Ending yang sedikit mengecewakan memaksaksaku mengerutkan dahi dan menarik setiap sarafku untuk tidak percaya bahwa akan seperti itu jadinya. Akhir kisahnya tidak terlalu menarik, tetapi itulah cara penulis memulihkan segala ketegangan, ia memilih alur yang kadang-kadang tak disukai orang. Label yang membuatnya berbeda. Sungguh tak bisa ditebak.


Baca Juga:
Sinopsis Novel Kerumunan Terakhir


==========
Author:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA